
Judul Buku : Multiidentitas
Penulis : Zahid Ibrahim
Penerbit : PT Elex Media Komputindo Kompas Gramedia
Tahun Terbit : 2026
Jumlah Halaman : 192 halaman
ISBN : 9786230077662
FRESH.SUAKAONLINE.COM — Pernahkah Fresh Reader merasa bingung akan masa depan? Seperti, “lulus kuliah mau jadi apa, ya? ” atau, “apakah aku akan sukses?” Pertanyaan itu mungkin sering menghantui di tengah malam. Kita seringkali merasa harus memilih satu jalan hidup. Jika saat kuliah mengambil jurusan A, maka harus bekerja di jalur A. Namun, bagaimana jika setelah berusaha sekeras mungkin, kita tetap merasa tidak cukup baik?
Menjadi mahasiswa terkadang membuat kita berada dalam suatu kompetisi, sistem akademik membuat kita berlomba-lomba untuk mendapatkan nilai tertinggi. Tanpa sadar, pencapaian akademik perlahan menjadi ukuran utama dalam menilai diri sendiri. Nyatanya, kita baru saja berada dalam sistem monoidentitas, sebuah cara pandang yang menuntut kita untuk meletakkan seluruh harga diri hanya pada satu identitas tertentu.
Hal tersebut tentu memiliki dampak negatif, seperti merasa kelelahan atau merasa tidak cukup baik karena selalu ada orang lain yang lebih hebat di bidang tertentu. Melalui buku Multiidentitas, Zahid Ibrahim menawarkan cara pandang lain untuk mendobrak budaya monoidentitas yang sudah mengakar pada kehidupan sehari-hari.
Zahid mengajak pembaca untuk merangkul keberagaman minat yang ada dalam diri. Konsep ini ia sebut sebagai multiidentitas, di mana tolak ukur nilai diri tidak lagi dari pencapaian suatu bidang tertentu, tapi justru lahir dari keberanian untuk menjadi beda. Menurutnya, “harga diri bukanlah sesuatu yang bisa dikuantifikasi. Tidak ada angka atau jumlah yang dapat dikaitkan dengan nilai diri seseorang,” (hlm. 46).
Salah satu gagasan yang ia jadikan sebagai contoh adalah situasi zero-sum game, sebuah konsep tentang permainan kaku antara menang dan kalah. Prinsip ini membuat kita percaya bahwa jika seseorang berhasil mencapai sesuatu, maka otomatis kita sedang berada dalam kekalahan. Misalnya, ketika teman memperoleh beasiswa, kita merasa peluang kita otomatis berkurang. Melalui pendekatan multiidentitas, kita diajak untuk keluar dari jebakan tersebut.
Konsep tersebut juga mengajarkan kita bahwa memiliki banyak identitas bukanlah suatu kekurangan, justru hal tersebut adalah sumber kekuatan. Sebab kita tak lagi terpaku untuk menjadi yang terbaik pada satu bidang, tapi fokusnya berubah menjadi bagaimana caranya kita menjadi versi terbaik dari diri sendiri dan mengembangkan segala potensi yang ada.
Meski buku ini bergenre self help, tetapi tulisan yang ada didalamnya tidak terkesan menggurui. Zahid tidak memaksa semua orang untuk langsung berpaling dan memegang prinsip multiidentitas sepertinya. Buku ini tidak menyuruh kita untuk lebih hebat, tapi justru membuat kita diam sejenak untuk mempertanyakan akan apa yang sebenarnya sudah kita miliki. Karena itu pula, mungkin buku ini akan terasa kurang cocok bagi pembaca yang sedang mencari panduan step by step untuk sukses.
Melalui penulisannya yang santai dan realistis, setiap kalimat yang ada di dalamnya seakan menemani kita yang mungkin selama ini merasa gagal karena tidak pernah menjadi yang terbaik. Pembahasan yang diambil dari cerita-cerita pengalamannya juga membuat pembaca merasa lebih terkoneksi dengan penulis.
Zahid juga tetap menyelipkan ilmu pengetahuan serta berbagai kutipan dari tokoh lain sebagai penopang ceritanya. Tulisannya yang ringan membuat pembaca lebih mudah memahami isi buku. Selain itu, kebebasan untuk mulai membaca dari bab mana saja membuat buku ini beda dari buku-buku lainnya.
Meski semua orang dapat membaca buku ini, Zahid memutuskan untuk mempersempit target pembacanya. Ia tujukan buku ini untuk mereka yang sudah berkecukupan dan ingin memaksimalkan potensi yang dimilikinya. Mengingat bahwa Indonesia memiliki ketimpangan sosial yang sangat besar.
Pada akhirnya, multiidentitas adalah sebuah pelukan hangat bagi siapapun yang kerap dirundung krisis identitas. Buku ini mengingatkan bahwa kita bisa menjadi apa saja. Sebab, menjadi unik adalah suatu hal yang pasti sudah dimiliki dan menjadi manusia lebih luas daripada sekadar satu label yang mengurung diri.
Fresh Crew: Meyliana Sofiyanti/Magang
Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

