
Judul Film: Ghost in The Cell
Sutradara: Joko Anwar
Produser: Tia Hasibuan
Penulis Skenario: Joko Anwar
Genre: Horror, komedi, thriller
Tahun Rilis: 2026
Durasi: 106 menit
Perusahaan Produksi: Come and See Pictures, Rapi Films dan Legacy Pictures
Pemeran: Abimana Aryasatya, Lukman Sardi, Endy Arfian, Morgan Oey, Rio Dewanto, dkk
FRESH.SUAKAONLINE.COM— Fresh Reader, media sosial saat ini tengah ramai membicarakan Ghost in the Cell, film terbaru karya Joko Anwar yang dianggap sangat relevan dengan situasi Indonesia sekarang. Sejak tayang perdana pada 16 April lalu, film bergenre satir horor komedi ini sukses menembus angka 2 juta penonton hanya dalam waktu 14 hari. Popularitasnya meningkat karena penonton merasa cerita di dalamnya merupakan gambaran nyata dari berbagai fenomena sosial yang sedang terjadi di tanah air.
Prestasi film ke-12 Joko Anwar ini pun tidak main-main. Sebelum mendarat di bioskop tanah air, Ghost in the Cell telah diputar empat kali di ajang bergengsi Berlin International Film Festival (Berlinale) 2026 dan hak siarnya telah dibeli oleh 86 negara.
Film ini menyoroti atmosfer mencekam di dalam Lapas Labuhan Angsana. Penjara ini dihuni oleh narapidana dengan berbagai latar belakang kejahatan, mulai perampokan, korupsi hingga aksi terorisme. Namun, ada pemandangan kontras yang terlihat, sel para koruptor justru dilengkapi fasilitas mewah dan penjagaan khusus yang jauh berbeda dengan napi lainnya. Adegan ketimpangan ini terinspirasi dari tayangan Trans7 dalam program Mata Najwa berjudul “Pura-Pura Penjara” di Lapas Sukamiskin tahun 2018 silam.
Suasana di Lapas Labuhan Angsana terasa sangat mencekam dan jauh dari kata kondusif. Kekerasan sipir terhadap narapidana menjadi pemandangan sehari-hari dengan dalih menegakkan disiplin. Di sisi lain, para napi terjebak dalam konflik internal dan persaingan antar-kelompok yang sengaja dibentuk sebagai upaya proteksi diri di lingkungan yang keras tersebut.
Konflik utama yang berupa teror mengerikan di dalam lapas terjadi ketika ada tahanan baru bernama Dimas, seorang jurnalis yang dituduh membunuh atasannya. Sebelum mendekam di penjara, Dimas sempat meliput kasus penebangan liar di Kalimantan oleh perusahaan milik seorang pejabat tinggi. Di sana, ia menemukan fakta mengerikan tentang para pegawai yang tewas secara misterius. Ternyata, sesuatu dari hutan tersebut mengikuti Dimas hingga ke dalam lapas.
Putusan penahanan terhadap Dimas juga terlalu cepat dan tidak transparan, penegak hukum tidak melihat situasi dan realita yang sebenarnya terjadi di lapangan. Sementara, kejahatan yang terlihat secara jelas didepan mata seperti penebangan hutan liar yang dilakukan oleh penguasa, justru dibiarkan begitu saja seolah mereka tutup mata.
Fresh Reader, bila kita lihat juga dari perspektif hukum, perbedaan mencolok yang ada di dalam sel lapas dan proses yang pandang bulu tadi, ini bertentangan dengan asas equality before the law (semua orang sama didepan hukum), seharusnya tidak ada yang membedakan diantara mereka, mau dia rakyat biasa, koruptor atau pejabat semuanya harus diperlakukan sama tanpa memandang dia siapa.
Joko Anwar juga melontarkan sindiran tajam terhadap ironi seorang aktivis yang di masa muda begitu gigih memperjuangkan hak rakyat, justru berubah menjadi penguasa korup dan tamak di masa tuanya. Film ini secara tragis memperlihatkan bagaimana idealisme bisa luntur dan berbelok arah ketika dihadapkan pada godaan kekuasaan.
Film ini menghadirkan komedi gelap yang sangat relatable dengan kondisi Indonesia saat ini. Percakapan di dalamnya mewakili suara hati masyarakat yang selama ini terpendam. Meski penuh adegan sadis, balutan komedinya membuat pengalaman menonton tetap nyaman dan tidak menguras energi mental secara berlebihan.
Namun, film ini tidak cocok untuk ditonton bagi orang-orang yang tidak kuat dengan adegan sadis dan brutal yang berkaitan dengan darah dan kekerasan, apalagi bagi anak-anak dibawah umur.
Di tengah situasi yang sedang tidak baik-baik saja, film ini hadir sebagai pengingat bahwa harapan itu masih ada. Melalui nilai kejujuran yang ditampilkan, kita diingatkan bahwa sekecil apapun jumlah orang yang jujur, mereka tetap harapan yang akan menuntun negara ini menuju masa depan yang lebih baik.
Fresh Crew: Rifki Fadillah/Magang
Editor Fresh: Mujahidah Aqilah/Suaka

