Tunggu Aku Sukses Nanti dan Capeknya Mengejar Standar Keluarga

- Advertisement -
doc.net

FRESH.SUAKAONLINE.COM- Halo Fresh Reader, siapa nih yang pernah lihat postingan bertuliskan “Aku Tunggu di UIN Bandung” dengan ilustrasi seolah foto keluarga. Sebenarnya postingan tersebut terinspirasi dari sebuah film yang baru saja dirilisloh. Film tersebut  berjudul “Tunggu Aku Sukses Nanti”. Hayo, siapa nih yang sudah nonton filmnya?  

Film ini disutradarai Naya Anindita dan diproduksi oleh Rapi Films bareng Screenplay Films, Legacy Pictures, dan Fortera Studio. Tayang pada Rabu (18/3/2026) serentak di seluruh bioskop Indonesia loh. Film ini terasa dekat karena nggak lebay. Ceritanya sederhana, tapi real banget. 

Ceritanya fokus ke Arga (Ardit Erwanda), laki-laki 28 tahun, anak pertama, yang hidupnya masih “on the way”. Dari kecil dia bukan anak yang menonjol, bahkan nilainya sering merah. Pas dewasa, dia masih kesulitan dapat kerja. Setiap Lebaran, dia harus siap dibandingin sama Dwiky, sepupunya yang sudah kerja di Sudirman Central Business District (SCBD) dan dijadikan standar kesuksesan.

Alur film ini mengikuti perjuangan Arga mencari kerja. Dari interview ke interview, dari kerja serabutan sampai akhirnya masuk ke dunia properti. Di sini hidupnya mulai berubah. Dia belajar tampil lebih rapi, ngomong lebih meyakinkan, dan pelan-pelan mulai sukses. Bahkan, dalam waktu yang direka secara singkat saldo rekeningnya langsung dua digit. 

Fresh Reader, coba deh lihat dalam kacamata sosial. Film ini bukan cuma cerita soal Arga. Ini potret anak pertama yang dibebani ekspektasi besar. Harus sukses duluan, harus bantu keluarga, dan harus jadi contoh yang bisa dibanggakan. Masalahnya, sistem pendidikan dan dunia kerja nggak selalu kasih ruang yang adil. Jadi ketika gagal, bukan cuma capek fisik, tapi juga mental.

Menariknya, saat Arga jatuh lagi karena difitnah dan dipecat, film ini makin  terasa paling jujur. Dia memilih bohong ke keluarganya karena malu. Ini real banget, karena di kehidupan nyata banyak orang lebih takut dianggap gagal daripada benar-benar gagal. Tekanan sosial bikin kejujuran terasa mahal. Coba deh, Fresh Reader kalau ada di posisi Arga mau jujur atau berpura-pura masih kerja?

Karut marutnya kehidupan Arga membuatnya stres. Eits, si Arga ini ternyata punya dua sejoli yang setia sedari kecil loh. Namanya Fani dan Wicak. Di antara keduanya, Fani sosok perempuan yang perhatiannya kepada Arga melebihi pacarnya. Saat Arga lagi di titik terendah, Fani tetap ada tanpa banyak tuntutan. Berbeda dengan Andin, pacarnya Arga, yang secara realistis punya ekspektasi dalam hubungan.

Bayangin deh Fresh Reader, dari mulai belajar penampilan, belajar interview kerja, hingga roda kehidupan Arga naik meskipun tak selang lama turun lagi sosok Fani selalu menyertai langkahnya. So sweet banget kan. Eits, cuman teman ya loh tapi effort-nya bukan main. Film ini seperti ngasih gambaran baru tentang relasi bahwa yang paling berarti dalam hidup bukan selalu yang punya status, tapi yang benar-benar hadir ketika kita ada masalah.

Film dengan durasi satu jam lima puluh menit ini ada beberapa hal yang jadi nilai plus dari film ini yaitu ada di kedekatannya dengan realitas. Kalau kata lirik lagunya Stinky “Dari hati yang paling dalam” film ini cocok banget ditonton buat anak muda yang lagi berjuang. Karakter Arga juga terasa manusiawi, nggak sempurna, kadang salah, bahkan terlalu butuh validasi. Tapi justru itu yang bikin penonton merasa terhubung.

Selain itu, film ini juga berhasil menyentuh banyak aspek sekaligus. Dari tekanan sosial, keluarga, ketimpangan ekonomi, sampai kegagalan sistem pendidikan dalam menyiapkan individu. Semua dibungkus dengan ringan, tapi tetap terasa maknanya. Ini yang bikin filmnya nggak cuma menghibur, tapi juga reflektif.

Kendati demikian, ada beberapa hal yang cukup mengecewakan setelah menonton film ini. Kekecewaan muncul karena beberapa konflik terasa nanggung, terutama kematian Tante Yuli yang seharusnya bisa jadi titik emosional penting. Tapi di film ini justru lewat begitu saja. Padahal itu bisa memperkuat pesan tentang hubungan keluarga dan penyesalan.

Bagian akhir film juga terasa agak terburu-buru. Fase jatuhnya Arga yang sebenarnya paling menarik justru kurang dieksplor lebih dalam. Penonton jadi seperti belum puas melihat proses dia bangkit. Padahal di situlah potensi terbesar cerita ini. Film ini seperti melihat orang mengendarai Monowheel, berputar  begitu cepat roda kehidupannya.

Secara keseluruhan, Tunggu Aku Sukses Nanti adalah film yang sederhana. Nggak menawarkan cerita yang megah, tapi dekat dengan kehidupan banyak orang. Film ini mengingatkan bahwa kadang yang bikin capek bukan hidupnya, tapi ekspektasi dari sekitar. Mungkin setelah nonton ini, kita jadi sadar akan satu hal. Nggak semua orang butuh ditanya kapan sukses. Kadang, mereka cuma butuh satu orang yang tetap ada, bahkan saat semuanya lagi berantakan. Begitukan Fresh Reader?

Fresh Crew: Muhamad Seha/Suaka

Editor Fresh : Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles