Main Roblox Terus! Hiburan Sehat atau Ancaman Produktivitas?

- Advertisement -
Ilustrasi: Amelia Sri Agistiani/Suaka

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Di tengah padatnya aktivitas akademik dan tekanan perkuliahan, mahasiswa kerap menjajaki beragam macam hiburan, salah satunya bermain Roblox. Platform ini terkenal dengan kebebasan pemain mengkreasikan game-nya sendiri dalam Roblox dan bisa dimainkan bersama banyak orang. Tetapi, timbul satu pertanyaan: apakah Roblox dapat menjadi hiburan sehat atau justru penghalang produktivitas mahasiswa?

Di UIN SGD Bandung sendiri, fenomena ini kian terasa dengan munculnya komunitas Roblox UIN SGD yang kini sudah memiliki lebih dari seribu anggota mahasiswa. Komunitas Roblox ternyata bermula dari hal sederhana: sekadar mengumpulkan teman-teman sekelas yang memainkan Roblox. Namun, ide itu berkembang menjadi lebih besar.

“Ga expect juga sih banyak member yang masuk. Malah awalnya tuh cuma empat orang di grup itu, teh,” ujar salah satu admin Komunitas Roblox UIN SGD Bandung, Ega Rizarul Ghani saat diwawancarai pada Sabtu (20/9/2025). Ega membuat komunitas ini untuk mewadahi player Roblox yang membutuhkan relasi, khususnya di lingkungan UIN SGD Bandung.

Bahkan, ia berencana agar komunitas ini tak hanya hadir sebagai ruang berkumpul, tetapi juga ruang interaksi positif antar sesama pemain Roblox, seperti dengan mengadakan kegiatan bersama pada hari libur. “Kegiatannya bisa berupa challenge berhadiah uang atau sesuatu yang menarik, jadi main Roblox itu bukan cuma sekadar main, tapi juga ada sesuatu yang bisa diambil (benefitnya),” jelasnya.

Timbul kekhawatiran bahwa Roblox dapat membuat mahasiswa lebih abai pada tanggung jawab akademik, seperti mengerjakan tugas kuliah. Seperti halnya game lain, ada saja pemain yang kecanduan hingga kehidupan sehari-harinya terbengkalai. Ega malah menuturkan sebaliknya. Menurutnya, Roblox justru bisa menjadi sarana hiburan disaat stres melanda mahasiswa. “Kan game-nya tuh udah bisa di AFK-in, AFK tuh away from keyboard jadi kita bisa diemin game-nya tapi game-nya bisa tetep berjalan,” tambahnya.

Meski begitu, Ega mengaku bahwa Roblox tetap memiliki sisi gelap. Jika tidak diimbangi dengan aktivitas kampus maupun pembatasan waktu, game ini justru bisa mengancam produktivitas mahasiswa. “Kadang ada yang sampai begadang, bahkan tidak masuk kelas karena semalaman main. Kalau mainnya nggak terkendali, jelas bisa mengganggu,” jelasnya.

Tidak semua mahasiswa larut dalam dunia virtual Roblox. Ada pula yang sekadar mengetahui game ini tanpa ikut memainkannya. “Aku tahu Roblox karena sering muncul di medsos, bahkan teman-teman juga banyak yang main. Tapi aku pribadi nggak tertarik ikut main,” ujar seorang mahasiswa UIN SGD Bandung, Nazwa Khalista Fitriana, saat diwawancarai pada Rabu (24/9/2025). Alasannya sederhana, ia bukan tipikal orang yang tertarik pada game.

Nazwa beranggapan bahwa memainkan Roblox dapat menghilangkan rasa lelah dengan bertemu orang baru, walau secara virtual. “Aku juga kalo ngeliat konten Roblox gitu ya, kan, rame gitu bisa demo, bisa naik gunung, ya mungkin itu cara mereka buat refreshing dengan bermain game,” ucapnya.

Ia tak merasa terganggu dengan teman-teman sekitarnya yang asyik memainkan Roblox. Namun, baginya, memainkan game ini pun harus melihat situasi dan kondisi. “Kalo akunya lagi santai dan gak lagi pusing sama apapun, aku juga nerima dan kadang ikut penasaran juga. Tapi kalo misal lagi di posisi serius kaya lagi belajar atau mau presentasi ya itu, sih, keganggu banget fokusnya,” ungkapnya.

