Sudah Dibangun, tapi Siapa yang Mau Belanja?

- Advertisement -

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Fresh Reader, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) mencuri perhatian netizen karena dinilai dibangun di tempat-tempat yang nyeleneh, misalnya di Tempat Pemakaman Umum (TPU), pinggir pantai, hingga saling berhadapan. Pasalnya, pembangunan yang terbilang unik tersebut menimbulkan pertanyaan besar siapa yang akan membeli dan berbelanja di lokasi tersebut?

Program Kopdes atau Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih yang diinisasi oleh pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ditujukan untuk menggerakkan ekonomi, menciptakan perputaran ekonomi di desa, hingga mendongkrak perekonomian Indonesia. Kopdes direncanakan akan berdiri hingga 30 ribu di nusantara.

Beberapa dari kopdes yang sudah dibangun memiliki lokasi yang cukup unik dan nyeleneh. Sebuah kopdes di Kuningan, Jawa Barat, dibangun di area kaki Gunung Ciremai, lokasi ini tampak seperti titik merah kecil di antara hijaunya pepohonan. Hebatnya lagi, kopdes yang sudah berdiri kokoh tersebut sangat jauh dari pemukiman warga, lantas bagaimana penduduk berbelanja di kopdes tersebut, dong.

Di Jawa Tengah, tepatnya di Kecamatan Platungan, Kabupaten Kendal, berdiri sebuah unit kopdes yang ada di lereng Gunung Prau. Lokasi yang kurang strategis ini menjadi tanda tanya besar karena berada di ketinggian dan akses yang cukup melelahkan. Masih di Jawa Tengah, Blora, satu unit kopdes berdiri tepat di samping tempat pemakaman umum. Nah, barangkali fresh reader tertarik berbelanja sekaligus mencari hantu?

Permasalahan pembangunan kopdes di lokasi yang tidak lazim ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar, “Siapa, sih, target pembelinya? Mengapa pemerintah harus mengejar target pembangunan sebanyak 30 ribu jika terdapat lokasi yang nyeleneh ini? Beberapa kopdes yang unik tersebut menjadi jelas jika pemerintah hanya menekankan ”yang penting jadi” dibanding memikirkan keuntungan untuk mendongkrak ekonomi desa seperti rencana awal.

Menurut Surat Edaran Menteri Koperasi Nomor 4 Tahun 2025 tentang Pendataan Aset Tanah dan/atau Bangunan untuk Percepatan Pembangunan Fisik Gerai, Pergudangan, dan Kelengkapan KDMP mensyaratkan lokasi kopdes memenuhi minimal dua kriteria. Pertama, lokasinya strategis atau mudah dijangkau. Kedua, luas lahannya minimal 1.000 meter persegi.

Sayangnya, pada kenyataannya tidak begitu. Beberapa kopdes seperti yang disebutkan di atas berada jauh dari pemukiman. Di Kendal contohnya, kopdes yang dibangun di lereng Gunung Prau justru memiliki akses yang cukup melelahkan karena pembeli harus mendaki terlebih dahulu. Sulit rasanya menyebut lokasi seperti ini “strategis” atau mudah dijangkau.

Koperasi yang katanya mau menggerakkan ekonomi rakyat seharusnya dimulai dari hal paling dasar, yaitu memetakan siapa pembelinya, di mana mereka tinggal, dan apa yang mereka butuhkan. Warga yang rumahnya terpencar jauh tidak mungkin jalan kaki berkilo-kilo hanya demi beli minyak goreng, apalagi kalau harganya belum tentu lebih murah dari warung madura.

Fresh reader, melihat pembangunan kopdes di lokasi yang tidak lazin ini menyadarkan kita bahwa mega proyek ini masih butuh perencanaan yang matang. Semoga saja kopdes-kopdes ini nantinya benar-benar bermanfaat bagi warga, bukan menjadi tempat foto atau spot uji nyali, ya, fresh reader.

Fresh Crew: Imam Syaban Abdurrahman/Suaka

Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles