FRESH.SUAKAONLINE.COM – Hello Fresh Reader! Gimana nih produktifitas kalian selama pandemi ini? Mungkin di sini ada yang menghabiskan waktunya untuk sekedar rebahan atau bisa jadi sibuk dengan rutinitas kampus baik intra maupun ekstra, atau bahkan ada yang bekerja demi terjalinnya stabilitas perekonomian. Yah, Hampir satu tahun kita dituntut untuk belajar dengan sistem yang baru yaitu secara daring.
Tentu saja, di situasi seperti ini kita harus bisa beradaptasi dengan keadaan. Tidak sedikit mahasiswa selama pandemi ini mengalami penurunan produktifitas semenjak awal Covid-19 menjejali negeri kita. Sistem belajar daring pun bagi mahasiswa sudah diberlakukan selama satu tahun lebih guna mencegah penyebaran virus.
Namun, masih banyak problematika yang hadir. Seperti penunjang platform yang sulit di akses, susah sinyal, mati lampu, kuota habis, dan tidak punya media pembelajaran seperti laptop atau handphone. Selain itu, tugas yang menumpuk terkadang menjadi pelengkap masalah yang sudah ada.
Keadaan stres, lelah, dan kesal kadang turut dirasakan. Berjam-jam di depan layar laptop, seharian berdiam dikamar. Tidak ada lagi aktivitas seperti biasa, keadaan memaksa mengubah produktifitas. Mau tidak mau tubuh harus mengikuti meski lelah kian menghampiri.
Riset data dari kuisioner yang dilakukan oleh Fresh Crew perihal adaptasi mahasiswa selama pembelajaran daring. Diantaranya 61.02% mahasiswa mengalami krisis stabilitas emosional, 51% merasa tidak percaya diri, 77.97% kesulitan fokus akan dirinya, dan 79.66% mengalami kelelahan.
Akhirnya, kesehatan mental mulai terganggu, salah satu gangguan kesehatan mental yang terasa akibat dari belajar daring dari efek pandemi adalah hilangnya semangat atau ketidakmampuan untuk merasa senang dalam suatu kegiatan yang biasanya dianggap menyenangkan atau yang disebut dengan Anhedonia.
Dikutip dari halodoc.com, Anhedonia membuat hidup pengidapnya terasa hampa, tidak nyaman, dan membosankan. Anhedonia adalah kondisi di mana pengidapnya kehilangan minat terhadap kegiatan yang dahulu menyenangkan atau di sukainya. Masalah psikis ini juga membuat penurunan kemampuan untuk merasakan kesenangan.
Dari hasil data tim riset tersebut menjunjukan perubahan mental dalam proses pembelajaran daring, tentunya ini menjadi suatu masalah yang harus di benahi, dikarenakan pademi ini tidak kunjung usai dan pembelajaran sistem daring ini tak kunjung menemukan titik akhir.
Jikalau hal ini terus menerus di biarkan, maka besar kemungkinan problematika kesehatan mental pun terus menghampiri dan hinggap di kalangan pelajar utamanya mahasiswa. Lalu, sepenting itukah kita harus memahami kesehatan mental utamanya di kalangan mahasiswa?
Menurut Psikiater Rumah Sakit Al-Islam, Untung Sentosa, Perihal anhedonia, penyakit mental ini bisa terjadi karena kemungkinan faktor besarnya terkadang orang mengkaitkannya dengan depresi. Paparnya kepada Fresh Crew pada Jumat (19/3/2021).
Namun, pengidap tidak selamanya yang mengalami depresi gangguan bipolar dan skizofernia sebagai contohnya, namun beberapa pakar berpendapat bahwa anhedonia terjadi akibat dari gangguan otak.
Ciri umum dalam anhedonia ini adalah hanya dalam diri kita lah yang bisa merasakannya. Namun jika seseorang sudah menarik diri dari khalayak itu mungkin bisa menjadi cirinya. Walaupun hal itu masih menjadi perdebatan apakah termasuk gejala anhedonia atau bukan. Salah satu dampaknya itu mungkin bisa menyebabkan depresi, stres, bahkan bunuh diri.
Dosen sekaligus Ketua Unit Layanan Psikologi (ULP) Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung, Nisa Hermawati, mengatakan bahwa Covid-19 ini mempengaruhi mental bukan hanya pada mahasiswa, tetapi pada masyarakat umum juga.
“Kalau melihat dari beberapa kasus yang masuk karena kasusnya begitu bervariasi, jika dilihat satu persatu terkait anhedonia atau kehilangan minat dalam melakukan sesuatu yang sebelumnya amat disukai sepertinya jarang terjadi, sampai kehilangan minat sekali itu tidak. Tapi dengan adanya Covid-19 ini terkadang ada yang mengeluhkan tentang permasalahan seperti jenuh dan kurangnya motivasi, Hal ini juga dirasakan oleh mahasiswa maupun masyarakat umum,” Sabtu (20/3/2021).
Dengan adanya Covid-19 sehingga melakukan segala sesuatu itu di rumah, termasuk salah satunya perkuliahan. Jelas itu sangat berpengaruh sekali terhadap kesehatan mental, terutama untuk pribadi mahasiswa yang kesulitan dalam memahami perkuliahan secara online. Banyak pemicunya, selain yang berkaitan dengan kuota dan jaringan.
Hal itu dapat menimbulkan masalah-masalah baru yang bisa mempengaruhi kesehatan mental. Yang seharusnya belajar secara offline itu lancar namun ketika berubah dengan cara serba online semuanya unpredictable, kadang mungkin kuota habis, jaringan tidak bagus, materi yang disampaikan masih kurang dan sulit dipahami. Sehingga itu bisa menjadi pemicu seseorang merasa ada tekanan dan pressure yang dapat mengganggu kesehatannya.
Cara menjaga mental agar tetap stabil selama pembelajaran jarak jauh, yaitu tetap berkontak entah itu dengan teman maupun dengan dosen. Meskipun secara virtual kita tetap bisa sharing. Kemudian jangan lupa berolahraga, karena kegiatan secara daring otomatis tubuh terpengaruh dengan paparan dari gawai maupun saat duduk berlama-lama, selain itu asupan makanan juga harus dijaga. Dengan intensitas jarangnya bertemu dengan orang-orang jangan selalu mengakses beberapa siaran yang bisa memicu timbulnya rasa takut atau cemas.
Kemudian memiliki quality time dengan keluarga agar tidak jenuh. Spiritual juga sangat penting, harus tetap dekat dengan Sang Maha Pencipta. Karena pada saat mahasiswa sedang melakukan berbagai hal yang mungkin di luar dugaan, yang mana saat spiritualnya tetap terjaga akan membuat mentalnya tetap sehat tenang dan bisa terhindar dari stres selama pembelajaran jarak jauh.
Nah itu dia Fresh Reader, pembahasan mengenai anhedonia dan kesehatan mental di ruang lingkup kampus. Ternyata kesehatan mental itu sangat penting sekali. Maka dari itu, dalam keadaan apapun kita harus tetap bisa menjaga kondisi mental. Tetap sehat dan semangat dalam menjalani hari-hari di masa pandemi ini ya. Semoga bermanfaat! [Kru Liput: Aqbil, Fitri, Raihan]
Fresh Crew : Ajeng Kurnia Futri, Hizqil Fadl Rohman/Magang
Editor Fresh : Adinda Nuurlatifah


