Ketika Hidup Terlalu Online Sampai Kesehatan Diri Terabaikan

- Advertisement -
Freepik

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Velocity, “ᗪOᗰISIᒪI ᗰᗩᑎᗩ?”, pria dan wanita Jepang memukul adonan mochi, ragam brainrot, “Nani ga suki” challenge, hingga paham Nenengisme merupakan sederet tren viral yang mewarnai jagad maya. Tren tersebut menyebar dengan sangat cepat di dunia maya dan menjadi konteks humor tersendiri. Kalau Fresh Reader chronically online, kemungkinan besar mengetahui semua itu, bahkan di luar kepala. Lantas apa, ya, chronically online itu?

Secara harfiah, chronically online berarti online yang kronis. Tetapi, istilah chronically online merujuk pada seseorang yang menghabiskan waktu dan hampir seluruh kehidupannya di internet atau media sosial (medsos). Istilah ini muncul sebagai turunan dari frasa “extremely online” dan “terminally online” tahun 2010-an yang sama-sama merujuk pada seseorang yang larut dalam dunia maya.

Istilah ini populer sejalan dengan berkembang pesatnya era digitalisasi. Di zaman sekarang, anak muda seolah tak bisa lepas dari gawai. Luang dikit scroll Instagram, mnunggu antrian sembari scroll TikTok. Pengen baca-baca info terkini yang ditulis singkat dan mudah dipahami, tinggal buka X. Dilansir dari Dipstrategy, orang Indonesia menggunakan internet dengan rata-rata waktu 8 jam 30 menit. Makanya, ada aja orang yang tahu banyak soal hal-hal terbaru yang sedang menjamur di laman medsos.

Kini, istilah chronically online ramai digunakan Gen Z untuk menggambarkan orang yang banyak tahu mengenai tren terkini media sosial. Pergerakan internet yang sangat cepat membuat seseorang merasa selalu kehilangan sesuatu yang penting, baik itu tren, penjualan baru, berita terkini, kisah viral dari seorang influencer, atau bahkan meme lucu. Oleh karena itu, seseorang akan rela menghabiskan waktu berjam-jam di dunia maya agar tidak ketinggalan semuanya.

Dilansir dari Fimela.com, orang yang bisa disebut chronically online lebih banyak suka membicarakan hal-hal yang terjadi di internet dibandingkan di dunia nyata. Mereka juga lebih memilih bertemu orang secara online daripada langsung. Tak jarang, mereka menghabiskan waktu lebih banyak di internet sampai-sampai menjadi kurang aktif di dunia nyata.

Jika terus dibiarkan, kondisi ini dapat berdampak negatif dalam segala aspek kehidupan. Dikutip dari Clearbehavioralhealth.com, terlalu larut di dunia maya bisa membuat kita terjebak dalam hubungan parasosial (hubungan sepihak) sehingga lupa akan kehidupan di dunia nyata. Seseorang dapat merasa terhubung karena banyak interaksi di internet, padahal sebenarnya bisa jadi semakin jauh dari keluarga dan teman.  Jika terjadi terus-menerus, seseorang bisa merasa lelah, terisolasi, dan kehilangan hubungan yang sebenarnya penting.

Lebih lanjut,  chronically online dapat berdampak negatif pada kesehatan mental. Saat daring, peralihan antara topik serius ke video lucu atau meme yang diatur algoritma dapat menyebabkan lonjakan emosi yang sangat hebat. Akibatnya, sistem saraf menjadi terbiasa dengan perubahan yang kacau.

Akhirnya, kebutuhan naluriah untuk selalu mendapatkan informasi tentang segala hal dapat menjadi sifat alami. Seseorang dapat mengesampingkan pertumbuhan pribadi dan mengisolasi diri dengan melihat orang lain melalui layar. Hal ini menyebabkan sikap membanding-bandingkan diri, kecemasan, depresi, isolasi diri dari kehidupan sosial, ekspektasi yang tidak realistis, masalah harga diri, kesepian emosional, dan bahkan kelelahan mental.

Selain itu, berselancar di internet tanpa henti dapat berpengaruh pada kesehatan fisik. Keseringan online dapat membuat seseorang mengabaikan aktivitas fisik, tidak makan teratur, kurang minum cukup air, atau bahkan nyaris tidak pernah menghabiskan waktu di luar ruangan. Padahal, kondisi fisik yang terus terabaikan dapat mengikis kebugaran tubuh dan membuat kita lebih mudah mengantuk saat melakukan aktivitas yang butuh fokus tinggi.

Untuk mengatasinya, mulailah dari langkah kecil. Misalnya, tinggalkan ponsel di ruangan lain agar tidak tergoda untuk memeriksanya terus-menerus. Batasi penggunaan gawai dan mengecek media sosial, bisa dengan bantuan aplikasi pembatas waktu bermain gawai. Cara sederhana ini bisa menjadi awal mengurangi penggunaan internet secara berlebihan, apalagi untuk hal-hal yang tidak esensial dalam hidup kita.

Bentuk lain pemutusan hubungan dari dunia maya dapat dengan  menonton film, memasak, membaca buku, menggambar, dan banyak lainnya. Ajaklah teman agar Fresh Reader semakin termotivasi untuk menjauhi dunia maya dan lebih menikmati kehidupan dunia nyata. Yuk, gunakan internet dan media sosial dengan bijak! Ya gak apa-apa, sih, jadi si paling update info, tapi jangan sampai mengorbankan kualitas hidup kita, ya!

Sumber: Clearbehavioralhealth.com, Fimela.com, Dipstrategy

Fresh Crew: Sofa Nur Alfiah/Suaka

Editor Fresh: Hanifah F. Reine/Suaka

Latest articles

Related articles