
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Di tengah padatnya aktivitas Jakarta, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) hadir sebagai ruang tenang bagi siapa pun yang ingin belajar, membaca, atau sekadar menambah ilmu. Di balik gedungnya yang menjulang, Perpusnas ternyata memiliki peran besar sebagai Lembaga Pemerintah Nonkementerian (LPNK) yang mengurusi dunia perpustakaan di Indonesia.

Tak hanya jadi tempat menumpuk buku, Perpusnas juga menjalankan banyak fungsi penting. Mulai dari membina perpustakaan di berbagai daerah, menyediakan koleksi rujukan dan buku langka, hingga merawat naskah-naskah Nusantara yang menyimpan cerita masa lampau. Lewat peran inilah, Perpusnas menjadi tujuan favorit siswa, mahasiswa, peneliti, dan masyarakat umum yang ingin mengakses pengetahuan.

Di luar layanan kepada pengunjung, Perpusnas juga menjalankan peran strategis di tingkat nasional. Salah satu pustakawan di layanan Naskah Nusantara, I Wayan Pande. Ia mengatakan kehadiran naskah kuno menjadi daya tarik utama Perpusnas. Berbagai manuskrip dari masa lampau menyimpan pengetahuan, nilai budaya, hingga jejak peradaban yang masih relevan hingga kini. Koleksi tersebut tidak hanya menjadi bahan bacaan, tetapi juga sumber riset dan refleksi sejarah bangsa yang sulit ditemukan di perpustakaan lain bagi peneliti maupun mahasiswa.

Dalam kesehariannya, Pustakawan melayani pengunjung yang ingin membaca, melihat, atau mempelajari koleksi tertentu. “Jadi pengunjung ada yang mau baca, ada yang mau melihat, ingin tahu naskahnya, kita jelaskan naskahnya, terus kita kasih, kalau ada yang mau pesan untuk membaca, kita ambilkan, seperti itu,” ucapnya pada suaka, Kamis (13/11/2025)
Salah satu peran Perpusnas adalah keterlibatannya dalam program Ikon Ingatan Kolektif Nasional. Melalui program ini, Perpusnas memfasilitasi masyarakat dan pemerintah daerah untuk mengajukan naskah-naskah bersejarah dari daerah masing-masing agar diakui sebagai bagian dari ingatan kolektif bangsa. Upaya ini menjadi langkah penting dalam pelestarian warisan budaya Nusantara.

Salah satu pengunjung dari kalangan mahasiswa, Nazwa Nurul Fadilah, ia mengaku memanfaatkan layanan Naskah Nusantara untuk menunjang tugas akademiknya. Ia menyebut koleksi manuskrip dan naskah kuno yang tersimpan di Perpusnas menjadi sumber rujukan penting bagi peneliti muda. “Koleksi buku-buku naskah kuno yang akan saya kaji nanti buat UTS dan UAS,” ujarnya, Kamis (13/11/2025)
Bagi kebanyakan pengunjung, lantai 24 menjadi spot favorit. Dari lantai ini, pengunjung dapat menikmati panorama Jakarta, Monumen Nasional (Monas), hingga pemandangan kota dari ketinggian. Di lantai yang sama, terdapat layanan Budaya Nusantara yang menampilkan koleksi budaya dari berbagai daerah, mulai dari alat musik tradisional, kain, hingga artefak kebudayaan.

Tak hanya menyediakan koleksi, Perpusnas juga aktif mengembangkan program literasi. Salah satunya adalah program Menulis Aksara daerah yang diselenggarakan secara gratis dan terbuka untuk semua usia. Program ini menghadirkan pustakawan sebagai tutor, mengajarkan aksara Bali, Jawa, Bugis, Melayu, dan aksara daerah lainnya dalam bentuk workshop bulanan.
Namun, di balik berbagai program dan fasilitas yang tersedia, masih ada beberapa kendala yang dirasakan pengunjung. Nazwa juga kerap merasakan bahwa Perpusnas masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti antrean lift yang kerap terjadi. “Karena lantainya banyak banget, ada 24 lantai jadi kaya kalau mau ke atas atau ke bawah naik lift itu ngantri banget kak jadi harus nunggu lama,” ungkapnya, Kamis (13/11/2025)
Namun, keterbatasan tersebut tidak mengurangi peran Perpusnas sebagai pusat literasi nasional. Dengan gedung modern, koleksi kaya, layanan profesional, dan pelestarian naskah Nusantara, Perpusnas terus menunjukan posisinya sebagai ruang belajar gratis yang nyaman bagi semua orang.
Fresh Crew: Nabila Rahma Hidayat/Suaka
Editor Fresh: Mujahidah Aqilah/Suaka

