Toxic Positivity : Niat Berempati Malah Menyakiti

- Advertisement -

FRESH.SUAKAONLINE.COM, Freshgrafis – Fresh Reader pasti sudah tidak asing mendengar kalimat-kalimat penyemangat seperti:

“Semua akan baik-baik aja kok!” atau “Udah yuk mending positive thinking.”

Kalimat penyemangat seperti itu biasa diucapkan sebagai respon dari seseorang yang mendengar keluh kesah dari orang lain. Niatnya sih ingin membantu mencerahkan hati mereka yang mendung, tapi untuk beberapa orang menerima kalimat positif seperti itu malah memperburuk perasaan mereka. Ternyata itu terjadi karena ungkapan-ungkapan positif tersebut beradu dengan emosi negatif si penerima, atau biasa kita kenal dengan istilah Toxic Positivity.

Lantas apa sih yang dimaksud dari Toxic Positivity itu? Toxic Positivity sendiri merupakan salah satu istilah yang populer dalam psikologi yang artinya ungkapan berisi dorongan untuk melihat sisi baik dari setiap permasalahan. Pikiran atau ungkapan positif sebenarnya akan menjadi baik bila yang menerima ungkapan tersebut sedang dalam situasi normal. Namun, bila ternyata kondisinya sedang terpuruk hal tersebut justru akan menjadi racun bagi mental seseorang.

Toxic Positivity dapat mengganggu kesehatan mental bila dialami dalam jangka waktu yang lama, dan bisa menyebabkan stres berkepanjangan bahkan depresi. Petuah atau nasihat yang berisi dorongan untuk senantiasa berpikir positif dalam situasi apapun justru akan membuat seseorang merasa takut, sedih, cemas, dan merasa sendirian. Akibatnya pikiran-pikiran positif yang tidak realistis itu akan menjadi racun yang membunuh.

Mungkin selama ini banyak orang yang menganggap bahwa selalu berpikiran positif adalah solusi terbaik untuk menghadapi setiap permasalahan dalam kehidupan. Namun, tidak semua orang membutuhkan ungkapan positif untuk membawa mereka keluar dari masalah yang mereka tengah alami. Ungkapan yang niat awalnya untuk menyampaikan empati malah tidak menjadi solusi.

Menghindari Toxic Positivity bukan berarti menghentikan kita untuk senantiasa berpikiran positif ya Fresh Reader. Yang perlu diingat adalah penyampaian ungkapan positif pun harus tahu batas dan menyesuaikan dengan situasi. Ketimbang langsung memberi semangat, ada baiknya terlebih dahulu kita mendengarkan keluh kesahnya tanpa sedikit pun menghakimi, baru kemudian menawarkan bantuan atau solusi.

Pada dasarnya, kita tidak bisa menyamaratakan kondisi emosi semua orang. Bila dengan menjadi positif berhasil membuat kita merasa lebih baik, belum tentu orang lain merasakan hal yang sama. So, mulai dari dari sekarang yuk mulailah menjadi pendengar yang baik bagi orang lain. Jangan sampai kita tanpa sengaja melontarkan kalimat-kalimat Toxic Positivity ini pada orang terdekat kita dan malah menyakiti mereka.

Fresh Crew : Zahra Siti Syahida/Magang

Editor Fresh : Adinda Nuurlatifah

Latest articles

Related articles