
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Sebagai mahasiswa, kita sudah tidak asing lagi dengan tugas kelompok. Dari sekolah dasar hingga menginjak perguruan tinggi, tampaknya kita selalu dipertemukan dengan metode pembelajaran tersebut. Belajar dengan cara ini sebetulnya dirancang untuk melatih kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, dan berpikir kritis. Namun, pada kenyataannya, dinamika kerja kelompok tidak selalu berjalan sesuai yang diharapkan.
Salah satu hal yang menjadi tantangan yaitu ketika salah satu anggota bertindak kurang aktif atau bahkan tidak berkontribusi sama sekali. Hal ini tentu menimbulkan adanya ketimpangan peran dalam mengerjakan tugas kelompok. Akhirnya, efektivitas pembelajaran hingga hasil akhir tugas pun ikut menurun.
Melalui sebuah riset terhadap mahasiswa UIN Sumatera Utara meliputi lima puluh empat mahasiswa aktif dari berbagai fakultas, Wasiyem, dkk. (2025) menyebutkan bahwa sebanyak 88,9% responden mengaku pernah memiliki teman sekelompok yang pasif atau malas berkontribusi.
Di sisi lain, sebanyak 53,7% responden mengaku sebagai individu yang cukup aktif. Bahkan 35,2% responden mengaku sangat aktif dalam mengerjakan tugas kelompok. Hal ini menunjukkan terjadinya suatu ketimpangan kontribusi antar anggota. Akhirnya, terdapat dua persepsi yang berbeda, di mana beberapa anggota kelompok merasa adanya ketidakseimbangan, namun yang lainnya merasa sudah mengerjakan dengan maksimal.
Ketika Sebuah Kebiasaan Menjadi Beban
Timpangnya peran dalam kerja kelompok ini kerap dikaitkan dengan perilaku social loafing atau kemalasan sosial. Dilansir dari Journal Of Social Science Research (2024), social loafing menurut George (1992) merupakan sebuah situasi di mana individu minim berkontribusi ketika anggota lain mengerjakan tugas tersebut. Sementara itu, Myers (2012) menjelaskan bahwa social loafing adalah kebiasaan seseorang untuk menurunkan upayanya dalam suatu tugas kelompok dibandingkan ketika bekerja secara individu.
Masih melansir dari sumber yang sama, beberapa penelitian menunjukkan terjadinya fenomena social loafing dalam kerja sama tim. Sebagai contoh, sebuah studi yang dilakukan oleh Susanto dan Simanjuntak (2025) menemukan sebanyak 83,52% dari 85 mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya menunjukkan kecenderungan sering melakukan perilaku social loafing, bahkan 14,12% mengatakan sangat sering.
Perilaku ini menimbulkan sejumlah dampak negatif baik itu bagi kelompok maupun bagi individu yang menjadi korban perilaku social loafing. Dalam ruang lingkup kelompok, Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran menyebutkan bahwa perbuatan tersebut dapat merusak kerja sama dan menghambat suatu tujuan yang ingin dicapai.
Sedangkan bagi individu lain, perilaku ini menimbulkan beban karena dirinya seolah bertanggung jawab untuk menyelesaikan tugas yang seharusnya dikerjakan bersama. Jurnal oleh Wasiyem, dkk. (2025) menunjukkan bahwa 51,9% responden merasa cukup terbebani, sementara 22,2% merasa sangat terbebani. Tak hanya itu, 66,7% responden bahkan menyatakan bahwa motivasi mereka dalam menyelesaikan tugas kelompok turut menurun. Hal ini membawa kita pada satu pertanyaan, apakah kerja kelompok masih relevan untuk dilakukan?
Memahami Alasan Terjadinya Social Loafing
Berada dalam suatu kelompok dengan anggota yang kurang aktif memang terkadang menimbulkan keinginan untuk menghilangkan tugas kelompok. Namun, perlu diketahui juga bahwa fenomena social loafing pun tidak selalu muncul karena kemalasan individu. Sebab, banyak faktor lainnya yang mempengaruhi terjadinya perilaku ini baik dari dalam diri maupun dari luar.
Dilansir dari Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, menurut George (1992), faktor dalam diri yang sering dikaitkan dengan fenomena ini diantaranya adversity quotient (AQ) atau kemampuan seseorang dalam menghadapi berbagai bentuk kesulitan hidup, big five personality, locus of control internal, serta peran gender dan jenis kelamin. Selain itu, faktor ini juga dipengaruhi oleh dorongan dan kemampuan individu, seperti motivasi berprestasi, kemampuan komunikasi interpersonal, harga diri, efikasi diri, serta kepercayaan diri.
Di samping itu, faktor eksternal yang tak kalah penting adalah kohesivitas kelompok. Ketika kohesivitas atau kekuatan ikatan suatu kelompok tinggi, maka tingkat social loafing seseorang akan semakin rendah, begitupun sebaliknya. Hal ini ditunjukkan oleh penelitian tersebut bahwa kohesivitas memberikan sumbangan efektif sebesar 41% terhadap kemalasan sosial.
Nilai Individu sebagai Jalan Keluar
Maka yang harus dilakukan bukanlah menghapus metodenya, tetapi mencari strategi untuk menemukan jalan keluar dari permasalahan ini. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah penerapan nilai berbasis individu meski tugasnya berkelompok. Alih-alih memberikan nilai yang seragam, dosen atau pengajar perlu menegaskan sejak awal pembagian tugas bahwa nilai yang akan didapatkan tetap berbasis individu.
Cara ini akan mendorong mahasiswa untuk lebih bertanggung jawab dan berkontribusi untuk mengerjakan tugas kelompok. Hal ini sejalan dengan saran yang diberikan oleh Stephanie & Ermida (2015), di mana dosen diharapkan memberikan nilai individual demi berkurangnya perilaku social loafing. Selain itu, Jurnal Multidisiplin Indonesia juga memberikan strategi berupa penggunaan platform manajemen proyek berbasis teknologi untuk merekam kontribusi tiap individu. Upaya ini dilakukan dengan harapan bahwa efektivitas kerjasama dan hasil tugas kelompok mahasiswa akan meningkat
Fresh Crew: Meyliana Sofiyanti/Suaka
Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

