Lebih Bijak Mengelola Keuangan dengan Menghindari Lipstick Effect

- Advertisement -
freepik.com

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Sosial media menjadi kebutuhan yang hampir tak dapat dipisahkan pada masyarakat saat ini tanpa mengenal kalangan usia. Fungsinya pun beragam, mulai dari hiburan, mencari informasi, atau update kemampuan diri. Selain itu, tak jarang apa yang ditampilkan pada media sosial tersebut mampu menimbulkan hasrat kita untuk berbelanja mengingat menjamurnya e-commerce pada saat ini dan hampir seluruh media memiliki ruang untuk beriklan.

Meskipun demikian, kondisi ekonomi seringkali mengalami ketidakstabilan yang mempengaruhi pola konsumsi masyarakat. Menjadi hal yang wajar apabila kondisi ekonomi sedang tidak stabil, kita seringkali memutar otak untuk mencari jalan keluar agar semua kebutuhan tetap terpenuhi dan keinginan dapat terbeli.

Dilansir dari laman investopedia.com, lipstick effect merupakan suatu fenomena ketika konsumen masih membelanjakan uangnya untuk hal-hal kecil selama resesi, krisis ekonomi, atau ketika mereka secara pribadi hanya mempunyai sedikit uang. Kondisi ini biasa terjadi ketika calon pembeli memiliki keinginan untuk membeli barang mewah, tetapi belum mampu mendapatkan apa yang dia mau dan kemudian menjadi beralih membelanjakan barang kecil untuk memberikan kepuasan secara emosional.

Fenomena lipstick effect memberikan gambaran bagaimana konsumen menyesuaikan pola belanja saat mengalami krisis ekonomi dalam hidupnya. Perubahan ini dapat memberikan efek positif bagi penjual barang kecil seperti lipstik, parfum atau aksesoris kecil lainnya. Akan tetapi juga dapat memberikan dampak negatif berupa konsumsi berlebihan pada barang-barang yang sebetulnya tidak terlalu diperlukan oleh konsumen.

Beberapa bahaya yang timbul dari lipstick effect ini adalah kebiasaan overconsumption atau belanja secara berlebihan. Pola membeli barang yang sebetulnya tidak begitu diperlukan ini dapat menimbulkan menumpuknya pengeluaran yang bisa menyebabkan ketidakstabilan keuangan. Selanjutnya, adanya penurunan investasi barang atau layanan dengan harga tinggi, karena masyarakat lebih banyak membeli barang kecil, maka sektor dengan produksi barang besar dapat mengalami permasalahan.

Selain itu, risiko lainnya yang mungkin terjadi adalah terjerat hutang atau pinjaman. Dikarenakan hasrat berbelanja yang tidak diikuti dengan pengaturan keuangan yang baik dan kebiasaan untuk membeli barang yang tidak diperlukan berpotensi menimbulkan pinjaman dalam bentuk online yakni pay later, kartu kredit maupun cicilan. Lalu, hal tersebut juga dapat membuat individu lalai terhadap investasi atau tabungan jangka panjang

Terakhir, dapat menimbulkan dampak psikologis karena tekanan sosial dan emosional. Adanya dorongan membeli barang kecil jika dilakukan secara sering dapat menguras tabungan dan menimbulkan pola konsumsi impulsif. Media sosial memegang peran yang besar dalam mendorong perilaku ini sebab apa yang ditampilkan pada internet memang bersifat meng-influence penonton yang membuat kita ingin mengikuti atau tidak mau ketinggalan dengan apa yang dimiliki oleh orang lain.

Melihat bahaya yang dapat terjadi dari fenomena ini, semoga Fresh Reader menjadi lebih bijak lagi dalam mengelola keuangan, ya! Menjadi hal yang penting untuk dapat membedakan mana yang memang sebuah kebutuhan atau hanya sekedar keinginan belaka. Dengan begitu, maka kita dapat menjaga keuangan menjadi lebih stabil dan terkontrol.

Fresh Crew: Anis Marselina/Suaka

Editor Fresh: Nadia Ayu Iskandar/Suaka

Latest articles

Related articles