Atasi Post-Holiday Blues, Balik ke Rutinitas Tanpa Drama

- Advertisement -
Life Hacker

FRESH.SUAKAONLINE.COM  – Mataku terbelalak tatkala melihat pesan grup WhatsApp berisikan list tugas yang besok harus dikumpulkan. Dengan lunglai dan setengah sadar, aku mengangkat tubuhku menuju kamar mandi, membasuh muka, kemudian bergegas membuka laptop untuk menuntaskan tugas yang sudah kutumpuk demi menikmati liburan tanpa hambatan. Rasanya begitu berat ketika harus kembali pada rutinitas membosankanku, setelah menikmati satu minggu bangun tanpa alarm dan to do list kegiatan.

Aku membuka laptop dengan tatapan kosong. Hari ini ada jadwal ke kampus pukul 10.00 WIB. Sekarang pukul 09.00 WIB, tapi aku justru terdiam entah ingin melakukan apa. Di layar, jurnal yang kubuka sejak seminggu lalu masih terbuka—dan tetap tak terbaca. Ada rasa malas yang menumpuk, seperti beban yang tak kunjung luruh. Aku menarik napas pelan, lalu bangkit membuka lemari, seolah berharap ada sesuatu di sana yang bisa membangkitkan semangatku kembali.

“Ah, pakai baju apa, ya, hari ini? Hmm, pakai baju ini aja kali, ya, biar rasanya masih kayak di kebun binatang. Aduh, aku jadi pengen ketemu gajah lagi, deh.” Aku pun larut menatap layar handphone, memutar video gajah dan hewan-hewan lain yang kupotret saat tamasya ke kebun binatang kemarin. Tetapi, begitu melihat jam di pojok kiri layar, pukul 09.45 WIB sudah tercantum di sana. “Oh tidak!” Aku pun melompat ke kamar mandi untuk bersiap-siap ke kampus.

Halo Fresh Reader! Pernah ngalamin kejadian kayak tokoh “Aku”? Tahu enggak, sih, kalau kondisi yang dialami sama tokoh “Aku” itu ada istilah ilmiahnya, yaitu post-holiday blues (PHB), kondisi dimana seseorang akan mengalami perasaan sedih hingga kesepian ketika liburan telah berakhir. Untungnya, post-holiday blues bukanlah penyakit serius. Ini suatu kondisi yang normal terjadi dan bisa dialami siapa saja setelah liburan.

Dilansir dari Journal of Social Science Research dan alodokter.com, liburan semester memang meningkatkan semangat dan memulihkan energi. Akan tetapi, orang yang mengalami post-holiday blues jusru mengalami penurunan suasana hati usai liburan. Ini bisa terjadi karena liburan dijadikan pelarian dari tanggung jawab yang dihadapi atau mengalami pengalaman kurang menyenangkan saat berlibur. Misalnya, kehabisan uang, menghadapi kehilangan, hingga adanya perubahan gaya hidup seperti jam tidur dan pola makan.

Perubahan suasana hati akibat post-holiday blues ditandai dengan rasa sedih, demotivasi, kesepian, kelelahan, kecemasan, hingga kehilangan minat untuk melakukan sesuatu. Bahkan, bagi sebagian orang, mereka kehilangan fokus dalam beraktivitas atau menunjukkan gejala-gejala depresi. Kok bisa, ya?

Menurut National Alliance on Mental Illness di Amerika, 64% individu yang sebelumnya memiliki riwayat penurunan kesehatan mental lebih berisiko mengalami post-holiday blues, dibanding mereka yang kondisi mentalnya cenderung stabil. Ngeri, bukan? Jadi, Fresh Reader hati-hati, ya, dalam memaknai liburan! Jangan sampai bukannya bahagia, justru jadi sengsara setelah liburan. Liburan itu berbeda dengan healing, lho!

Liburan sebaiknya dimaknai sebagai proses untuk menginstirahatkan diri, bukan waktunya untuk menyembuhkan diri (healing) atau lari dari tanggung jawab. Maka dari itu, jadwal liburan disarankan untuk tidak padat agar memberikan ruang pada proses penyembuhan. Meski bukan gangguan mental serius, post-holiday blues tetap perlu dicegah agar kehidupan sehari-hari bisa dijalani dengan mental yang sehat.

Caranya bisa dimulai dari hal-hal sederhana, seperti mengakui perasaan dalam diri dan belajar berani berbagi cerita dengan orang terdekat. Lakukan olahraga secara rutin selama liburan atau mendekati waktu selesainya liburan sebagai aktivitas pemanasan jiwa dan raga. Sebelum atau selama liburan, buatlah rencana aktivitas yang efektif dan mendetail berisikan kegiatan yang akan dilakukan setelah libur panjang.

Tips-tips tadi bisa dicoba biar kita tetap enjoy dan chill selama liburan tanpa rasa lesu dan tak bersemangat setelahnya. Wah, ternyata, kondisi yang dialami “Aku” itu normal dan biasa dirasakan oleh orang-orang, ya, Fresh Reader! Namun, kondisi tersebut sebaiknya dihindari agar rutinitas tetap sehat secara fisik dan mental. Kalau liburan udah usai, bukan berarti semangat juga ikut libur, ya!

Sumber: Journal of Social Science Research, alodokter.com, www.its.ac.id.

Fresh Crew: Intan Nurfatimah/Magang

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles