
FRESH.SUAKAONLINE.COM, Freshgrafis– Pernah enggak sih freshreader mendapat ucapan “kamu tuh anaknya drama banget”, “kamu aja yang terlalu sensi!” serta berbagai ungkapan lainnya yang membuat kamu merasa seolah disalahkan karena realita yang sedang dirasakan. Kalau pernah, hati-hati yah. Karena bisa jadi emosimu sedang dimanipulasi, atau sering juga disebut dengan gaslighting. Lalu apa sebenarnya gaslighting itu?
Melansir dari website resmi Yayasan Pulih, gaslighting merupakan bentuk strategi manipulasi yang memanfaatkan area psikologis seseorang yang menjadi korban dengan mengontrol cara korbannya berfikir dan bertindak. Hal ini dilakukan agar pelaku mendapatkan apa yang ia inginkan tanpa harus meminta atau mengomunikasikannya secara langsung.
Biasanya pelaku gaslighting atau gaslighter ini memiliki permasalahan atau rasa enggan karena ego berlebih sehingga ia memilih menggunakan strategi ‘mengontrol’ ketimbang mengomunikasikannya secara langsung dengan korbannya. Oleh karena itu, korban kerap tidak menyadari bahwa ia mendapat perlakuan demikian karena apa yang dilakukan pelaku ‘tersirat’ dan mungkin dieksekusi dengan penuh perhitungan.
Sudah banyak kita ketahui, komunikasi merupakan kunci untuk menjalin hubungan yang sehat. Namun, pelaku gaslighting justru menghindari komunikasi untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cepat. Hingga akhirnya manipulasi ini mampu mengikat korbannya ke dalam sebuah toxic relationship, yang mana berpotensi besar mengakibatkan terjadinya berbagai kekerasan seperti kekerasan gender berbasis online (KGBO).
Pelaku gaslighting memanipulasi dengan cara membuat korban menyesal atas perbuatannya. Pelaku akan membuat si korban merasa takut akan permasalahan yang tengah terjadi dalam hubungan mereka. Kemudian pelaku membuat korbannya merasa memiliki kewajiban untuk memperbaiki hubungan antar keduanya. Padahal realitanya gaslighter melakukan playing victim dengan menyalahkan korban saat sebenarnya ialah troublemaker dari situasi tersebut.
Melansir dari Psych Central, ada beberapa cara untuk mengatasi gaslighting yaitu memahami pola yang dilakukan si pelaku. Pasalnya gaslighting hanya bisa terjadi jika kita tidak menyadari bahwa kita tengah menjadi korban dan tidak memahami hal apa yang sedang terjadi. Dengan memahami pola tersebut maka akan lebih mudah untuk berpikir ulang dan mencari jalan keluar mengenai hubungan yang dimiliki.
Selain itu jangan lupa untuk menemukan support system yang secara tulus mendukung dan membantu untuk bangkit dari rasa tidak percaya diri yang ditanamkan si gaslighter. Support system tersebut bisa berasal dari mana saja, dari keluarga, teman, pasangan dan lain sebagainya. Jika tindakan gaslighting tersebut dirasa sudah sangat mengganggu dan mengarah pada kekerasan. Maka sudah saatnya untuk Fresh Reader mengunjungi tenaga professional seperti psikolog untuk membantu mengatasi hal tersebut.
Peneliti: Fitri Nur Hidayah/Suaka
Sumber: Yayasan Pulih, Halodoc, kompas.com

