Hari Perempuan Internasional: Kisah Perempuan yang Melawan

- Advertisement -

FRESH.SUAKAONLINE.COM, Freshgrafis – Sejak zaman ketika perempuan masih buta huruf sampai saat emansipasi dan kesetaraan gender sudah digaungkan, sosok perempuan selalu disandingkan dengan sifat lemah lembut dan butuh perlindungan. Hal ini membentuk stereotipe yang menjadikan perempuan selalu diberikan pekerjaan-pekerjaan yang tidak lebih berat dan tinggi dari laki-laki.

Contohnya dalam peperangan, mereka yang berjuang dan berperang identik dengan laki-laki. Sedangkan, perempuan disudutkan untuk mengerjakan pekerjaan domestik seperti mengurus anak, membereskan rumah dan lainnya.

Terbatasnya kesempatan perempuan dalam dunia politik menjadi alasan mengapa tidak banyak perempuan yang ikut andil dalam peperangan. Perempuan acapkali mendapatkan tekanan dari kaum laki-laki lewat anggapan tidak mampu untuk melakukan peran-peran politis terlebih untuk ikut andil dalam peperangan.

Menurut Simone De Beauvoir dalam bukunya The Second Sex, laki-laki menekan perempuan dengan mengkategorikan perempuan sebagai Yang Liyan, sebagai sosok kebalikan dari laki-laki. Laki-laki merupakan manusia utama, dan perempuan adalah sosok kedua, atau warga kelas dua.

Perempuan ditekankan untuk menjadi submisif, penurut, juga selalu melakukan pekerjaan domestik. Ketika perempuan lepas dari kategori tersebut, mereka otomatis disebut sebagai perempuan yang ‘cacat’ atau perempuan tidak baik-baik sehingga mempersulit gerak perempuan.

Akan tetapi, tekanan tersebut tidak menyurutkan api semangat perjuangan yang mereka miliki. Dalam segala belenggu yang dibentuk, perempuan-perempuan mendobrak pemikiran tradisional patriarki dengan melakukan perlawanan dan ikut berjuang di ranah yang biasanya diperuntukkan untuk laki-laki.

Tercatat dalam sejarah bahwa peran dan keterlibatan perempuan sangat krusial pada peperangan, seperti contohnya melakukan rekonsialiasi, aktif berpendapat dan memotori pergerakan seperti yang dilakukan oleh Mirabal bersaudara.

Keberanian perempuan juga terbukti ketika perempuan tidak lagi menggantikan kaum laki-laki untuk mengurus rumah tangga saat mereka pergi berperang, akan tetapi juga ikut terjun langsung bersama kaum laki-laki, contohnya seperti Noor Inayat Khan, Cheng Benhua, Cut Nyak Dhien dan lainnya.  

Tidak jarang perempuan gugur ketika sedang memperjuangkan hak dan keadilan bagi diri dan sesamanya. Seperti yang baru saja terjadi pada Angel atau Kyal Sin dan Mya Thwate Thwate Khaing di Myanmar, yang berpulang karena tertembak saat mengikuti aksi demonstrasi anti-kudeta militer.

Hal ini membuktikan bahwa dalam diri perempuan, mengalir darah perjuangan. Perempuan tidak hanya memperjuangkan kesetaraan dan ketidakadilan yang menimpa dirinya sendiri, tapi perempuan juga memiliki semangat untuk ikut andil melawan kekejaman yang menimpa bangsanya.

Peneliti         : Gemilang Yusrima Renic/Suaka

Editor Fresh : Adinda Nuurlatifah

Latest articles

Related articles