LC di Seberang, Ongkos Meradang

- Advertisement -
Sumber:Doc.net

FRESH.SUAKAONLINE.COM — Bulan Maret lalu, akun Instagram @lc_uinbandung mengumumkan bahwa mahasiswa angkatan 24 mesti mengikuti kursus persiapan tes bahasa Arab dan bahasa Inggris. Kursus ini dilaksanakan tiga kali dalam sepekan, satu pertemuan daring dan dua pertemuan luring. Bagi pertemuan luring, mahasiswa diharuskan belajar di gedung Language Center (LC) yang bertempat di Kampus 1. Kewajiban ini dinilai memberatkan bagi mahasiswa Kampus 2 yang tidak memiliki kendaraan pribadi.

Untuk berangkat menuju gerbang Kampus 1, mahasiswa Kampus 2 perlu menempuh jarak sejauh 3,6 km. Terdapat angkutan umum yang biasa melewati jalan Soekarno-Hatta, namun kedatangannya yang lama ditunggu membuat angkutan umum bukan opsi transportasi utama untuk ditumpangi. Adapun ojek online mematok harga paling murah Rp 7.000 untuk rute dari Kampus 2 menuju pintu LC.

Kepada Suaka, mahasiswa semester empat Fakultas Ushuluddin, Irhan mengaku bahwa keterbatasan kendaraan adalah kendala yang ia alami setiap berangkat menuju gedung LC. “Aku mesti mikirin ongkos buat ke tempat tujuan. Apalagi jarak dari rumah ke Kampus 1 tuh lumayan, ke angkot pun jauh gitu. Kadang juga gak ada tebengan dari temen yang punya motor,” ujarnya saat ditemui pada Kamis (16/4/2026).

Ia harus merogoh kocek sebesar 14 ribu untuk sekali kursus menuju gedung LC menggunakan ojek online. “Soalnya gak ada pilihan lain, kampus juga gak nyediain moda transportasi,” lanjutnya. Meskipun dipersulit oleh akses transportasi, ia berharap agar pihak kampus dapat memanfaatkan ruangan di Kampus 2 sebagai tempat belajar LC khusus untuk mahasiswa Kampus 2.

Tak hanya dirasakan Irhan, kesulitan transportasi turut dialami oleh mahasiswa lainnya, Siti (bukan nama sebenarnya). Saat bersua dengan Suaka, Siti menyampaikan keluh kesahnya. “Kos saya deket Kampus 2, jaraknya dengan Kampus 1 itu lumayan lah. Kalau semisal gak punya duit, ya mau gimana lagi? Kadang harus bolos karena duitnya buat makan,” ungkapnya pada Sabtu (9/5/2026).

Persoalan ini menuai tanggapan oleh staff LC, Kholid. “Ya mau gimana? Keadaannya sudah begitu. Persoalan ini saya kembalikan lagi pada mahasiswa,” ucapnya ketika dijumpai Suaka pada Senin (20/4/2026). Ia mengatakan bahwa hingga saat ini, belum ada solusi dari pihak kampus terkait kendala transportasi mahasiswa Kampus 2 menuju gedung LC.

Staff LC lainnya, Dado, melontarkan komentar selepas rekannya berucap. “Saya bukan bermaksud mengatakan ‘itu resikonya’ cuman ya mau gimana lagi? Maka ya solusinya, toh sekarang juga udah ada banyak kendaraan online, jadi bisa pakai itu, kan? Untuk sementara ini, tidak ada jalan lain selain memanfaatkan kendaraan online,” katanya menyambung. 

Meski saat ini belum ada jalan keluar yang pasti, Dado berharap pihak kampus dapat segera menanggapi persoalan tersebut dengan memfasilitasi transportasi khusus bagi mahasiswa Kampus 2 yang berkelana ke Kampus 1. “Misal bis kampus atau odong-odong seperti yang ada di kampus-kampus lain,” tutupnya.

Minimnya transportasi gratis masih menjadi tantangan bagi mahasiswa Kampus 2. Jarak yang cukup jauh menuju gedung LC membuat sebagian mahasiswa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk transportasi setiap minggunya. Kalau Fresh Reader ada di posisi ini, apakah akan tetap memaksakan diri pergi ke kelas LC, atau berharap kampus memfasilitasi transportasi khusus bagi mahasiswa Kampus 2?

Fresh Crew: Hukma Shabiyya/Magang

Editor Fresh: Mujahidah Aqilah/Suaka

Latest articles

Related articles