Kuliah Akhir Tentang Cara Menjalani Hidup

- Advertisement -

Judul buku: Selasa Bersama Morrie

Penulis: Mitch Albom

Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono Widodo

Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama

Cetakan: Kesebelas, 2019

Jumlah halaman: 209 halaman

ISBN: 978-602-03-3457-8

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Peran guru sejatinya dapat membawa dampak bagi murid-muridnya. Begitu pula bagi Mitch Albom, orang tersebut adalah Morrie Schwartz, seorang mahaguru yang pernah menjadi dosennya hampir dua puluh tahun lampau. Keduanya dipertemukan kembali dan sepakat menjalani sebuah proyek “kuliah akhir” yang dituangkan dalam buku Selasa Bersama Morrie.

Morrie merupakan seorang profesor sosiologi. Di usianya yang menginjak 77 tahun, Morrie divonis menderita penyakit Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS), sebuah penyakit ganas, tak kenal ampun, yang menyerang sistem saraf. Alih-alih terbenam dalam rasa kecewa, Morrie menjadikan kematian sebagai proyek penghabisannya. Ia menikmati perjalanan menuju kematiannya dengan memusatkan perhatiannya pada hari-hari yang tersisa.

Bagi Morrie, setiap orang tahu bahwa mereka akan mati, namun tidak seorang pun percaya itu akan terjadi pada mereka sendiri. Jika kita percaya, maka kita akan mengerjakan segala sesuatu secara berbeda.

“Begitu kita ingin tahu bagaimana kita akan mati berarti kita belajar tentang bagaimana kita harus hidup.” – halaman 87.

Buku ini memuat bab-bab yang sengaja disusun sesuai dengan urutan pertemuan Mitch dan Morrie setiap hari Selasa. Manusia Selasa, begitu Morrie memberi nama akan pertemuan-pertemuan mereka. Dimulai dengan Selasa pertama hingga Selasa keempat belas, tergambar keakraban yang hidup kembali antara guru dan murid dalam membahas soal-soal kehidupan. 

“Mitch, kalau kau berusaha memamerkan prestasimu kepada kalangan atas agar kau diterima oleh mereka, upayamu akan gagal. Meskipun sesekali mereka akan menengokmu ke bawah. Dan jika kau berusaha memamerkan keberhasilanmu kepada mereka yang kurang beruntung agar kau diakui oleh mereka, kau juga akan gagal. Mereka hanya akan iri kepadamu. Di atas tidak diterima, di bawah pun kau tidak diakui. Hanya dengan hati terbuka kau akan diterima dan diakui oleh semua orang.” – halaman 135. 

Pasalnya, kuliah terakhir dalam hidup sang profesor yang telah berusia lanjut itu dijadwalkan sepekan sekali dirumahnya. Dengan mengusung tema makna hidup, banyak topik yang diperbincangkan, seperti halnya keluarga, cinta, pekerjaan, menjadi tua, semangat memaafkan, dan akhirnya kematian. Tidak lupa, upacara wisuda diganti dengan upacara pemakaman.

Secara keseluruhan, buku ber-genre non-fiksi ini memuat seputar perbincangan Mitch dengan Morrie serta kilasan tentang kuliah mereka di masa lampau. Kemudian alur yang disajikan berupa alur campuran pada setiap babnya. Hal itu bisa saja membuat bosan bagi sebagian orang yang membacanya.   

Meskipun demikian, Mitch mampu menuangkan hal tersebut melalui gaya penulisan fiksi sehingga hal itu bisa menjadi siasat agar pembaca merasa tidak bosan. Buku ini recommended untuk dibaca bagi siapa saja, kalangan tua maupun muda, terlebih bagi seseorang yang ingin mempelajari makna hidup dalam perspektif lain.

Fresh Crew : Fatimah Nur’aini/Suaka

Editor Fresh: Adinda Nuurlatifah/Suaka

Latest articles

Related articles