
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Pernahkah Fresh Reader merasa jadi ‘mak comblang’ tapi secara digital? Belakangan ini, fenomena Furap meledak di berbagai sosial media. Banyak dari kita mendadak jadi pengawal hubungan seseorang yang bahkan tidak kita kenal. Meski terlihat sepele, Fresh Reader tahu nggak, sih? Ternyata kebiasaan menjodoh-jodohkan public figure ini memiliki kaitan yang erat dengan kondisi psikologis kita, lho.
Secara sederhana, kondisi seperti ini dikenal dengan istilah parasocial relationship. Dilansir dari Alodokter.com, istilah tersebut menggambarkan keadaan hubungan sepihak antara penggemar dan sang idola. Seseorang bisa dianggap mengalami parasocial relationship ketika ia merasa memiliki ikatan emosional dengan idolanya, seperti selebriti, influencer di media sosial, bahkan karakter animasi atau games.
Setelah ini, mungkin Fresh Reader akan bertanya-tanya, seperti apa tanda-tanda ketika seseorang tenggelam dalam parasocial relationship ini? Nah, secara umum sebenarnya ada beberapa tanda yang sering terjadi, seperti bertanya-tanya kepada diri sendiri tentang apa yang sedang dilakukan, dipikirkan, atau bahkan dirasakan oleh idolanya saat ini. Hal ini biasanya dibarengi dengan mengecek media sosial idolanya hanya untuk mengetahui informasi terbaru tentangnya.
Tak hanya itu, tanda lainnya dapat dilihat ketika seseorang merasa memiliki hubungan spesial dengan idolanya dan memandang idola sebagai sosok yang sudah kenal dekat dengan dirinya. Mereka akan membayangkan dan mencari tahu tentang informasi pribadi idolanya, seperti latar belakang keluarga atau dengan siapa mereka menjalin hubungan.
Meski terkesan aneh, namun ternyata parasocial relationship ini bisa membawa sejumlah manfaat positif jika masih dalam batasan. Dilansir dari hellosehat.com, beberapa pengaruh positif dari kondisi ini diantaranya yaitu meningkatnya kepercayaan diri yang lebih karena merasa memiliki support system, yaitu idolanya. Seseorang juga dapat termotivasi untuk melakukan kegiatan positif karena pengaruh sang idola.
Hubungan satu arah ini juga bisa membuka ruang baru untuk terhubung dengan orang lain di dunia nyata, misalnya berkumpul dengan penggemar dengan idola yang sama. Interaksi ini tidak hanya memperluas relasi sosial, tapi juga dapat membuka peluang untuk berbisnis, misalnya jasa titip pembelian tiket konser atau trip bersama.
Meski begitu, parasocial relationship juga dapat memberikan dampak buruk jika mulai mendominasi kehidupan hingga membuat kita melupakan realita di dunia nyata. Kondisi ini dapat mengganggu keadaan mental karena obsesi berlebihan pada idola, seperti celebrity worship syndrome hingga erotomania, sebuah gangguan psikologis dimana seseorang merasa sangat yakin bahwa ada orang yang sedang jatuh cinta padanya dan percaya bahwa idolanya merasakan cinta yang sama kepada diri mereka.
Dampak buruk lain yang sering kali terlihat adalah kesulitan keuangan karena merasa harus membeli produk-produk yang berkaitan dengan idolanya. Tapi, pernahkah Fresh Reader berpikir bahwa ternyata fenomena Fear of Missing Out (FoMO) menjadi salah satu pendorong terjadinya dampak buruk tersebut?
Merujuk pada Indonesian Journal of Digital Business (2023), perilaku Fear of Missing Out (FoMO) ini berperan menjadi perantara yang memperkuat keterikatan emosional pada parasocial relationship. Seseorang yang merasa terhubung dengan influencer selalu mengecek informasi terbaru yang ada di media sosial dan cenderung mengikuti tren atau membeli suatu produk yang dipromosikan agar tidak merasa tertinggal.
Lalu, bagaimana cara kita untuk menghadapi parasocial relationship ini? Dilansir dari hellosehat.com, hal pertama yang harus Fresh Reader lakukan adalah jujur pada diri sendiri. Dengan begitu, Fresh Reader akan lebih mudah untuk menuju langkah yang selanjutnya, yaitu membatasi penggunaan sosial media, mempererat hubungan dengan orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman, lalu mencari hobi baru untuk sumber kebahagiaan lainnya.
Ingat ya, Fresh Reader, walaupun mengidolakan seseorang memberikan rasa bahagia, tapi bukan berarti kita jadi mengabaikan kehidupan di dunia nyata. Tetaplah waspada apabila kegiatan tersebut sudah mulai mengganggu kita. Tak ada salahnya jika berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia maya, dan mulailah melihat realita.
Fresh Crew: Meyliana Sofiyanti/Magang
Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

