Lika-Liku Sopir Taksi dan Jurnalis Asing di Tengah Kekacauan Negara

- Advertisement -
IMDb

Judul: A Taxi Driver

Sutradara: Jang Hoon

Produser: Park Un-kyoung, Choi Ki-sup

Penulis Skenario: Eom Yu-na

Genre: Sejarah, Action, Drama

Tanggal Rilis: 02 Agustus 2017

Durasi: 2 jam 17 menit

Perusahaan Produksi: The Lamp

Pemeran: Song Kang-ho, Thomas Kretschmann

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Carut marut Indonesia belakangan ini terasa begitu familiar. Empat dekade lalu, hal serupa terjadi di Gwangju, Korea Selatan. Kebebasan pers dan jurnalis dalam bayang-bayang represi. Mereka dibungkam, diancam, pemberitaan disetir, diintervensi, dan dibredel. Tak hanya itu, warga sipil dan mahasiswa ditembak, dipukul, diinjak, dan ditahan. Akses kota ditutup, represi dimana-mana, demonstrasi tak berujung, dan kota dikuasai militer.

Getirnya situasi ini berhasil diabadikan jurnalis asal Jerman, Jürgen Hinzpeter atau Peter (Thomas Kretschmann) yang dibantu seorang sopir taksi, Kim Man Seob atau Kim Sa Bok (Song Kang-ho) dalam film A Taxi Driver (2017). Film yang digarap Jang Hoon ini berangkat dari kisah nyata saat meletusnya tragedi Gwangju 1980. Cerita yang dibawakan berfokus pada perjalanan seorang jurnalis asing dan sopir taksi dalam mengungkap kebenaran. Penuh lika-liku, perjuangan keduanya sama sekali tidak mudah.

Kisah keduanya dimulai ketika Kim Man Seob dengan sengaja mengambil alih penumpang asal Jerman, Peter, demi uang 100.000 won. Ketegangan mulai terasa sesampainya mereka di Gwangju karena akses masuk kota diblokade militer. Namun sang sopir tidak kehabisan akal, ia menanyai warga lokal dan mengambil jalan pintas sebagai gantinya.

Atmosfer mencekam menyelimuti kota saat keduanya berhasil lolos dari perbatasan. Kemelut semakin mencuat ketika Peter mengambil video aksi. Lebih-lebih ia mengambil risiko dengan terjun langsung ke tengah jalan. Ia juga tak gentar akan terkena serangan di tengah ledakan gas air mata. Tujuannya satu, merekam realitas akan brutalitas aparat untuk ditunjukkan pada dunia.

Selain Kim, Peter banyak dibantu warga setempat. Mereka juga menyematkan harapan agar kebenaran segera terkuak melalui lensa kamera sang jurnalis. Namun, hal ini menjadi bumerang. Aparat memanfaatkan mereka untuk mengancam Peter. Puncaknya saat salah satu mahasiswa yang membersamai Peter dan Kim Man Seob, Gu Jae Sik (Ryu Jun Yeol), tertangkap. Ancaman kemudian datang dengan pilihan antara menyelamatkan Gu Jae Sik atau kamera milik Peter.

Akibatnya, kebebasan liputan kian menyempit karena aparat sudah mencium pergerakan Peter. Tidak sampai di situ, emosi penonton ikut hanyut saat disuguhkan adegan memilukan ketika korban berjatuhan di rumah sakit. Tidak sedikit yang gugur, nahasnya mereka bahkan tidak mendapat peti mati. Korban luka-luka juga tidak terhitung jumlahnya, saking membludaknya korban. Bahkan, sang jurnalis terduduk lemas seketika melihat banyaknya korban sebelum kembali mendokumentasikan realitas yang ada.

Sayangnya, persoalan pemberontakan di Gwangju sendiri kurang disorot, sehingga tidak menjawab rasa penasaran penonton akan pemicu tragedi ini. Lebih lanjut, beberapa adegan terasa terlalu dramatis dan klise. Perbedaan bahasa juga dapat menimbulkan pemahaman berbeda jika terdapat ketidaktepatan terjemahan.

Meskipun begitu, secara keseluruhan, layar lebar ini sukses memikat khalayak. Terbukti dengan hadirnya 12,19 juta penonton. Thomas Kretschmann berhasil menggambarkan sosok Jürgen Hinzpeter dengan menghadirkan peran jurnalis yang sebenarnya. Hal ini terlihat dari sikap keberpihakan Peter pada rakyat dan pemberitaan yang sesuai realitas serta fakta. Selain itu, ia juga tidak gentar saat mendapat ancaman dari aparat.

Di sisi lain, aktor legendaris asal Korea, Song Kang Ho, berhasil menghidupkan sosok Kim Man Seob. Sebagai rakyat biasa yang manusiawi, ia seakan egois namun disaat bersamaan tidak bisa mengabaikan nuraninya. Kombinasi keduanya menghadirkan dinamika tersendiri di sepanjang durasi film.

Selain itu, sinematografi yang ciamik dengan filter dominan kekuningan dan tone hangat berhasil menangkap kesan ‘jadul’ dan mengajak penonton merasakan suasana tahun 80-an. Ditambah mobil, cara berpakaian, tren, hingga musik disesuaikan dengan zamannya. Pemilihan soundtrack pun selaras dengan tiap scene, sehingga musik senantiasa mengiringi emosi penonton.

Sekalipun perilisannya di tujuh tahun silam, film ini masih relevan dengan kondisi hari ini. Sinema ini pun dapat menjadi media untuk merawat ingatan, tidak hanya bagi warga Korea, tetapi seluruh dunia, terlebih kisahnya diangkat dari cerita nyata. Di samping itu, film ini merupakan pengingat bahwasanya jurnalis sejati adalah mereka yang berpihak pada rakyat dan fakta.

Fresh Crew: Sofa Nur Alfiah/Suaka

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles