Waspada Nomophobia, Kecanduan Gawai yang Bikin Kita Lalai

- Advertisement -
Canva

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Di era sekarang, rasanya hampir mustahil, ya, buat lepas dari telepon seluler (ponsel). Apalagi di kalangan mahasiswa, ponsel ditinggal sebentar saja, notifikasi dari grup kelas, grup organisasi, grup angkatan, sampai dari bos kerja sampingan sudah mengantri menanti balasan. Mau melepas penat pun sekarang gampang banget buat lari ke ponsel. Scrolling Instagram, nonton di platform streaming, atau liat-liat e-commerce tanpa membeli apapun, bisa kita nikmati dengan mudah dalam genggaman.

Tingginya frekuensi penggunaan ponsel ini dapat membuat seseorang merasa cemas ketika jauh dari ponselnya. Pernahkah Fresh Reader merasa cemas saat ponsel jauh dari jangkauan? Nah, itu bisa jadi tanda nomophobia, atau ketakutan berlebih saat jauh dari ponsel. Meskipun terdengar sepele, kondisi ini bisa mengganggu kesehatan mental, loh!

Dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, istilah nomophobia, yang merupakan singkatan dari no mobile phone phobia, pertama kali diperkenalkan oleh Stewart Fox-Mills dari UK Post Office lewat survei di tahun 2008. Istilah ini menggambarkan ketergantungan seseorang pada ponsel. Orang yang menderita nomophobia selalu hidup dalam kekhawatiran dan selalu cemas dalam meletakkan atau menyimpan ponsel miliknya, sehingga selalu membawanya ke mana pun pergi.

Kalau kata siloamhospital.com, orang dengan nomophobia menunjukkan gejala merasa gelisah ketika tidak menggunakan gawai, sulit berkonsentrasi di sekolah atau tempat kerja, bermain gawai di setiap waktu, dan mengalami insomnia karena paparan blue light dari gawai dapat memengaruhi kualitas tidur.

Melansir dari hellosehat.com, nomophobia sering kali muncul dari rasa takut kesepian atau khawatir kehilangan koneksi dengan orang terdekat. Hal ini dapat dialami oleh orang yang pernah kehilangan ponsel yang mengakibatkan trauma mendalam. Perasaan trauma ini membuat seseorang terus-menerus memeriksa ponsel, bahkan dalam situasi yang tidak tepat.

Nomophobia juga kemungkinan disebabkan rasa khawatir berlebih akan ketinggalan informasi. Di masa serbadaring seperti sekarang, orang yang tidak tahu tren terkini kadang ditertawakan atau tidak terlibat dalam obrolan. Akibatnya, timbul perasaan khawatir mendapat perlakuan kurang baik tersebut. Akhirnya, seseorang rela melanggar aturan demi bermain ponsel, seperti memakai ponsel saat di kelas atau di pesawat, hanya demi tidak ketinggalan informasi.

Ciri psikis dari nomophobia juga cukup mengganggu, di antaranya membawa ponsel ke toilet dan memainkan ponsel berjam-jam sampai otak sulit untuk istirahat dari mencerna banyaknya informasi yang masuk. Bayangkan saja, saat Fresh Reader berpikir tentang kehilangan ponsel, perasaan khawatir dan panik bisa menghantui.

Cemas dan gelisah saat harus berhenti memainkan ponsel jadi sering mendera dalam keseharian. Baterai ponsel habis bisa bikin jeri tak karuan. Bahkan, ada kalanya kita panik ketika tidak bermain ponsel sebentar saja. Ini semua bisa mengganggu aktivitas sehari-hari kita.

Nomophobia juga menimbulkan dampak fisik seperti sesak dada, jantung berdebar, dan sulit tidur karena terus memikirkan ponsel. Gejala lain seperti gemetaran, pusing, atau bahkan ingin pingsan juga bisa muncul. Jangan lupa, menatap layar ponsel terlalu lama bisa menyebabkan sakit leher dan nyeri di pergelangan tangan. Jadi, penting untuk mengenali dan mengatasi nomophobia agar kesehatan dan keseimbangan tubuh tetap terjaga.

Kalau Fresh Reader ngerasa rentan terkena nomophobia, mulailah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dan berjalan-jalan santai ketimbang main ponsel terus. matikan gawai 30 menit sebelum tidur agar otak rileks, sehingga tidur pun nyenyak. Coba pahami dampak buruk kecanduan gawai dan hapus aplikasi yang bikin kecanduan.

Jika sudah terindikasi menderita nomophobia, pengobatan yang umum dilakukan ialah psikoterapi dalam bentuk terapi perilaku koginitif (CBT) dan terapi pemaparan. Dalam terapi pemaparan, psikiater secara bertahap mengekspos pasien terhadap ketakutan mereka dalam cara dan lingkungan yang aman dan terkendali. Terapi ini memadukan beragam metode praktis untuk membantu individu mengendalikan kecemasan berlebihan yang menimbulkan rasa takut.

Dalam beberapa kasus, untuk membantu mengatasi ketakutan dan kecemasan berlebih, psikiater akan meresepkan obat anti-kecemasan. Itu berarti, akibat nomophobia bisa sejauh itu, ya! Makanya, yuk, kita belajar mengurangi intensitas menggunakan ponsel, apalagi untuk hal yang kurang perlu. Ganti kegiatan refreshing dari semula bermain ponsel dengan hangout, olahraga ringan, dan mencari hobi baru. Asal kita mau eksplor, kita akan menemukan banyak hal unik dan seru yang tidak bisa disajikan layar ponsel.

Sumber: Jurnal Psikologi Psibernetika, Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, siloamhospital.com, Halodoc, Hellosehat, Alodokter, Apollhospitals.com.

Fresh Crew: Nurul Hikmah Azzahro/Suaka

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles