
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Awal semester ganjil lalu, timeline medsos mahasiswa UIN Bandung diramaikan dengan video bunga-bunga kuning cerah bermekaran di sekitar Masjid Ikomah, Kampus 1 UIN Bandung. Bunga tersebut adalah bunga tabebuya atau bunga terompet, tanaman cantik yang sempat banyak menarik perhatian mahasiswa. Bagaimana tidak, eksistensi tanaman hias yang mencolok dengan ukuran cukup besar masih relatif jarang di kampus.
Beberapa bulan lalu, keindahan bunga tabebuya di Bandung sempat viral. Rupanya yang dinilai mirip bunga sakura dan jumlahnya yang banyak membuat warga lokal hingga wisatawan beramai-ramai mengabadikan dan menyebarkan momen kemekarannya di media sosial. Bunga berwarna pink, putih, ungu, dan kuning ini sempat memperindah suasana Jl. Laswi, Summarecon Bandung, Podomoro Park (Popark) Bandung, kawasan Braga, hingga Baleendah.
Habitat asli bunga ini sebenarnya di negara-negara Amerika Selatan, seperti Meksiko dan Brazil, yang memiliki iklim kering. Mahasiswa semester 7 Jurusan Pendidikan Kimia, Muhammad Ikbal Nugraha, cukup sering beraktivitas di masjid karena kegiatan UKM sehingga tak sekali dua kali ia menyapa keindahan bunga tabebuya ini.
Meski tidak tahu secara detail mengenai bunga tebebuya, Ikbal berpendapat bahwa kehadiran bunga-bunga hias seperti tabebuya berwarna kuning di kampus sangat penting. “Kalo menurut aku pribadi perlu karena sebagai keindahan kampus juga ya, karena ngeliat di kampus tuh sering banyak sampah-sampah juga. Nah, daripada banyak oleh sampah mendingan banyak sama tanaman-tanaman hias. Sekaligus nilai plus buat mempercantik kampus UIN Bandung,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa lokasi penanaman bunga sebaiknya ditempatkan di area yang strategis dan sering dilalui oleh mahasiswa. Menurutnya, area sekitar masjid, Gedung Abjan Soelaeman, dan di area di bawah pohon rindang (DPR) merupakan lokasi yang tepat untuk ditanami bunga hias karena termasuk spot-spot yang membutuhkan sentuhan keindahan.
Ikbal bahkan merasakan kedamaian jika melihat kuncup-kuncup bunga tabebuya tengah bersemi. Menurutnya, adanya tanaman hias di wilayah kampus juga dapat menjadi poin plus untuk menarik perhatian calon mahasiswa baru. “Kita lihat kampus sebelah kalo misal ITB, Unpad, mereka juga kayak merawat tanamannya biar asri lingkungannya juga, terus perlu perawatan yang intensif. Nah, mungkin di UIN juga perlu seperti itu biar jadi nilai tambah dalam minat ke kampus UIN Bandung, biar gak kalah menariknya sama kampus-kampus unggulan lainnya yang ada di Bandung,” tutur Ikbal.
Sekretaris Jurusan Agroteknologi, Jajang Supriatna, menyatakan bahwa bunga tabebuya memang memang merupakan tanaman musiman. Bunga ini biasanya mekar setahun sekali di akhir musim kemarau. “Pohon tabebuya itu bisa dikatakan pohon hias, jadi memiliki estetika. Jadi pohon tabebuya ini kebanyakan ditanam di area-area pedestrian, misalkan seperti perkotaan, perumahan, kemudian di wilayah kampus, di pinggir jalan. Selain estetika juga rimbun ya tabebuya itu,” tutur Jajang.
Lebih dari sekadar estetika, bunga tabebuya memiliki sejumlah manfaat ekologis. Menurut Jajang, pohon bunga tabebuya dapat menyerap karbon, polutan-polutan partikel debu, logam-logam berat di udara, dan dapat menahan erosi karena sistem perakarannya kuat. “Karena tanamannya itu rindang kemudian secara tajuk itu lebat, jadi tentunya itu dapat membuat suasana di lingkungan pun jadi nyaman. Karena kalo misalkan banyak pohon, suhu udara pun bisa jadi berkurang 2-40 Celcius di lingkungan mikro (lingkungan sekitar suatu tanaman-red) pohon itu,” jelas Jajang.
Sebagai tanaman jenis pepohonan karena batangnya relatif tinggi, berdiameter cukup lebar, dan berkayu, pohon bunga tabebuya dapat berkontribusi terhadap penurunan suhu lingkungan. Jajang menjelaskan bahwa sebagai pohon, tanaman tabebuya ini dapat menyerap berbagai radiasi suhu panas, menyerap karbon, dan oksigen dari hasil fotosintesisnya dapat menurunkan suhu. Semakin rapat pohonnya, makan akan semakin banyak pohon yang dapat menyejukkan lingkungan karena tajuknya yang meneduhkan dan oksigen yang dihasilkannya.
Uniknya, walau memiliki warna yang cerah, bunga tabebuya ternyata tahan hama. Jajang menyatakan bahwa salah satu sebabnya karena bunga tabebuya tidak berasal dari Indonesia, sehingga hama asli bunga tabebuya di negara asalnya tidak ada di Indonesia. Selain itu, bunga ini mengandung zat toksik yang tidak disukai serangga sehingga serangga enggan memakannya. Warna bunganya yang cerah juga menjadi daya tarik bagi serangga Hymenoptera, seperti lebah, yang justru merupakan musuh alami bagi hama ulat yang gemar memakan dedaunan.
Ketahanannya di iklim kering juga salah satunya karena sistem perakaran pohon bunga tabebuya yang kuat. Kalau Fresh Reader perhatikan, bunga tabebuya dapat berdiri kokoh di ubin sekitar Masjid Ikomah. Menurut Jajang, hal ini disebabkan perakarannya yang kokoh dan dalam sehingga dapat menerabas permukaan keras yang menutupi tanah sekalipun. “Karena area perakarannya itu kesebar ke dalam untuk mencari sumber air atau nutrisi bagi tanaman,” ungkap Jajang. Ia berharap agar UIN Bandung dapat menanam berbagai jenis tanaman, seperti tanaman hias dan buah, di area kampus.
Keberadaan bunya tabebuya bukan hanya sekedar kecantikan, estetika, dan menarik saja, tetapi juga menghadirkan manfaat ekologis yang dapat membuat lingkungan kampus menjadi adem dan menyegarkan. Warna kuning cerahnya seolah menjadi simbol semangat bagi mahaiswa menggapai cita. Kalo ada kesempatan, Fresh Reader mau request ada tanaman apalagi, nih, di kampus kita?
Fresh Crew: Nabila Rahma Hidayat/Suaka
Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

