
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Jam sudah menunjukkan pukul 23.47. Tugasku sebenarnya sudah selesai sejak dua jam lalu. Tapi entah kenapa, aku masih membuka laptop dan mencari hal lain untuk dikerjakan. Rasanya aneh kalau langsung tidur. Seperti ada suara kecil di kepala yang berbisik, “Masa cuma segini aja produktifnya hari ini?”
Padahal sejak pagi aku sudah ikut kelas, mengerjakan tugas, membalas pesan penting, bahkan menyempatkan membaca materi tambahan. Namun ketika melihat unggahan teman yang ikut webinar, organisasi, sampai lomba ini-itu, tiba-tiba semua yang kulakukan terasa kurang. Aku jadi merasa bersalah hanya karena ingin istirahat.
Kalau Fresh Reader pernah ada di posisi itu, bisa jadi kamu sedang berhadapan dengan toxic productivity. Istilah ini merujuk pada pola pikir yang membuat seseorang merasa harus selalu produktif dan merasa bersalah ketika beristirahat. Seolah-olah nilai diri ditentukan dari seberapa sibuk dan seberapa banyak pencapaian yang berhasil diraih. Dilansir dari halodoc.com, toxic productivity juga sering dikaitkan dengan workaholic atau kecanduan kerja, yaitu dorongan tidak sehat untuk terus bekerja dan menjadi produktif setiap saat, bahkan ketika sebenarnya tidak diperlukan.
Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari budaya hustle culture (kerja tanpa henti). Di media sosial, kesibukan sering dipamerkan sebagai simbol kesuksesan. Bangun jam 4 pagi dianggap keren, jadwal padat tanpa jeda disebut ambisius, dan kata “rebahan” sering diposisikan sebagai sesuatu yang negatif. Tanpa sadar, kita jadi takut terlihat santai karena khawatir dicap malas.
Sekilas, kebiasaan ini mengarah kepada hal yang positif, padahal ada beberapa tanda yang menunjukkan bahwa produktivitas sudah mulai tidak sehat. Salah satunya, merasa cemas saat tidak melakukan apa-apa. Selain itu, sulit menikmati waktu luang karena pikiran terus memikirkan pekerjaan berikutnya. Tak jarang, seseorang tetap memaksakan diri bekerja meski tubuh sudah memberi sinyal lelah. Bahkan, ada yang mengukur harga diri hanya dari pencapaian akademik atau karier.
Jika pola ini terus dibiarkan, dampaknya bisa berujung pada burnout. Burnout adalah kondisi kelelahan fisik, mental, dan emosional akibat stres berkepanjangan. Gejalanya bisa berupa kehilangan motivasi, mudah marah, sulit fokus, bahkan merasa hampa terhadap hal-hal yang dulu disukai. Ironisnya, semakin dipaksa untuk produktif, justru semakin sulit untuk benar-benar menghasilkan sesuatu dengan maksimal.
Dilansir dari klikdokter.com, terdapat beberapa ciri yang menunjukkan seseorang mulai terjebak dalam toxic productivity. Kondisi ini sering muncul tanpa disadari karena keinginan untuk terus terlihat sibuk dan produktif setiap saat. Akibatnya, seseorang cenderung mengabaikan kebutuhan tubuh untuk beristirahat.
Salah satu ciri toxic productivity adalah terobsesi untuk terus produktif hingga bekerja secara berlebihan dan mengorbankan kesehatan fisik maupun mental. Orang yang mengalaminya juga sering merasa bersalah saat berdiam diri, seolah-olah istirahat adalah bentuk kemalasan. Selain itu, mereka kerap memiliki ekspektasi yang tidak realistis dengan menetapkan target terlalu tinggi sehingga terus memaksakan diri mengejar berbagai tugas tanpa jeda.
Tak hanya itu, seseorang yang terjebak dalam toxic productivity biasanya tidak pernah merasa puas dengan pencapaiannya. Meskipun hasil yang diraih sudah cukup baik, perasaan “kurang” tetap muncul sehingga berbagai aktivitas terus dilakukan. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan tidak memberi ruang untuk beristirahat dan memilih tetap bekerja meski sedang sakit, padahal mengabaikan kebutuhan istirahat dapat memperburuk kondisi fisik maupun mental.
Jika Fresh Reader mulai merasa mengalami beberapa tanda di atas, mungkin ini saatnya mengevaluasi kembali cara memaknai produktivitas. Jangan sampai ambisi yang awalnya bertujuan baik justru berubah menjadi tekanan yang merugikan diri sendiri. Menyadari hal tersebut dapat menjadi langkah awal untuk membangun pola kerja yang lebih sehat dan seimbang.
Lalu, apakah artinya kita harus berhenti mengejar mimpi? Tentu tidak. Kuncinya bukan berhenti produktif, tapi memahami konsep istirahat yang sehat. Istirahat bukan bentuk kemalasan, melainkan kebutuhan biologis dan psikologis. Tidur cukup, mengambil jeda setelah menyelesaikan tugas, melakukan hobi, atau sekadar tidak melakukan apa-apa adalah bagian dari manajemen diri yang matang.
Perlu diingat bahwa produktivitas yang sehat itu tentang keseimbangan. Kita boleh ambisius, boleh punya banyak target, tapi tetap perlu memberi ruang untuk diri sendiri bernapas. Belajar berkata “cukup” juga bagian dari kedewasaan emosional. Dengan begitu, produktivitas tidak lagi menjadi tekanan, melainkan cara untuk berkembang secara sehat.
Jadi, kalau hari ini kamu sudah berusaha dan merasa lelah, tidak apa-apa untuk berhenti sejenak. Dunia tidak akan runtuh hanya karena kamu memilih tidur lebih awal. Kadang, keputusan paling produktif yang bisa kita ambil justru adalah beristirahat. Karena tubuh dan pikiran yang sehat adalah bekal utama untuk kembali melangkah esok hari.
Fresh Crew: Lulu Dinda Khairani/Magang
Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