Menanggapi ramainya Roblox di kalangan mahasiswa, dosen Fakultas Psikologi, Putri Nabhani Nurany, menjelaskan bahwa fenomena ini disebabkan oleh terpaparnya individu oleh informasi yang beredar, dalam hal ini oleh konten-konten tentang Roblox. Banyaknya informasi tersebut dapat memicu seseorang untuk lebih tertarik dan terlibat dengan Roblox, yaitu dengan ikut memainkannya.

“Kalau mahasiswa itu fase perkembangannya itu masuk ke dalam fase dewasa dan remaja awal, memang sedang senang mencoba hal yang seperti itu yang memang sedang dimainkan oleh banyak orang. Dia penasaran, dia lihat juga di media sosial yang kemudian dia tertarik dan terjebak di dalam permainan tersebut. Ditambah lagi bagaimana sistem permainan yang ada di Roblox sendiri membuat mahasiswa ini kemudian menjadi engage gitu ya,” terangnya saat diwawancarai Suaka pada Kamis (25/9/2025).

Putri menilai fenomena memainkan Roblox di kalangan mahasiswa ini tidak bisa dilepaskan dari sisi positif dan negatif. Dari sisi positif, permainan ini memberi ruang kreativitas bagi penggunanya, seperti membuat avatar atau menguji bagaimana resiliensi dalam mencapai tujuan. Namun, sisi negatifnya juga tidak kalah mencolok, terutama ketika penggunaan berlebihan menjurus pada kecanduan.

Dalam kacamata psikologi, kecanduan terjadi ketika suatu aktivitas benar-benar mengganggu kehidupan sehari-hari dan menghambat fungsi normal manusia. “Kalau sampai lupa tugas, begadang, atau aktivitas sehari-hari terganggu, itu sudah termasuk adiksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, fenomena ini pun tidak hanya terjadi pada pengguna Roblox, tetapi juga pada bentuk hiburan lain. “Jadi memang itu jadi dampak negatif tersendiri bagi pengguna yang tidak memiliki self control, yang tidak punya pembatasan diri pada permainan tersebut,” tutur Putri. Baginya, segala bentuk hiburan yang dinikmati tanpa pembatasan dapat menjadi adiksi yang merugikan.

Oleh karena itu, lapisan terpenting dalam mengatasi adiksi bermain Roblox adalah regulasi diri bagi para pemainnya, seperti dengan mengatur dan membatasi waktu bermain. “Lalu kemudian bisa dibantu oleh regulasi yang muncul dari kampus misalnya, sebagai lapisan sistem yang paling dekat dengan mahasiswa, walau gak langsung spesifik mengacu pada ‘adiksi game online’, tapi secara umum aja, bagaimana kampus itu punya regulasi terkait dengan digital well-being,” terang Putri.

Ia berpesan agar terlepas dari tren apapun yang sedang merebak, mahasiswa harus dapat mengontrol diri ketika mengeksplorasi banyak hal, sehingga tidak mudah terjerat dalam rutinitas yang hampa makna. Ia menyayangkan jika mahasiswa, yang mana sedang dalam usia produktif, malah tidak menggunakan waktu dan tenaganya untuk hal-hal yang bermanfaat hingga terjerumus dalam adiksi yang membahayakan.

“Jadi, pahami dan sadari bahwa tubuh kalian tuh sedang dalam puncak paling optimal baik itu secara otak, secara kognitif, secara tubuhnya, fisiknya gitu, lagi proses yang sangat optimal banget. Jadi maksud saya, pergunakan keoptimalan itu untuk melakukan hal-hal yang positif juga, untuk memperluas jaringan, ikutan organisasi, ikut apapun yang kira-kira bisa berguna bagi kalian di masa depan,” tutupnya.

Gak ada yang salah, kok, dari bermain Roblox! Justru, platform ini bisa jadi sarana refreshing dengan teman hingga orang baru dengan sensasi yang lebih unik. Misalnya, kalau belum bisa mencapai puncak gunung sungguhan, setidaknya sudah summit berkali-kali di puncak gunung di Roblox. Tetap, ingat satu hal, jangan bermain sampai mengabaikan kuliah ya, apalagi sampai kecanduan! Have fun, Fresh Reader!

Fresh Crew: Amelia Sri Agistiani/Suaka

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles