Mengenal Streisand Effect, Upaya Sensor Berujung Menarik Perhatian

- Advertisement -
Sketchplanation

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Upaya penyensoran dan pembredelan kerap menimpa sejumlah karya yang sarat kritik, tidak terkecuali pada karya seni. Februari 2024 lalu, Bayar Bayar Bayar karya band punk asal Purbalingga, Sukatani, menjadi sasaran represi. Buntut dari video klarifikasi dan penarikan lagu yang dirilis tahun 2023 ini mengundang rasa penasaran khalayak untuk mencari tahu lebih lanjut. Sehingga, alih-alih lenyap, kini lagu Bayar Bayar Bayar menggema dimana-mana. Nah, hal ini dikenal dengan fenomena streisand effect.

Mengutip Britannica, streisand effect merupakan sebuah fenomena dimana upaya untuk menyensor, menyembunyikan, atau mengalihkan perhatian terhadap sesuatu, tetapi berujung menarik banyak perhatian. Alih-alih terkubur, informasi yang awalnya akan disembunyikan malah mengundang rasa penasaran publik dan berakhir tersebar luas. Istilah ini  dipopulerkan oleh jurnalis Mike Masnick pada tahun 2005 yang merujuk pada kasus gugatan penyanyi asal Amerika, Barbra Streisand, terhadap fotografer Kenneth Adelman di tahun 2003.

Saat itu, di antara 12 ribu jepretan garis pantai California yang diunggah Adelman, terdapat satu foto yang menampilkan rumah besar Streisand. Ia menuntut sebesar 50 ribu dolar AS karena menganggap hal tersebut mengganggu privasinya. Foto yang awalnya hanya diunduh 6 kali, tembus 400 ribu kali unduhan saat kasus ini mencuat ke permukaan. Niat hati agar foto rumahnya dihapus, namun karena keingintahuan publik, foto tersebut berakhir menyebar ke seantero dunia.

Hal ini serupa dengan kasus yang menimpa band Sukatani. Lagu Bayar Bayar Bayar  ditarik Sukatani dari platform musik, seiring dengan unggahan video klarifikasi yang berisi permintaan maaf kepada institusi kepolisian pada 20 Februari 2025. Permintaan penarikan yang berasal dari institusi kepolisian RI ini menyebabkan boomerang. Alih-alih tenggelam, kini lagu dengan lirik ‘bayar polisi’ ini membanjiri internet, bahkan digaunglantangkan saat aksi yang bertajuk Indonesia Gelap di berbagai daerah.

Begitu pula pada pameran pelukis kenamaan, Yos Suprapto, yang dibredel pada 19 Desember 2024 lalu. Sebelumnya, diketahui kurator yang berakhir mengundurkan diri, Suwarno, keberatan dengan ‘Konoha I’ dan ‘Konoha II’ karena dinilai tidak berkesinambungan dengan tema pameran.

Kemudian, selaku pihak penyelenggara, Galeri Nasional mengunci dan mematikan lampu ruang galeri serta meminta lima karya yang dinilai terlalu vulgar dan mirip dengan tokoh terkenal diturunkan. Akhirnya, Yos memutuskan untuk menarik semua lukisan dan membatalkan pameran karyanya. Tetapi, hal ini justru menyita perhatian publik. Tujuh lukisan yang awalnya akan dibatasi peredarannya, kini berujung tersebar luas lewat internet dan diketahui publik.

Fresh Reader, ternyata hal tersebut ada penjelasannya secara psikologis, lho! Dilansir dari Kumparan, fenomena streisand effect berkelindan dengan teori psikologi reaktansi yang dikemukakan Jack Brehm pada 1966. Teori ini menjelaskan bahwa manusia cenderung menolak pembatasan terhadap kebebasan mereka. Semakin sesuatu dilarang, semakin besar dorongan untuk mengaksesnya.

Getah dari streisand effect pun berbeda-beda. Dalam konteks sosial, streisand effect dapat memperkuat kebebasan berbicara, suatu isu yang disensor memungkinkan adanya diskusi publik yang lebih luas tentang isu tersebut. Sedangkan dalam kasus individu, hal ini dapat merusak citra seseorang karena berusaha menyembunyikan sesuatu. Begitu juga dengan organisasi atau brand, hal ini dapat menurunkan kepercayaan pelanggan dan investor.

Oleh karena itu, transparansi sangat penting agar terhindar dari streisand effect. Untuk mencegahnya, dapat dilakukan dengan menunjukan keterbukaan sikap, tanggapi permasalahan secara proporsional, dan hindari menanggapi ulasan yang bersifat negatif maupun kritik dengan respon yang terkesan intoleran terhadap masukan.

Selain itu, fasilitasi masyarakat dengan saluran yang mudah diakses dan transparan untuk menampung usulan dan kritik, terutama pada organisasi, pemerintah, dan perusahaan. Namun, tentu dalam praktiknya, menghindari streisand effect ini tidak semudah yang dibayangkan. Maka dari itu, lebih cermatlah dalam berucap maupun bertindak untuk menghindari polemik yang mungkin dapat terjadi.

Sumber: Tempo, Economica, Hipkultur

Fresh Crew: Sofa Nur Alfiah/Magang

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles