Kecemasan Diam-Diam Menggorogoti Diri Menuju Kedewasaan

Freepik
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Semakin bertambah usia berarti akan berlipat juga tanggung jawab yang kita hadapi. Pernah gak, sih, Fresh Reader merasakan hampa di hari ulang tahun? Bukan karena tidak senang menyambut hari kebahagiaan, tapi sebab tahu akan ada beban moral dan sosial tak tertulis yang akan bertambah.
Bertambahnya beban moral dan sosial ini tidak jarang membuat Fresh Reader, terutama Gen Z yang masih berada di dewasa awal menjadi overthinking. Tanggung jawab akademik, organisasi, hingga keluarga terus bertambah, tetapi rasa puas terhadap diri sendiri justru nyaris tak terasa. Terlebih lagi jika standar yang dimiliki adalah keberhasilan orang lain, ini pasti akan sangat mengusik pikiran.
Kecemasan dan kekawatiran seperti ini dalam ilmu psikologi disebut dengan anxiety atau kecemasan. Pada dasarnya kecemasan merupakan hal wajar yang dirasakan oleh individu, namun jika terjadi terus-menerus dan dalam jangka waktu panjang dapat berakibat buruk. Jika kadar kecemasan sudah berlebihan maka disebut dengan anxiety disorder atau gangguan kecemasan.
Melansir dari halodoc.com, anxiety disorder atau gangguan kecemasan adalah perasaan khawatir atau cemas yang tak terkendali atau berlebihan akan banyak hal. Kecemasan mengarahkan seseorang untuk menghindari apa yang menjadi ketakutan mereka. Perasaan lega sesaat memang bisa muncul setelah dapat menghindari “hal yang menakutkan”.
Namun, ketika ancaman yang sama datang kembali, perasaan takut dan khawatir akan kian mendalam. Hal tersebut justru memperparah kecemasan di kemudian hari. Mayoritas pengidapnya tidak dapat menyebutkan penyebab dirinya cemas berlebihan. Kondisi ini sangat rentan dialami oleh orang dewasa berusia 30 tahun ke atas, meski pada umumnya dapat menimpa siapapun.
Bahkan, berdasarkan penelitian Kaligis dkk. (2021), kecemasan menjadi masalah kesehatan mental yang paling sering dialami anak muda usia 16-24 tahun atau sedang dalam fase “transitional-age youth”, yakni dengan persentase 95,4%. Hal ini karena dalam fase tersebut, tantangan yang harus dihadapi dan tekanan dari lingkungan baru semakin meningkat. Sayangnya, masih sedikit dari mereka yang mencari bantuan profesional.
Gangguan kecemasan membuat tubuh selalu merasa waspada terkena bahaya, seakan sesuatu yang buruk akan terjadi ketika sebenarnya ketakutan tersebut hanya ilusi di kepala. Masalah kesehatan mental ini juga membuat otak selalu berpikir sekalipun sedang lelah, seolah kepala bekerja seperti mesin tanpa henti. Terkadang, kecemasan juga menimbulkan sesak napas, seakan ada sesuatu yang menekan dada.
Gejala psikologis lain yang dirasakan adalah kekhawatiran berlebih, pikiran negatif yang berulang, kesulitan konsentrasi, iritabilitas atau mudah marah, sering merasa tegang tanpa alasan yang jelas, dan gangguan tidur. Sulitnya, gejala ini dapat terasa oleh pengidap gangguan kecemasan tanpa mengenal waktu dan situasi.
Selain berpengaruh pada kesehatan psikologis, gangguan kecemasan juga dapat mempengaruhi kesehatan fisik. Gejala yang dirasakan yaitu pusing dan kelelahan, jantung berdebar-debar, nyeri fisik baik pada kepala, perut, ataupun otot tanpa sebab medis yang jelas, gemetar dan berkeringat berlebihan, sesak napas, serta masalah pencernaan. Jika Fresh Reader merasakan gejala tersebut, segera konsultasikan kepada ahlinya dan jangan melakukan self diagnose.
Untuk mengatasi gangguan kecemasan, psikolog biasanya menyarankan pengidapnya untuk memperbaiki gaya hidup, seperti melakukan aktifitas fisik atau berolahraga, tidur yang cukup, dan menerapkan teknik relaksasi seperti meditasi atau yoga. Pemulihan akan semakin optimal jika pengidapnya menghindari minuman beralkohol, berhenti merokok dan meminum kopi, serta selalu mengonsumsi makanan sehat dan bergizi.
Pengidap gangguan kecemasan dapat meredakan gejalanya melalui obat yang diresepkan dokter kejiwaan. Selain itu, terapi perilaku kognitif (CBT) membantu mengenali dan mengubah pola pikir serta perilaku pemicu kecemasan. Ada pula exposure therapy melatih penderita untuk menghadapi pemicu kecemasan secara bertahap dan terkendali.
Menghadapi kecemasan bukan berarti kita lemah, melainkan tanda bahwa tubuh dan pikiran sedang meminta perhatian. Tidak apa-apa untuk berhenti sejenak, mengambil napas, dan mencari bantuan ketika dibutuhkan. Ada kalanya mengambil rehat adalah cara terbaik untuk hidup yang lebih berkualitas, dan itu bukanlah masalah.
Sumber: buku Kesehatan Mental “Mengelola Stres, Cemas dan Meningkatkan Kesejahteraan Emosional”, International Journal of Environmental Research and Public Health, Anxiety First Aid, halodoc.com, RRI.co.id.
Fresh Crew: Risalatul Hasanah/Suaka
Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka