Ketika Toxic Masculinity Menggerus Emosi dan Jati Diri Laki-Laki

- Advertisement -
Doc.net

FRESHSUAKAONLINE.COM– “Boys don’t cry” atau “lelaki tidak bercerita”. Pernahkah Fresh Reader mendengar ungkapan seperti itu? Sikap tersebut adalah salah satu contoh nyata dari toxic masculinity, di mana laki-laki dianggap harus selalu tangguh dan tidak boleh mengeluh.

Dilansir dari alodokter.com, toxic masculinity merupakan tuntutan sosial dan budaya bagi kaum pria untuk selalu menunjukkan kekuatan, kekuasaan, dan menutup diri secara emosional demi menghindari stigma bahwa pria tidak boleh lemah. Padahal, menjadi sosok yang lembut atau ekspresif adalah hal yang wajar bagi siapa saja, termasuk pria.

Hal ini sejalan dengan penelitian dalam Jurnal Kajian Sosiologi yang menyoroti beberapa bentuk nyata dari perilaku toxic masculinity, seperti adanya anggapan tabu terhadap pria yang menggunakan produk perawatan kulit atau skincare. Mereka seringkali mendapatkan respons negatif ketika menggunakannya karena dinilai terlalu feminin. 

Sebaliknya, tuntutan sosial menganggap bahwa “laki-laki sejati” adalah mereka yang berperilaku agresif dan melakukan hal-hal maskulin yang identik dengan kegiatan fisik, seperti olahraga, berkelahi, dan berpetualang, serta memiliki hobi otomotif. Standar ini sering kali membuat laki-laki berpura-pura untuk memiliki minat serupa demi pengakuan semata. 

Perilaku toxic masculinity juga dapat terlihat saat banyak pria lebih memilih untuk diam ketika menjadi korban pelecehan maupun korban kekerasan seksual. Mereka merasa bahwa hal tersebut adalah kejadian yang memalukan. Masyarakat sekitar pun sering kali mengabaikan karena stereotip, yakni sebuah pandangan subjektif yang tidak tepat mengenai suatu golongan,  dengan anggapan bahwa laki-laki harus selalu kuat dan tidak boleh mengeluh.

Karena itu juga, pria sering kesulitan dalam mengatur emosinya. Konstruksi budaya membuat mereka menahan diri untuk mengekspresikan perasaannya. Masculinity kerap kali dikaitkan dengan kekuatan dan keberanian sehingga pria merasa harus selalu tampil dominan dan pantang menunjukkan kesedihan. Mereka yang tidak berperilaku sesuai dengan standar sosial berujung menjadi sasaran diskriminasi masyarakat sekitar.

Tak hanya itu, pria yang sering bergaul dengan wanita juga dianggap mengurangi sisi dominasi pria. Sebutan “cowok kemayu” atau “tulang lunak” kerap dilontarkan sebagai senjata verbal untuk menghakimi mereka. Demi menghindari label tersebut, alhasil pria terpaksa untuk membatasi interaksi sosialnya.

Tekanan sosial tersebut tidak hanya memengaruhi cara pria berperilaku, tetapi juga berdampak pada kesehatan fisik dan mental mereka. Dilansir dari hellosehat.com, orang dengan masculinity yang toxic cenderung mengabaikan kesehatan. Mereka sering kali menolak pengecekan kesehatan karena tidak ingin terlihat lemah.

Di samping itu, perilaku yang tidak sehat seperti merokok, minum alkohol secara berlebihan, dan menggunakan obat terlarang justru dilakukan oleh mereka sebagai pelarian sekaligus ajang pembuktian bahwa mereka berani dan tangguh. Lama-kelamaan, kebiasaan memendam emosi ini menyebabkan risiko depresi dan gangguan kecemasan mereka meningkat.

Lantas, dari mana semua tuntutan ini berasal? Jika kembali pada masa sebelum adanya kesetaraan gender, pengelompokan antara laki-laki dan perempuan selalu menjadi masalah budaya. Menurut Jurnal Kajian Sosiologi, maskulinitas pada seorang laki-laki selalu menjadi hal yang utama. Pembagian sifat feminin dan maskulin pada individu ini nyatanya tidak terlepas dari pengaruh budaya patriarki yang diwujudkan dalam bentuk stereotip gender.

Untuk memutus rantai toxic ini, Fresh Reader dapat memulainya dengan langkah kecil di lingkungan terdekat, seperti berhenti menghakimi laki-laki yang berani untuk menunjukkan sisi sensitifnya. Menangis maupun meminta pertolongan adalah hal yang wajar bagi semua orang karena setiap manusia memiliki emosi yang dirasakan.

Selain itu, Fresh Reader juga dapat mengajak lingkungan sekitar termasuk pria untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan kekerasan seksual. Dengan membangun kesadaran bersama, laki-laki dapat memiliki ruang aman dan tidak lagi merasa terasingkan, terutama ketika dirinya menjadi korban.

Mari kita mulai memberi ruang aman bagi siapapun termasuk laki-laki untuk berani jujur pada diri sendiri. Fresh Reader dapat saling mendukung agar ekspektasi kaku soal kejantanan ini tidak lagi dijadikan tolak ukur harga diri seseorang. Sebab pada akhirnya, ketangguhan yang sesungguhnya justru terletak pada keberanian untuk menerima segala kerapuhan. 

Fresh Crew: Meyliana Sofiyanti/Magang

Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles