Civil War, Potret Perang dari Balik Lensa Jurnalis 

- Advertisement -
Doc.net

Judul: Civil War

Sutradara: Alex Garland

Produser: Andrew Macdonald, Allon Reich, Gregory Goodman

Penulis Skenario: Alex Garland

Genre: Perang, Action, Fiksi ilmiah

Tanggal rilis: 12 April 2024 (Amerika)

Durasi: 1 j 49 m

Perusahaan Produksi: A24, DNA Films

Pemeran: Kirsten Dunst, Cailee Spaeny, Wagner Moura, Stephen McKinley Henderson, Nick Offerman

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Jarak dari New York menuju Washington D.C. sebenarnya hanya sekitar 200 hingga 300 mil. Namun, dalam Civil War, sekelompok jurnalis justru harus menempuh perjalanan hampir tiga kali lebih jauh akibat pecahnya perang sipil di Amerika Serikat. Lantas, apa yang sebenarnya mereka cari di tengah kekacauan tersebut?

Bila Fresh Reader membayangkan Civil War hanya menyajikan baku tembak dan strategi perang, anggapan itu kurang tepat. Alih-alih berfokus pada medan tempur, film garapan Alex Garland ini justru mengikuti perjalanan empat jurnalis yang berusaha merekam kenyataan di tengah konflik. Mereka adalah Lee Smith (Kirsten Dunst), Joel (Wagner Moura), Sammy (Stephen McKinley Henderson), dan fotografer muda Jessie (Cailee Spaeny).

Tujuan mereka adalah mendapatkan wawancara eksklusif dengan Presiden Amerika Serikat (Nick Offerman) sebelum didahului media lain. Harapan dari wawancara tersebut dapat menjawab berbagai pertanyaan mengenai perang yang sedang berlangsung. Namun, perjalanan menuju Gedung Putih bukanlah hal yang mudah. Setiap kilometer yang mereka tempuh dipenuhi ancaman yang dapat merenggut nyawa kapan saja.

Sepanjang perjalanan, suasana terasa mencekam. Kota-kota tampak porak-poranda, kendaraan berserakan di jalan, ledakan terdengar dari berbagai sudut, sementara suara tembakan dapat muncul sewaktu-waktu. Di tengah situasi tersebut, Lee dan Jessie tetap setia mengabadikan setiap momen melalui kamera mereka, Joel sibuk mencari jawaban lewat wawancara, sedangkan Sammy hadir sebagai sosok yang penuh pengalaman.

Konflik dalam film dipicu oleh berbagai kebijakan Presiden yang dianggap semakin otoriter, mulai dari menjabat tiga periode hingga mengerahkan militer terhadap warga sipil. Situasi tersebut memicu munculnya berbagai kelompok pemberontak, termasuk Western Forces yang bergerak menuju Gedung Putih. Dari sinilah film ini memperlihatkan bahwa perang bukan hanya soal perebutan kekuasaan, tetapi juga tentang dampaknya terhadap kehidupan masyarakat biasa.

Bagi mahasiswa, terutama yang tertarik pada dunia jurnalistik, Civil War menawarkan sudut pandang yang berbeda mengenai profesi jurnalis. Film ini menunjukkan bahwa tugas seorang jurnalis tidak berhenti pada menulis berita atau mengambil gambar. Mereka juga dituntut berani berada di garis depan demi merekam fakta dan menyampaikan kenyataan kepada publik, meski keselamatan diri menjadi taruhannya.

Salah satu kekuatan utama Civil War terletak pada visualnya. Ledakan, suara tembakan, hingga jalanan yang dipenuhi bangunan rusak berhasil membangun suasana perang yang terasa nyata. Sinematografinya membuat penonton seolah ikut berada di tengah kekacauan bersama para tokohnya. Penampilan Kirsten Dunst sebagai Lee Smith juga menjadi daya tarik tersendiri. Ia berhasil menggambarkan sosok jurnalis perang yang profesional, tangguh, tetapi tetap menyimpan sisi rapuh sebagai manusia.

Meski demikian, alur cerita terasa kurang seimbang. Bagian awal dibangun dengan tempo yang cukup lambat, sedangkan menjelang akhir berbagai konflik diselesaikan dalam waktu singkat. Akibatnya, beberapa momen penting terasa kurang memiliki ruang untuk berkembang sehingga klimaks film belum memberikan kepuasan yang maksimal.

Terlepas dari kekurangan tersebut, Civil War tetap berhasil menyampaikan pesan utamanya. Film ini menunjukkan bahwa di balik setiap foto perang terdapat keberanian seorang jurnalis yang mempertaruhkan keselamatannya demi menghadirkan kebenaran. Perang bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi juga tentang manusia-manusia yang harus bertahan di tengah kekacauan.

Melalui sudut pandang yang berbeda, Civil War mengajak penonton melihat bahwa kamera bisa menjadi senjata yang sama pentingnya dengan peluru. Fresh Reader, setelah menyaksikan film ini, mungkin kita akan semakin memahami bahwa di balik setiap foto yang menghiasi halaman berita, ada perjalanan panjang dan risiko besar yang harus dihadapi seorang jurnalis.

Fresh Crew: Sofa Nur Alfiah/Suaka

Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles