
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Di setiap langkah, para pedagang silih berganti menawarkan dagangannya. Lalu lalang tak berhenti bahkan walau jalan berhiaskan kubangan air bekas hujan. Dilihat dari luar, seolah tak ada yang spesial. Hanya toko-toko besar dengan plang “Pasar Cihapit” berdiri di tengah-tengahnya. Tetapi, jangan salah, plang itu seolah menyembunyikan perpaduan yang berkesan antara pasar tradisional dengan area kuliner dan seni kekinian.
Berawal dari pasar tradisional biasa di Kota Bandung, transformasi Pasar Cihapit mengantarkannya pada keviralan di media sosial. Bagaimana tidak, pasar ini seolah menunjukkan bagaimana kios kebutuhan pokok dan kios kuliner kekinian hidup berdampingan. Suasana unik didukung kuliner yang inovatif dan lezat membuat pasar ini menjadi salah satu destinasi yang rugi dilewatkan di Bandung.

Perpaduan kios tradisional dengan kios yang lebih modern pun tidak akan membuat pengunjung pusing. Keduanya terletak dalam area yang berbeda namun bisa disebut bersebelahan. Kios tradisional umumnya dikerubungi ibu-ibu yang hendak berbelanja di pagi hari dan cenderung lebih sepi ketika siang dan sore, sementara kios kuliner kekinian relatif ramai hampir setiap saat.
Pasar tradisionalnya terbilang lengkap. Sayur, buah, daging merah hingga seafood tak sulit dicari. Kulinernya pun beragam, tidak terbatas pada makanan kekinian saja. Kreatifitas penjual melahirkan kios-kios roti, kopi, misoa, cookies, risol, dan kuliner-kuliner viral lainnya. Tak sampai di situ, banyak juga kios kuliner tradisional yang dikemas lebih modern dan higienis, seperti batagor, pempek, kolak beraneka topping, dan masih banyak lagi. Rasanya juga enak-enak, kok, gak cuma modal viral aja!
Salah seorang pegawai kios roti, El, mengaku bahwa kios rotinya bahkan pernah ramai hingga antrean panjang ketika kiosnya baru berdiri di Pasar Cihapit pada tahun 2023. Bertambahnya kios-kios lain dan arus viral yang fluktuatif memang berdampak menurunkan keramaian kiosnya. Menurut El, pesatnya media sosial justru membuat orang-orang sering berkunjung ke Pasar Cihapit untuk sekadar berfoto.
Tak sedikit pengunjung datang dan membuat konten keseruannya di Pasar Cihapit, termasuk di kios roti tempat El bekerja. El tidak mempermasalahkan hal tersebut selama tidak mengganggu operasional kiosnya. “Konten ga beli (jualan di kios) gak masalah, sih, asal gak ganggu kita. Cuma rata-rata kalo (orang bikin) konten juga beli, sih,” ungkap El.
Transformasi Pasar Cihapit ternyata tidak hanya terasa dari modernitasnya. Bagi El, fasilitas dan lingkungan pasar turut membaik seiring berjalannya waktu. Sampah sudah terkoordinasi dengan baik, tidak ada pengamen yang sembarangan masuk, dan biaya kebersihan yang semula hanya Rp1.000,00 per minggu kini sudah dihilangkan.

Pasar Cihapit jelas bukan satu-satunya pasar unik yang bisa jadi destinasi wisata di Bandung. Tetapi, kalau soal variasi makanan yang lebih banyak dengan harga yang lebih terjangkau, Pasar Cihapit berhasil unggul. Pasar ini buka dari jam 03.00-16.00, namun umumnya untuk kios-kios kuliner baru buka sekitar jam 09.00. Pengunjung bisa datang di pagi hari untuk berbelanja, lalu mampir sejenak nongkrong menikmati kopi, teh, atau makanan kekinian.
Salah seorang pengunjung asal Cimahi, Dinda, bahkan mengunjungi Pasar Cihapit lebih dari sekali karena menganggap pasar ini aneh namun unik. Ia biasanya berkunjung untuk menemui temannya sambil ngopi cantik. “Jarang ada ruang seni dan kedai kopi seperti ini di tengah pasar. Saat pertama kali melihat, aku mikir aneh, ya … tapi lucu. Jadi aku balik lagi,” ujarnya. Bahkan menurut Dinda, harga kopi dan makanan lain di Pasar Cihapit relatif lebih murah ketimbang harga di mall.
Dengan senyum ramahnya, Dinda menunjuk area seni di ujung jajaran kios pada awak Suaka. Kehadirannya secara tak langsung menunjukkan keterbukaan pasar terhadap kemajuan zaman dan ide-ide baru. Konsep ini membuat pasar terasa lebih dinamis tanpa kehilangan jati diri sebagai pasar tradisional. Di samping distingsi Pasar Cihapit yang bikin penjual dan pengunjung bebas bereksplorasi, Dinda berharap agar kenyamanan di pasar dapat dioptimalkan dengan menambah lampu atau semacam kipas angin di area pasar.

Ragam kuliner kekinian di Pasar Cihapit cocok banget buat Fresh Reader yang suka jalan-jalan sambil icip-icip makanan baru. Suasanya yang hangat dengan estetika yang khas cocok banget buat foto dan ngonten. Tapi ingat, jangan sampai keseruan foto dan ngonten kita ngeganggu orang sekitar, ya! Jajan juga di kios-kiosnya, dari yang pasar tradisional sampai kulinernya, itung-itung mendukung UMKM. Jadi, besok mau ke Cihapit sama siapa, nih?
Fresh Crew: Farah Farihah/Suaka
Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

