
Oleh: Tasya Augustiya*
FRESH.SUAKAONLINE.COM- Mengalami putus cinta atau perpisahan memang memilukan. Makan tak enak, tidur tak nyenyak, hingga linglung tak karuan. Benar yang dikatakan lagu Kata Pujangga, hidup tanpa cinta bagai taman tak berbunga. Kegiatanmu hanya sibuk mendengarkan lagu galauyang super melankolis seakan sedang menyuarakan betapa tersakitinya kamu.
Keputusan untuk mengakhiri suatu hubungan atau putus cinta memang semenyedihkan itu, merasa hidup seakan berakhir karena tak ada lagi harapan, apalagi alasannya karena pasangan melakukan perselingkuhan. Namun, ternyata ada yang lebih melelahkan daripada itu, yaitu ketika kamu dan si dia awalnya sering berkomunikasi intens, berkencan, tertarik dan terlanjur lengket, tapi tiba-tiba dia tidak sedekat dulu dan kemudian perlahan menghilang tanpa kabar.
Ingat, kamu dan dia hanya hampir, bukan pernah. Hanya hampir jadian dengan menjalin hubungan tanpa status, tapi malah ditinggalkan begitu saja ketika perasaanmu mulai semakin dalam. Apakah Fresh Reader pernah mengalaminya? Sebenernya fenomena apakah itu?
Kalau kamu pernah atau sedang mengalami situasi seperti itu, dengan berat hati, penulis mendiagnosa kalau kamu telah menjadi korban ghosting alias ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Menurut Urban Dictionary, istilah yang popular sejak 2011 itu merupakan perilaku menghilang yang biasanya terjadi pada hubungan romantis dimana salah satu pihak memutuskan segala komunikasi terhadap pasangannya tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
Ghosting Lebih Kejam Daripada Diputuskan
Banyak ahli terapi kesehatan mental menyepakati bahwa ghosting merupakan kejahatan emosional yang menyebabkan orang yang mengalaminya tidak memiliki kesempatan untuk mengetahui alasan sebenarnya seseorang meninggalkannya dan bahkan membuat mereka tidak bisa mengekspresikan emosi sakit yang dialami.
Mau marah, takutnya memang dia sibuk atau sedang ada masalah. Tapi di sisi lain, khawatir kalau-kalau dia sakit parah atau kita telah berbuat salah sehingga dia marah. Situasi inilah yang menghasilkan ambiguitas yang dilematik
Akibatnya, mengutip dari Magdalene, Jennice Villhauer menyebutkan bahwa sakit hati yang dirasakan berkat fenomena ini bisa mengaktifkan saraf sakit yang sama ketika tubuh merasakan sakit fisik.
Vilhauer dalam bukunya yang berjudul Think Forward to Thrive: How to Use the Mind’s Power of Anticipation to Transcend Your Past and Transform Your Life, mengemukakan salah satu aspek paling mengerikan dari ghosting adalah korban tak hanya mempertanyakan tentang hubungan yang dia jalani, tapi juga meragukan dirinya sendiri. Itulah yang menyebabkan ghosting lebih kejam daripada putusnya hubungan atau sakitnya perselingkuhan.
Berdasarkan penuturan beberapa teman yang pernah mengalami ghosting, mereka akan terus bertanya-tanya soal apa kesalahan yang mereka lakukan sehingga pelaku ghosting ini pergi, kenapa mereka tidak mencegah apa yang pelaku lakukan, lalu mempertanyakan apa saja yang sudah diinvestasikan bersama, bahkan parahnya bagi mereka yang self-esteem atau rasa keberhargaan dirinya rendah mereka akan mempertanyakan mengenai nilai dirinya sendiri serta merasa tidak layak dicintai.
“Rasanya seperti kena pukul di lambung. Satu-satunya hal yang lebih parah ketimbang putus adalah menyadari ada seseorang yang menganggap kamu tak layak diputus dengan baik-baik”, begitu kiranya salah satu pernyataan korban ghosting yang tertuang dalam salah satu artikel dalam Psychology Today.
Alasan Pelaku Ghosting
Perilaku ghosting yang dilakukan cenderung variatif. Ada yang setelah melakukan ghosting, ia tidak muncul kembali sama sekali. Ada juga yang meminta maaf beberapa hari setelah melakukan ghosting dengan berbagai alasan.
Beberapa waktu lalu penulis pernah membaca hasil survey yang dilakukan Mojok dimana mereka menjabarkan alasan-alasan pelaku tega meng-ghosting. Diantara alasan-alasannya memang menyebalkan, seperti bosan, menghindar dari konflik, merasa tidak cocok dan takut dia kegeeran karena sudah didekati, serta banyak pula yang menyatakan kalau mereka merasa tidak layak atau takut kalau korban akan merasa tidak nyaman jika dilanjutkan terlalu jauh. Selain itu, trauma masa lalu akan berkomitmen juga kerap menjadi alasan.
Namun pada beberapa kasus, ghosting bisa juga dilakukan ketika pelaku butuh ruang untuk sendiri karena alasan kesibukan pekerjaan atau pelaku tersebut sedang berada di fase complicated dan butuh ketenangan.
Kesimpulan penulis, motif pelaku sebenarnya adalah ingin menghindari ketidaknyamanan emosional dirinya sendiri. Sayangnya, mereka tak memikirkan bagaimana perasaan korban. Ghosting sendiri merupakan bentuk lanjutan dari sikap diam pasangan atau silent treatment dimana menurut Vilhauer juga merupkan kekejaman emosional.
Kepada kamu korban ghosting, kamu tidak sendiri. Ada sedikitnya 25 persen mereka yang juga bernasib sama. Kamu harus memulihkan luka, walaupun untuk mengeringkan luka itu tidak akan mempan hanya dengan meneteskan obat merah seperti ketika lututmu terluka. Tetaplah hiduplah dengan mantra “dia yang menghilang tanpa jejak memang bukan yang terbaik”. Seperti kata lagu BTS, Love Your self.
Sementara untuk kamu yang menjadi hantu dalam hubungan romantismu, bermeditasilah dengan mempertanyakan pada dirimu sendiri “apa yang sebenarnya sedang kamu takutkan?”, Selesaikan apa yang sudah kamu mulai.
Jika memang kamu masih beranggapan dengan menghilang dan membiarkannya sendiri membuat masalah yang kamu alami selesai, sesungguhnya kamu hanya membuat rantai masalahmu semakin panjang. Yuk, belajar mengkomunikasikan apapun yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain namun dengan tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain.
*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Psikologi UIN SGD Bandung yang juga merupakan Kepala Penelitian dan Pengembangan (Litbang) LPM SUAKA 2020

