
FRESH.SUAKAONLINE.COM, Freshgrafis – Hai, Freshreader! Pastinya sudah tidak asing dong dengan kata seperti ‘baper’ atau bawa perasaan, juga kata ‘YGY’ atau ‘ya ges ya’, bahkan kata ‘ngab’ sebagai pengganti kata ‘bang’ dalam Bahasa Indonesia. Nah, kata-kata tersebut merupakan beberapa contoh bahasa gaul yang sering digunakan oleh kawula muda Indonesia.
Seperti yang kita ketahui bersama, bahasa digunakan dalam segala aspek kehidupan. Tentu saja, alasannya karena fungsi utama dari bahasa adalah untuk berkomunikasi antar sesama manusia. Namun, kini bahasa terus berkembang mengikuti zaman. Terutama di Indonesia dimana bahasa-bahasa gaul mulai bermunculan. Hal tersebut didukung karena para remaja berpikir, menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar terlalu formal.
Tapi Fresh reader tahu nggak, sebenarnya dari sejak kapan sih bahasa gaul ini digunakan di Indonesia?. Fresh crew kasih tau nih, menurut Kamus Linguistik Edisi Keempat (2008), bahasa gaul atau yang pada zaman dahulu disebut sebagai bahasa pokem adalah ragam non-standar dari bahasa Indonesia yang lazim di Jakarta pada tahun 1970-an dan populer sekitar tahun 1980-an.
Awalnya, pada saat itu hanya kelompok-kelompok tertentu yang menggunakan bahasa pokem atau bahasa gaul ini untuk sesama anggota kelompok. Alasannya, agar percakapan yang di bicarakan suatu kelompok tersebut tidak dimengerti oleh kelompok lain. Penggunaan bahasa gaul yang tadinya dipakai oleh segelintir kelompok, mulai diamati banyak orang. Sehingga mereka yang bukan bagian dari kelompok, perlahan mengerti bahasa yang mereka gunakan karena terlalu sering digunakan.
Seiring dengan berjalannya waktu, beragam istilah hasil modifikasi bahasa Indonesia mulai bermunculan. Dimana pada awal tahun 2000 istilah bahasa gaul semakin dikenal dan populer di kalangan remaja. Contohnya saja kata ‘bapak’, yang dipotong menjadi ‘bap’ lalu disisipi -ok- dan menjadi ‘bokap’. Bahkan kata ‘prokem’ sendiri diduga berasal dari kata ‘preman’ yang kemudian dipenggal menjadi ‘prem’ dan disisipi –ok-.
Berangkat ke era sekarang, bahasa gaul pun semakin variatif. Kini bahasa gaul juga banyak mencakup bahasa Indonesia yang dipadukan dengan bahasa Inggris atau lebih akrab disebut bahasa ‘anak jaksel’. Oleh karena itu, maraknya remaja yang menciptakan tren bahasa gaul secara tidak langsung meningkatkan kreativitas dan menimbulkan kesan akrab.
Selanjutnya, saat ini media sosial juga dapat menjadi gerbang bagi perkembangan bahasa gaul itu sendiri. Akses menuju media sosial yang semakin mudah juga menjadi pendorong gaya bahasa gaul berkembang pesat. Luasnya cakupan jejaring sosial, membuat kamu dapat melihat perkembangan gaya bahasa gaul tidak hanya di dalam negeri, namun juga luar negeri.
Selain dari media sosial, tren bahasa gaul juga didorong oleh pengaruh lingkungan, terutama di kalangan kawula muda melalui teman sebaya. Media elektronik dan cetak pun turut ikut andil, seperti film-film, iklan, atau novel yang menampilkan percakapan yang terdapat bahasa gaul didalamnya. Artinya, bahasa gaul tidak hanya terjadi oleh kontak langsung antara masyarakat itu sendiri, melainkan secara tidak langsung kita juga ‘disuapi’ oleh media.
Kendati demikian, meskipun penggunaan bahasa gaul di Indonesia digunakan untuk berkomuninkasi sehari-hari, penggunaan bahasa Indonesia patutlah dilakukan. Karena sejatinya, bahasa gaul hanya dapat digunakan pada konteks-konteks tertentu saja. Nah, untuk menyiasatinya kita bisa tetap mennggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam kehidupan agar bahasa Indonesia tidak tergeser, disisi lain Fresh reader tetap bisa jadi anak gaul.
Peneliti : Selinda Jauza/Magang
Sumber: berbagai sumber

