Menentang Hakikat Sifat Negatif Manusia bersama Buku Humankind

- Advertisement -
Ilustrasi: Rafif Asya Andhika/Magang

Judul buku: Humankind: Sejarah Penuh Harapan

Penulis: Rutger Bregman

Penerjemah: Zia Anshor

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2021 (Indonesia)

ISBN: 978-602-06-4919-1

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Satu jam sudah aku menghabiskan waktu untuk terus scroll media sosial. Tidak tahu sudah berapa banyak video yang aku tonton. Sebagian di antaranya berisi tangisan berbagai korban keganasan Israel di Palestina, mulai dari video ibu-ibu menjerit sampai bayi menangis. Memang kasihan, tapi mereka masih berusaha untuk hidup dan saling membantu, luar biasa. Sekilas, aku kembali teringat dengan perdebatan yang terus muncul entah sejak kapan. Obrolan tentang hakikat sifat manusia.

Umat Islam meyakini bahwa kita semua lahir ke dunia ini dalam keadaan suci tak berdosa. Pada dasarnya, kita semua ini baik, peduli pada orang lain, toleran, dan sebagainya. Lihat saja korban kejahatan Israel yang tetap saling melindungi dan membantu. Namun, narasi yang kita terima belakangan seolah memancing untuk berpikir sebaliknya, bahwa setiap manusia pada dasarnya itu jahat, intoleran, dan egois. Misalnya saja, individualisme banyak dikaitkan dengan generasi muda yang tidak peduli dengan orang lain.

Sejarawan asal Belanda, Rutger Bregman, terus memikirkan pertentangan tersebut. Ia meyakini bahwa hakikat manusia itu baik, ramah, dan penuh dengan rasa saling peduli. Akan tetapi, sebagian besar orang meyakini sebaliknya. Peradaban manusia, jika dibanding dengan usia bumi, masih sangat muda. Kita menginjakkan kaki selama kurang lebih 200.000 tahun lalu. Bagaimana kita bertahan sampai sekarang? Menurut seorang filosof bernama Niccolo Machiavelli, dengan terus menipu dan berbohong demi kekuasaan.

Namun, semangat Bregman tidak padam. Ia kokoh pada keyakinannya seperti kita kokoh dengan agama. Dimulailah perjalanan panjangnya dalam meneliti, mulai dari mempelajari berbagai arsip penelitian sampai berkelana ke penjuru dunia demi mewawancarai berbagai orang. Ia tahu bahwa dunia sedang dilanda trauma dari kejahatan manusia, dari perang dunia sampai terorisme. Setelah mengumpulkan ratusan data, barulah ia dengan sepenuh hati mempublikasikan gagasannya, yang dituangkan dalam buku Humankind.

Rutger Bregman memulai bukunya dengan pernyataan elegan, “Ini adalah buku mengenai suatu gagasan radikal … bahwa sebagian besar orang, pada dasarnya, itu baik,” (hlm. 2), kemudian melanjutkan dengan narasi dan argumentasi yang ia susun sejak lama. Bregman, mau tidak mau, menentang segala temuan dan narasi yang banyak beredar di masa itu. Tak terkecuali salah satu sosok terkenal, Thomas Hobbes, yang menyatakan bahwa manusia adalah serigala bagi sesamanya (homo homini lupus).

Temuannya yang menjadi daya tarik utama Humankind adalah mengenai manusia, yang ia sebut sebagai Homo Puppy. Bagaimana kita bertahan selama 200.000 tahun? Dengan menjadi sosok yang ramah. Evolusi menuntun kita menjadi sosok yang lebih lembut, muda, feminim, dan mengecil. Sebagaimana anjing jinak, kita mengembangkan berbagai bentuk tubuh sehingga tampak semakin ramah, “Seperti anak kera,” (hlm. 65).

Oke, Bregman sudah memantapkan dasar teorinya, manusia menjadi lebih ramah dari waktu ke waktu. Berikutnya, ia harus menghadapi berbagai peristiwa kelam sejarah, misalnya perang. Manusia yang disebut ramah ini dengan sadar akan merenggut nyawa sesamanya dalam adu tembak. Belum lagi membicarakan perang dunia kedua yang waktu itu memang menjadi trauma sebagian orang. Kalau Fresh Reader ingin tahu bagaimana Bregman menghadapi itu, maka bacalah bukunya. Percayalah, ia sukses besar!

Sepanjang buku ini, pemikiran kita akan dipoles dan dimantapkan untuk menerima gagasan dari penulis. Sekilas, kita merasa yakin dengan penulis, tetapi sesaat setelah itu kita disuguhkan kasus yang seolah membantah gagasan itu, sebelum kemudian diyakinkan kembali dengan berbagai bukti dan penelitian. Ibarat kita dipermainkan antara skeptis dan optimis. Meskipun terkesan agak nanggung karena contoh yang dipakai agak “kuno”, namun Humankind tetap bacaan luar biasa untuk mengistirahatkan benak kita dari berbagai peristiwa yang sedang terjadi.

Fresh Crew: Rafif Asya Andhika/Magang

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles