
Judul: Deepwater Horizon
Sutradara: Peter Berg
Penulis Skenario: Matthew Michael Carnahan, Matthew Sand, David Barstow
Genre: Bencana, Sejarah, Drama
Tanggal rilis: 28 September 2016
Durasi: 1 jam 47 menit
Perusahaan Produksi: Participant Media, di Bonaventura Pictures, and Summit Entertainment.
Pemeran : Mark Wahlberg; Gina Rodriguez; Kurt Russell; Dylan O’Brien; John Malkovich; Kate Hudson
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Pada umumnya, kita memahami bahwa kejadian seperti erupsi gunung berapi, banjir, tsunami, gempa, kebocoran minyak, dan longsor sebagai bencana alam yang tidak ada hubungannya dengan ulah manusia. Nah, film berjudul Deepwater Horizon akan mengubah sedikit pandangan Fresh Reader mengenai bencana.
Film yang dibintangi Mark Wahlberg ini akan membuat para penontonya mempertanyakan konsep bencana alam itu sendiri. Film tersebut diambil dari sudut pandang Mike Williams, seorang teknisi listrik yang bertugas di kilang minyak bernama Deepwater Horizon. Ia ditugaskan di kilang minyak tersebut selama dua pekan lamanya.
Pada hari-hari awal semua berjalan dengan normal. Sampai ia menyadari bahwa orang yang bertugas sebelum dirinya tidak melakukan proses pemeriksaan vital. Di waktu yang bersamaan, perusahaan British Petroleun (BP) mengejar target pengeboran minyak. Pengeboran terus berjalan tanpa adanya pengecekan dinding semen yang menahan minyak tersebut.
Mike bersama Jimmy Harrel, kepala anjungan Deepwater Horizon, menuntut BP untuk melakukan pengecekan tekanan minyak pada dinding semen. Jimmy bersitegang dengan tim BP. Ia ingin mengadakan pengecekan ulang karena menyadari ada tanda-tanda bahaya sedangkan tim BP bersikukuh untuk melanjutkan pengeboran.
Alhasil, pengecekan ulang dilakukan dan menunjukkan hasil yang normal sehingga pengeboran dilanjutkan. Beberapa saat kemudian, jarum tekanan menunjukkan kejanggalan. Tidak lama berselang, minyak berhamburan memenuhi ruangan pengeboran dan disusul ledakan dari ruangan yang sama.
Seketika api merembet membakar sebagian besar anjungan. Minyak yang tumpah ke laut juga ikut terbakar, menyebabkan sedikit ruang untuk para pekerja melompat ke laut. Mike bersama Jimmy mencari cara untuk memperkecil kobaran api sambil menyelamatkan diri. Namun, mereka menemukan halangan dalam proses tersebut.
Film ini secara sempurna dapat memberikan kesan ledakan yang terjadi di sebuah anjungan minyak. Meski efek ledakannya dibuat dengan Computer-Generated Imagery (CGI), film ini tetap tak bergantung penuh pada teknologi tersebut. Untuk menciptakan kesan nyata pada anjungan, mereka membangun sebuah set raksasa sungguhan di laut. Set tersebut mencapai ketinggian sekitar 23 meter dengan lebar 46 meter dan panjang 52 meter.
Oleh karenanya, penonton dibuat terpukau dengan gambaran anjungan minyak dan mesin pengeboran yang dibuat serealistis mungkin. Tidak hanya itu, Peter Berg berhasil menghidupkan drama emosional ketika Mike Williams dan rekan setimnya menghadapi kegentingan. Setiap luka dan jeritan yang dilakoni oleh pemain film memberikan gambaran jelas tentang seberapa mengerikannya peristiwa tersebut.
Sayangnya, film ini begitu banyak menggunakan istilah teknis perminyakan. Penonton yang awam dalam dunia perminyakan mesti melakukan usaha ekstra dalam memahami dialog antar aktor. Atau bisa saja penonton memilih mengabaikan istilah rumit tersebut sambil menikmati film. Alhasil, banyak detail yang mungkin gagal dipahami oleh penonton.
Deepwater Horizon merupakan dramatisasi dari kejadian nyata yang pernah menimpa Amerika Serikat. Film tersebut diadaptasi dari kebocoran minyak yang terjadi pada 20 April 2010. Kebocoran tersebut terjadi di kilang minyak yang terletak di Teluk Meksiko bernama Deepwater Horizon, nama yang diambil menjadi tajuk film tersebut. Tragedi Deepwater Horizon menewaskan 11 orang dan 4,9 juta barel minyak mentah tumpah ke Teluk Meksiko.
Pelajaran dari Kebocoran Minyak Deepwater Horizon
Tidak selamanya bencana itu perkara ketidakseimbangan alam. Dalam kasus Deepwater Horizon, baik di film maupun kejadian nyata, minyak yang menyembur keluar dan kobaran api yang menyala bukanlah penyebab utama kemalangan tersebut. Penyebab utamanya adalah kelalaian petugas yang luput mengecek dinding semen penahan minyak di salah satu bagian anjungan.
Dalam Sosiologi, baik gempa, longsor, tekanan minyak dari dalam tanah, tsunami, dan kejadian alam bukanlah bencana itu sendiri. Ia adalah kejadian alam normal yang biasa terjadi. Fenomena-fenomena yang disebutkan di atas akan berubah menjadi bencana ketika bersimpangan dengan komunitas yang rentan. Misalnya, gempa bumi di tengah samudra yang tidak berpenghuni tidak akan disebut bencana oleh kita. Tapi, tatkala gempa bumi tersebut berdampak kepada suatu populasi, gempa bumi tersebut akan disebut “bencana”.
Pemahaman ini akan menjadikan kita berhenti menyalahkan alam dan berfokus pada apa yang bisa kita perbuat ketika berbicara soal bencana. Pasalnya, jika kita terus menyalahkan alam soal korban jiwa maupun kerusakan yang disebabkan bencana, maka kita tidak akan pernah memperbaiki kesalahan sosial, politik, dan ekonomi yang menjadi penyebab jatuhnya korban dan kerugian akibat bencana. Dengan kata lain, lebih baik kita berfokus pada unsur manusiawi yang berada dalam kendali kita.
Deepwater Horizon mengamini pandangan dari Enrico Quarantelli, sosiolog asal Amerika, yang mengatakan, “Tidak ada yang namanya bencana alam.” Quarantelli mengkritik istilah “bencana alam” karena itu berarti mengesampingkan faktor manusia di dalamnya. Motif politik dan ekonomi bisa menjadi penyebab bencana itu sendiri, dan bukan alam, seperti BP yang mengejar target pengeboran dan mengabaikan protokol keamanan. Dengan begitu, tragedi Deepwater Horizon menunjukkan bahwa manusia adalah bencana itu sendiri.
Maka dari itu, terus stay save yaa, Fresh Reader!
Fresh Crew: Faiz Alhaq/Suaka
Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

