Mendalami Cara Kerja Otak dalam Learning How to Learn

- Advertisement -
doc.net

Judul: Learning How to Learn: Cara Sukses Menguasai Hal Baru Tanpa Menghabiskan Semua Waktumu

Penulis: Barbara Oakley, Ph.D., Terrence Sejnowski, Ph.D., Alistair McConville

Penerjemah: Azizah Fitriyanti

Penerbit (Indonesia): Penerbit Bentang Pustaka

Tahun terbit: 2018 (orisinil), 2023 (terjemah Indonesia).

ISBN: 978-623-186-252-5

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Bayangkan seperti ini, kamu baru mendapatkan informasi bahwa dua hari lagi ujian akhir semester (UAS). Tidak mungkin rasanya untuk memahami seluruh materi yang dipelajari dalam waktu dua hari. Kemudian, temanmu mengusulkan, “Bagaimana kalau belajar memakai cara belajar yang efektif buat kamu? Kamu itu orangnya visual, auditori, atau kinetik?” Temanmu memberi kesan bahwa selama cara belajarnya efektif, hasil yang didapatkan akan jauh lebih baik. Padahal, belum tentu yang dikatakan itu benar.

Buku Learning How to Learn menyanggah pemahaman tentang sistem belajar efektif. Penulis menjelaskan bahwa berkiblat pada satu cara belajar yang dianggap efektif bagi diri sendiri itu sebenarnya tidak selamanya ampuh. Pasalnya, hal itu membuat kita kurang memahami cara belajar lainnya. Padahal, umumnya tidak hanya satu cara belajar yang dilakukan. Bagaimana ketika orang yang selalu menerapkan cara belajar visual menghadapi materi yang harus dipelajari secara auditori? Buku ini seolah menolak pemahaman umum tersebut.

Selain membahas khusus tentang cara belajar, keseluruhan buku ini membedah sistem otak manusia ketika menerima atau mempelajari informasi baru. Mulai dari membahas otak yang memiliki dua mode, cara kerja neuron, tips fokus, ingatan jangka panjang, hingga apa yang perlu disiapkan untuk ulangan. Nah, makanya buku ini cocok banget  buat Fresh Reader ingin menghindari kebingungan ketika situasi seperti bayangan di awal tadi.

Salah satu pembahasan paling menarik dalam buku ini ialah mengutamakan tidur ketimbang belajar hingga larut malam. Tidur sangat penting untuk meningkatkan pemahaman otak. Mirisnya, banyak orang, terutama mahasiswa, mengesampingkan tidur yang cukup. Dalam penelitian oleh Jurnal Stokbinaguna, 68 persen dari 46 responden mengaku memiliki durasi tidur yang kurang optimal. Idealnya, waktu tidur yang cukup diperlukan karena berpengaruh pada kinerja otak.

Namun, bukankah mempelajari sistem otak itu merupakan hal yang terlampau rumit? Bahkan sampai ada satu cabang ilmu pengetahuan untuk membahas hal tersebut, yaitu neurosains. Tidak perlu risau! Pasalnya, penulis membungkus berbagai materi ribet itu dalam bahasa yang sederhana, dibarengi dengan berbagai metafora unik dan lucu. Alhasil, tidak hanya mengasah pemahaman intelektual, buku ini juga mempertajam daya imajinasi pembacanya.

Ditambah lagi, untuk mendorong pembaca agar mengingat isi pembahasan, penulis menghadirkan latihan di setiap akhir babnya. Betul, seperti buku pegangan semasa sekolah dulu. Akan ada latihan berupa pertanyaan dan praktik tertentu setelah selesai membaca satu bab materi. Pembaca juga dianjurkan untuk mencatat seiring membaca buku ini. Tak jarang terdapat arahan tertentu (seperti praktik juga) di tengah materi. Nantinya, di akhir buku, akan ada kunci jawaban untuk menilai dan mengevaluasi latihan yang sudah diisi.

Meskipun demikian, beberapa metafora yang digunakan kurang dekat dengan masyarakat Indonesia. Kebanyakan benda yang dijadikan penggambaran lebih dekat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa. Misalnya, perumpamaan dua mode otak dengan istilah meja pinball. Walau ada gambar untuk memudahkan, pembaca mungkin tidak mengerti cara kerja pinball itu sendiri. Sebenarnya, masalah ini wajar mengingat penulis bukan berasal dari Indonesia. Namun, tetap saja akan menimbulkan sedikit kebingungan.

Di luar masalah metafora yang terasa tidak familier, buku ini sangat menarik untuk dibaca. Target utama dari buku ini ialah pelajar, baik itu siswa, mahasiswa, atau siapa pun itu yang ingin menimba ilmu semaksimal mungkin. Bahasa yang mudah dicerna berpadu dengan metafora yang unik dan soal latihan sukses mengasah wawasan pembaca akan cara belajar. Buku ini jelas diperlukan untuk menjawab pertanyaan sederhana, seperti yang ada pada judulnya, “Bagaimana cara belajar?”

Fresh Crew: Rafif Asya Andhika/Magang

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles