
Judul Buku : Janji
Penulis : Tere Liye
Penerbit : PT Sabak Grip Nusantara
Tahun Terbit : 2021
Jumlah Halaman : 486 halaman
ISBN : 978-623-97262-0-1
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Pernahkah kita menilai seseorang hanya dari catatan buruknya di masa lalu, tanpa pernah menduga ke mana ujung hidupnya akan berlabuh? Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk mengenal novel Janji karya Tere Liye, lewat sosok Bahar Safar, seorang anak yatim piatu yang dicap nakal, pemabuk, hingga tukang berkelahi sejak remaja.
Menariknya, novel ini tidak dibuka dari awal kehidupan Bahar, melainkan dari tiga santri nakal bernama Baso, Hasan, dan Kahar yang dihukum Buya untuk mencari keberadaan Bahar dan menelusuri kisah hidupnya. Pilihan alur ini menegaskan satu hal sederhana, bahwa hidup manusia tak pernah selesai dinilai hanya dari satu babak saja. Nama Safar yang berarti perjalanan terasa sesuai dengan kehidupan Bahar yang terus mengalami perubahan. Rangkaian perjalanan hidup yang panjang terus berproses, jatuh dan bangun, jauh dari kata tuntas di satu titik waktu.
Bahar sendiri digambarkan sebagai remaja bermasalah yang akhirnya dikeluarkan dari pesantren karena kenakalannya sudah kelewat batas, hingga membakar bangunan pesantren dan membunuh seorang santri di dalamnya. Namun dibalik cap buruk itu, Buya, gurunya, meyakini ada sesuatu yang spesial dalam hati muridnya ini. Keyakinan itulah yang membuat Buya tak sekadar melepas Bahar pergi, tapi membekalinya dengan pusaka yang akan menuntun seluruh sisa hidupnya.
Perjalanan tiga santri mencari Bahar bukan perkara mudah. Mereka menyusuri kota, pertokoan di pertigaan jalan, hingga kerasnya kehidupan di pertambangan liar, demi merangkai kembali serpihan kisah sang mantan santri. Perjalanan inilah yang perlahan mengubah cara pandang ketiganya, bukan hanya soal Bahar, tapi juga soal diri mereka sendiri.
Di titik krusial sebelum dikeluarkan, Bahar menerima lima pusaka dari Buya sebagai syarat kepergiannya. Senantiasa menghormati dan membantu tetangga, melindungi yang lemah dan teraniaya, jujur dan tak pernah mencuri, bersabar atas segala ujian, serta bersedakah, bersedakah, dan bersedekah. Kelima nasihat sederhana inilah yang kelak menjadi pegangan Bahar di setiap tempat yang ia singgahi.
Perjalanan Bahar menggambarkan proses transformasi identitas, dari kebingungan diri yang biasa disebut identity confusion menuju pencapaian identitas yang utuh atau self-actualism yang dibingkai dalam nilai tobat. Prinsip yang dipegang novel ini sejalan dengan gagasan bahwa setiap orang suci punya masa lalu, dan setiap pendosa punya masa depan. Lima pusaka yang diberikan Buya menjadi medium bagi Bahar untuk berdamai dengan dosa-dosanya dan menebusnya lewat tindakan nyata.
Secara psikologis, janji yang diucapkan Bahar di hadapan Buya berfungsi layaknya commitment device, sebuah komitmen eksternal yang membantu seseorang mengendalikan dirinya ketika kontrol internal belum cukup kuat. Setiap kali terjatuh dalam ujian hidup, janji itu bekerja sebagai coping mechanism, cara Bahar memaknai penderitaan sekaligus menahan diri dari keputusasaan. Alih-alih menekan luka batinnya sendirian, ia mengalihkannya menjadi tindakan konkret seperti menolong tetangga, bersabar, dan bersedekah.
Novel ini unggul dalam menghadirkan alur misteri yang membuat pembaca sulit berhenti membalik halaman, sekaligus menanamkan pesan moral tentang konsistensi memegang janji di tengah godaan untuk menyerah. Karakter Bahar dibangun dengan kompleksitas yang manusiawi, tidak hitam-putih, sehingga transformasinya terasa realistis bagi para pembaca.
Meski begitu, beberapa bagian perjalanan Bahar terasa berulang dalam pola jatuh, bertemu ujian, lalu bangkit lagi lewat salah satu pusaka. Pembaca yang terbiasa dengan gaya narasi Tere Liye mungkin bisa menebak arah penyelesaian cerita sebelum benar-benar sampai di halaman akhir. Terlepas dari itu, Janji tetap layak dibaca sebagai renungan tentang bagaimana manusia bisa memperbaiki diri, sepelan apapun langkahnya.
Fresh Crew : Adhiim Hafiidh/Suaka
Editor Fresh : Nabila Rahma Hidayat/Suaka

