
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya” mungkin sudah sering fresh reader dengar bukan? Hal ini mengacu pada adanya kemiripan fisik, perilaku, serta pola pikir antara orang tua dengan anaknya.
Setiap orang tua pasti bangga saat anak mereka berprestasi, apalagi ketika mengetahui bakat dan kemampuan yang dimilikinya berhasil diwarisi oleh sang anak. Maka tak jarang pula sebagian orang tua mendidik keras anaknya agar bisa menjadi yang terbaik dan memenuhi standar ekspektasi mereka.
Segala upaya dilakukan seperti memberikan berbagai macam les private, mengatur pola makan, hingga mengontrol dan membatasi dengan siapa anak bergaul. Beberapa orang tua bahkan ada yang mengatakan bahwa keberhasilan dan prestasi yang diraih oleh anaknya tak lain adalah hasil dari didikannya.
Namun akan berbeda ketika pencapaian anak tak sesuai dengan harapan orang tua, ia akan dimarahi dan disalahkan. Tanpa memikirkan perasaannya, anak dituntut untuk kembali menjadi yang terdepan dengan dalih untuk kebaikannya kelak. Peristiwa dan pola asuh seperti itu disebut dengan Istilah Tiger Parenting.
Mengutip dari bestmom.id, istilah Tiger Parenting diperkenalkan oleh Amy Chua seorang professor di Universitas Yale, Amerika Serikat. Amy memperkenalkan istilah ini dalam bukunya yang berjudul ‘Battle Hymn of the Tiger Mother’ bahwa pola asuh ini berkaitan dengan kendali kuat yang dilakukan oleh orang tua kepada anak dengan menggunakan sifat yang otoriter dan lebih berfokus pada bidang akademik.
Asosiasi Psikologi Amerika (APA) juga menuliskan sebuah ulasan bahwa tiger parenting ini menggabungkan dua pola asuh yang bertentangan, yaitu pola asuh otoriter dan suportif. Pola asuh otoriter ini dipandang sebagai parenting yang negatif, sedangkan pola asuh suportif dipandang sebagai parenting yang positif.
Salah satu kasus tiger parenting yang pernah terjadi beberapa tahun silam di Kanada yaitu kisah Jennifer Pan. Dilansir dari haibunda.com, Pan adalah seorang anak yang berprestasi. Orang tuanya selalu mengontrol kehidupan anaknya dan menuntut Pan untuk selalu jadi yang terbaik dalam segala aspek. Mereka tidak membiarkan Pan memiliki waktu bebas, dia selalu diantar jemput orang tuanya ke sekolah hingga dilarang bicara dengan anak laki-laki.
Sifat orang tuanya yang otoriter, membuat Pan mudah berbohong dan memanipulasi orang-orang sekitarnya. Saat dia gagal masuk Ryerson University karena nilai matematikanya tidak lulus, karena takut kepada orang tuanya Pan kembali berbohong dan memalsukan surat kelulusan. Fakta yang terungkap bahkan Pan sebenarnya tidak pernah lulus SMA.
Apa yang terjadi dalam kasus tersebut sejalan dengan pernyataan dosen sekaligus Praktisi Unit Layanan Psikologi (ULP) Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung, Rika Rahmawati, ia mengatakan bahwa pola asuh tiger parenting bisa menjadi efektif dalam aspek akademik anak. Namun di aspek lainnya seperti mental anak, bisa jadi kurang baik bahkan bisa membuat sang anak tertekan.
“Bisa jadi dia yang diotoriterkan oleh orang tuanya bisa menjadi orang pintar begitu, pasti akademiknya bisa menjulang. Akan sangat menonjol, dia akan menjadi orang sukses secara akademik. Tapi kalau kita lihat dari aspek lainnya, yang namanya tumbuh kembang seorang anak itu kan ga cuman dilihat dari sisi akademik saja. Tidak hanya dilihat dari sisi kognitif ya wawasan, ilmu pengetahuan, prestasi di sekolah, prestasi di kuliah misalnya begitu. Kita lihat juga aspek lainnya apakah dia betul-betul bertumbuh dan berkembang dengan baik sehat mentalnya, mungkinkah dia mengalami hal lainnya terkait dengan cacat pengasuhannya,” ungkapnya saat wawancara via Zoom, Minggu (19/9/2021).
Lalu bagaimana dampak negatif dari pola asuh tiger parenting ini terhadap anak?
Dampak buruk dari pola asuh ini lebih besar daripada manfaat positifnya. Sekalipun anak berhasil di bidang akademiknya, bisa jadi pada aspek lain atau sosial dan emosionalnya tidak berkembang dengan maksimal. Rika menyebutkan beberapa dampak tiger parenting terhadap anak yaitu anak menjadi tidak pandai bergaul atau bersosialisasi, sulit beradaptasi hingga bisa menyebabkan depresi dan frustasi.
Ketika anak sudah merasa frustasi bisa jadi timbul emosi yang dia tidak bisa kendalikan dengan baik. Dia tidak bisa berdamai dengan kegagalannya kemudian munculah agresi atau niat untuk menyebabkan kerusakan fisik atau mental.
“Bisa jadi dia tumbuh menjadi individu yang perfeksionis karena sejak dari awal adalah mindset-nya harus jadi bintang dikelas, tapi ketika dia kecewa dia tidak tahu bagaimana cara mengatasi itu. Sehingga mungkin dia bisa frustasi ya karena misalnya kondisinya dia tidak bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Mungkin dia tidak menjadi nomor satu,” jelasnya.
Karena itulah, APA tidak merekomendasikan orang tua untuk menerapkan tiger parenting kepada anak-anaknya. Pola asuh yang baik bagi anak bisa dengan menerapkan teori dari Diana Baumrind, salah satunya yaitu dengan menerapkan pola asuh demokratis. Adanya komunikasi dua arah antara anak dengan orang tua, melakukan diskusi tentang peraturan di dalam rumah, tidak mengekang dan mengontrol anak.
“Adakalanya kita bermain dengan rumus itu sesuai kondisi dan situasi anak. Tapi yang dominan dipakai yang demokratis. Nanti saat anak sudah bisa diajak diskusi dengan orang tua, itu bisa dilepas pola asuh demokratis nya. Kemudian pakai yang otoriter dulu supaya dia bisa dikendalikan oleh orang tua, tapi tadi misalkan ada reward dan punishment tapi hukuman itu bukan berarti meluapkan emosi kemarahan dari orang tua kepada anak tapi betul-betul tujuannya supaya membentuk anak ini bisa berkarakter. Agar dia pintar, sosialisasi bagus, pandai mengolah emosi. Yang dilihat dari berbagai aspek untuk tumbuh kembang anaknya.” pungkas Rika.
Nah itu dia fresh reader pembahasan mengenai tiger parenting dan dampaknya terhadap anak. Mendidik anak itu bisa diibaratkan seperti meluruskan tulang yang bengkok, mesti pelan dan perlahan agar tidak patah dan rusak. Semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, tapi tidak dengan mengekang dan mengabaikan perasaannya karena itu hanya akan memperlambat dan mempengaruhi perkembangan anak hingga dewasa nanti.
Fresh Crew : Ajeng Kurnia Futri/Suaka
Editor Fresh: Adinda Nuurlatifah/Suaka

