Seporsi Mi Ayam, Sepotong Alasan untuk Bertahan

- Advertisement -
Gramedia

Judul Buku                  : Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Penulis                        : Brian Khrisna
Penerbit                       : Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo)
Tahun Terbit                : 2025
Jumlah Halaman         : 216 halaman
ISBN                           : 978-602-053132-8

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Apa yang membuat seseorang ingin mengakhiri hidupnya? Apakah karena kehilangan, trauma panjang, atau justru karena lelah yang terus-menerus tanpa sebab yang bisa dijelaskan? Pernahkah Fresh Reader merasa ada luka yang lama mengendap, tapi tak pernah benar-benar diberi ruang untuk disadari? Kadang, hidup tak perlu tragedi besar untuk membuat seseorang ingin menyerah—cukup dengan rutinitas yang mengikis harga diri dan lelah yang tak pernah terucap.

Tekanan batin itulah yang mengisi kepala Ale, tokoh utama dalam buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati karya Brian Khrisna, sampai ia merasa tak ada lagi alasan untuk melanjutkan hidupnya. Namun, hidup, seperti halnya kematian, tidak selalu berjalan sesuai rencana. Malam itu, ketika Ale sudah menyiapkan kematiannya dengan rapi, ia membaca satu kalimat di bungkus obat, “minum setelah makan”. Kalimat sederhana itu membuatnya memilih menyantap mie ayam—satu-satunya hal yang tak pernah mengecewakannya.

Perjalanan mencari mie ayam inilah yang membuka cerita lebih dalam tentang rasa lelah dan sepi yang sering kita rasakan, tapi jarang dibicarakan. Buku ini menghadirkan potret kehidupan yang berjalan tanpa sorotan, tapi menyimpan luka-luka kecil yang pelan-pelan menumpuk. Catatan tentang kelelahan yang tak bersuara dan bagaimana seseorang bisa bertahan hidup bukan karena harapan besar, melainkan karena hal-hal sederhana yang terasa akrab, seperti seporsi mie ayam.

Dalam ranah psikologi klinis, pengalaman Ale menyentuh dua konsep besar: unacknowledged grief dan radical acceptance yaitu kemampuan seseorang untuk berhenti melawan kenyataan dan mulai berdamai dengan dirinya. Brian menuliskan, “Bung, kunci bertahan hidup itu bukan selalu berpikir positif, melainkan kemampuan untuk menerima keadaan.” Kalimat ini mencerminkan esensi dari Acceptance and Commitment Therapy (ACT), salah satu pendekatan terapi kontemporer yang berakar pada penerimaan emosi dan fleksibilitas psikologis.

Selama satu hari penuh, Ale bertemu dengan tokoh-tokoh yang menemaninya. Mulai dari wanita eksentrik di pinggir jalan hingga penjual layang yang seperempat filosofis. Mereka tidak tahu Ale ingin mati malam itu, dan mungkin itu sebabnya, mereka justru berhasil menghidupkan sesuatu dalam dirinya. Dalam teori psikologi humanistik, interaksi semacam ini bisa menjadi refleksi eksistensial, kita melihat diri kita dalam diri orang lain, dan dari situlah muncul kesadaran baru tentang makna diri.

Buku ini bukan sekadar cerita tentang seseorang yang ingin mengakhiri hidupnya. Buku ini adalah ruang sunyi yang mengajak pembacanya menyelami makna bertahan dari hal-hal yang tampak sepele. Dari tiap percakapan kecil, keheningan, dan keputusasaan Ale, pembaca diajak mengenali satu demi satu bentuk luka yang sering kita abaikan dalam diri sendiri. Brian Khrisna tidak memberi solusi atau akhir yang menyentuh air mata. Ia membiarkan ceritanya hadir apa adanya—dan dari situlah pengalaman membaca menjadi begitu manusiawi.

Setelah membaca buku ini, kita dapat memetakan bahwa luka tidak selalu datang dari tragedi besar, melainkan justru dari hal-hal kecil yang dibiarkan menumpuk, ucapan yang tak pernah kita sampaikan, kecewa yang tidak sempat diproses, atau rutinitas yang perlahan mengoyak rasa percaya diri. Melalui Ale, kita melihat bagaimana penerimaan atas diri sendiri dapat menjadi bentuk tertinggi dalam melanjutkan hidup.

Di sisi lain, buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati cenderung mengulang-ulang narasi tertentu, terutama terkait kelelahan dan penolakan diri yang dialami Ale. Tokoh-tokoh pendukung juga kurang mendapatkan porsi pengembangan yang memadai, padahal kehadiran mereka berpotensi memperkuat makna cerita. Meskipun demikian, buku ini tetap layak dibaca karena berhasil menyentuh sisi-sisi paling manusiawi dari kelelahan hidup dan penerimaan diri.

Bagi siapa pun yang pernah merasa lelah dan bingung harus berbicara kepada siapa, buku ini adalah ruang aman yang jujur. Buku ini akan membuatmu mengenali dan mengakui perasaan diri sendiri sebagai bentuk kejujuran yang paling sehat. Dan barangkali, itulah yang membuat buku ini begitu bernilai. Selamat membaca, Fresh Reader!

Fresh Crew      : Adhiim Hafiidh/Suaka

Editor Fresh    : Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles