
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Seiring berjalannya proses perkuliahan, mahasiswa akan sampai pada tahap memilih mata kuliah (matkul) peminatan atau disebut juga mata kuliah pilihan (matpil) yang sesuai dengan minat dan rencana masa depannya. Matkul peminatan adalah serangkaian mata kuliah yang dirancang untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan yang lebih mendalam mengenai bidang tertentu yang sesuai dengan minat dan tujuan karir kita.
Matkul peminatan dapat menjadi gambaran prospek kerja yang kita inginkan ke depannya. Dengan memilih peminatan yang tepat, kita dapat memperkuat kompetensi yang diperlukan di dunia kerja serta meningkatkan peluang untuk mendapatkan posisi yang sesuai dengan keahlian yang kita miliki.
Umumnya, sistem pemilihan matkul peminatan di UIN SGD Bandung dilakukan melalui laman Sistem Administrasi Layanan Akademik Menyeluruh (SALAM) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mahasiswa biasanya harus bersaing untuk mendapatkan mata kuliah yang diinginkan karena sistemnya berbasis siapa cepat dia dapat. Sistem seperti ini menyebabkan beberapa mahasiswa berstrategi untuk mendapatkan mata kuliah yang diminati. Bahkan, terdapat jurusan yang memiliki sistem yang berbeda dalam pengambilan matkul peminatan.
Mahasiswa semester 6 Jurusan Biologi, Anggi Agustin, pernah memilih mata kuliah peminatan saat semester 4. Pemilihan mata kuliah peminatan dengan sistem war di SALAM menyebabkan adanya cara unik tersendiri yang biasa dilakukan oleh angkatannya. Cara tersebut berupa mahasiswa dapat menukar slot mata kuliah dengan mahasiswa lain dan bahkan menitipkan pengambilan mata kuliah kepada teman seangkatannya jika memiliki kendala jadwal atau kesibukan lain.
“Di grup biasanya ada yang bilang, ‘Siapa yang minat (matkul peminatan) Mikrobiologi Pangan? Mau barter sama (matkul peminatan) Nutrisi Tumbuhan.’ Nah, hal-hal seperti itu lumrah terjadi,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa banyak mahasiswa menyimpan sejumlah matkul pilihan sejak awal, terlepas matkul pilihan itu benar-benar sesuai minatnya atau tidak. Strategi ini biasanya dilakukan untuk persiapan barter apabila tidak berhasil mendapatkan mata kuliah pilihan yang benar-benar diinginkan.
Strategi Anggi dalam memilih matkul peminatan didasarkan pada sistem yang diterapkan. Karena kuota setiap mata kuliah peminatan terbatas hanya 20 mahasiswa, Anggi mempersiapkan beberapa pilihan mata kuliah sebagai antisipasi jika tidak mendapatkan pilihan utamanya. Sistem tersebut mengharuskannya untuk bertindak cepat dan efisien dalam proses pengambilan mata kuliah.
Menurut Anggi, salah satu hambatan dalam sistem tersebut adalah website SALAM yang kerap mengalami kendala teknis, seperti lag, terutama saat periode kartu rencana studi (KRS) di setiap awal semester. Ia mengamati bahwa masalah serupa juga dialami mahasiswa lain, meskipun belum dapat dipastikan apakah gangguan ini hanya terjadi di Jurusan Biologi atau memang dialami seluruh mahasiswa di UIN SGD Bandung.
Senada dengan Anggi, mahasiswa semester 6 Jurusan Kimia, Yulinda Ayu Nabilah, mulai memilih mata kuliah peminatan saat semester 4. Ia menjelaskan perbedaan sistem pemilihan mata kuliah peminatan di angkatannya, yakni angkatan 2022. Hingga angkatan 2020, Jurusan Kimia masih menggunakan sistem war (perebutan) di website SALAM. Sistem ini mengakibatkan persaingan ketat dan mahasiswa yang membayar UKT di akhir terancam tidak mendapatkan mata kuliah peminatan yang diinginkannya.
Sejak angkatan 2021 hingga sekarang, sistem pemilihan mata kuliah peminatan di Jurusan Kimia menggunakan Google Form. Sistem ini dibagi menjadi beberapa tahap (batch) atau gelombang. Pada setiap tahap, mahasiswa dapat memilih mata kuliah peminatan yang diinginkan melalui Google Form.
Setelah tahap pertama, pihak Jurusan Kimia akan menentukan siapa saja yang mendapat mata kuliah peminatan sesuai pilihan mahasiswa di batch pertama. Mahasiswa yang pilihannya tidak terpenuhi akan diberikan kesempatan memilih lagi pada tahap berikutnya dengan pilihan mata kuliah yang tersisa. Proses ini berulang hingga semua mahasiswa terdistribusi ke semua mata kuliah peminatan.
Menurut Yulinda, sistem Google Form ini bertujuan untuk memberikan kesempatan yang lebih adil bagi semua mahasiswa, terutama mereka yang membayar UKT di akhir periode. Sistem ini diharapkan dapat menghindari situasi di mana mahasiswa yang membayar UKT lebih lambat hanya mendapatkan sisa mata kuliah yang kurang diminati. Meskipun demikian, Yulinda mengakui bahwa sistem pemilihan mata kuliah peminatan sering kali menimbulkan ketidakpastian bagi mahasiswa. Salah satu hambatan yang ia rasakan adalah proses yang berlangsung cukup lama dan tidak transparan.
“Kita tuh ngambang, walaupun sudah milih, belum tentu tahu apakah pilihan kita akan diterima atau malah dilempar (harus kembali memilih mata kuliah peminatan di batch selanjutnya). Terus, dilemparnya sampai kapan juga nggak jelas. Misalnya, udah milih di batch 2, tapi nggak tahu bakal keterima atau nggak. Bisa jadi malah pindah ke batch 3, dan begitu terus sampai selesai,” tuturnya. Kondisi tersebut membuat mahasiswa sulit merencanakan perkuliahan dengan pasti, karena posisi mereka dalam sistem penempatan mata kuliah baru akan diketahui setelah seluruh proses seleksi selesai.
Baik Anggi maupun Yulinda mengakui adanya matkul peminatan atau pilihan yang sering dipilih mahasiswa hingga melebihi kuota. Biasanya, kuota satu matkul peminatan di setiap jurusan hanya 20 mahasiswa. Namun, baik di Jurusan Biologi maupun Kimia, dalam matkul peminatan yang dipilih mayoritas mahasiswa pun tidak terdapat penambahan kuota.
Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Sains dan Teknologi, Yudha Satya Perkasa, menyatakan bahwa dalam kurikulum, tidak ada batasan jumlah mahasiswa yang boleh memilih peminatan tertentu. Pembatasan kuota saat KRS dilakukan agar dosen di matkul peminatan yang ternyata banyak dipilih tidak kewalahan dalam mengajar. “Oleh karena itu, kita arahkan mahasiswa agar mengikuti kelompok keahlian yang lain gitu. Jadi bukan dibatasi sebetulnya, hanya untuk mengarahkan supaya mahasiswa tersebut bisa memiliki minat di bidang yang lain,” ujarnya.
Menanggapi kendala mahasiswa yang tidak mendapatkan matkul peminatan sesuai keinginannya, Yudha menjelaskan bahwa ketergantungan semata pada minat pribadi dapat berdampak negatif, seperti perpindahan kelompok keahlian yang berulang. Hal ini akan menyulitkan mahasiswa, terutama saat mengerjakan penelitian karena kurangnya fokus dan konsistensi.
Oleh karena itu, beliau menyarankan agar mahasiswa dapat menerima mata kuliah peminatan yang didapatkannya. “Nah, setelah itu Anda (mahasiswa yang memilih matkul peminatan) kalo bisa fokus aja. Ketika ‘Aduh, Pak, susah di kelompok ini,’ ya sudah fokus aja. Insya Allah dosen akan membantu untuk melalui apa yang menjadi pilihan Anda,” ucapnya.
Menurut Yudha, praktik barter matkul peminatan antar mahasiswa pun bukan masalah selama atas kesepakatan bersama. Ia memaparkan bahwa pembatasan kuota KRS matkul peminatan bukan bertujuan untuk membatasi eksplorasi mahasiswa, tetapi untuk mengarahkan agar persebaran mahasiswa di setiap bidang peminatan lebih merata.
“Lucu, kan, kalo misalnya dalam satu jurusan ada lima peminatan hanya ada satu bidang saja yang semua mahasiswa mau ke sana. Ya, kan, aneh juga, kan? Nah, seperti itu. Makanya kita coba bagi sehingga ada dalam tanda kutip ada ‘batasan’,” tukasnya. Yudha menjelaskan bahwa pembatasan kuota KRS matkul peminatan bukan bertujuan sebagai bentuk pemaksaan terhadap mahasiswa, tetapi untuk mengarahkan mahasiswa ke peminatan lainnya yang barangkali akan lebih disukai.
Nah, itu tadi lika-liku memilih matkul peminatan di salah dua jurusan di UIN SGD Bandung. Kalo di jurusan Fresh Reader sendiri gimana? Masih berebut matkul peminatan atau malah udah dipaketin, nih, sampai semester akhir? Perbanyak referensi dan berdiskusi dengan teman dan dosen tidak hanya memperkaya wawasan dan ketertarikan juga, tetapi bisa membantu skripsi kita juga nantinya. Jadi, apapun matkul peminatan yang kita pilih dan dapatkan, jangan sampai mematahkan semangat belajar kita, ya!
Fresh Crew: Nabila Rahma Hidayat/Magang
Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

