Ketika Media Sosial Melegitimasi Kehidupan

- Advertisement -
Doc.net

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Pernahkah Fresh Reader merasa seseorang terlihat memiliki kehidupan yang sempurna hanya dari unggahan media sosialnya? Mulai dari hubungan yang tampak harmonis, pencapaian yang membanggakan, hingga gaya hidup yang terlihat ideal. Namun, apa yang muncul di layar belum tentu sepenuhnya mencerminkan kenyataan. Di era digital, media sosial tak lagi sekadar menjadi tempat berbagi momen, tetapi juga ruang untuk membentuk realitas yang ingin dilihat orang lain. 

Kini, media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi momen. Berbagai unggahan tentang hubungan, pencapaian, maupun gaya hidup perlahan membentuk persepsi bahwa apa yang terlihat di layar merupakan gambaran utuh dari kehidupan seseorang. Padahal, tidak semua yang ditampilkan mencerminkan kenyataan. 

Fenomena ini makin terasa ketika sebuah narasi terus diulang dan mendapat respons publik. Semakin sering dilihat, semakin banyak yang percaya. Seolah-olah jumlah likes dan komentar sudah cukup untuk mengesahkan sesuatu sebagai kenyataan. Di titik ini, media sosial tidak hanya mempresentasikan kehidupan, tapi juga melegitimasi kehidupan yang ditampilkan. 

Kita sering kali begitu mudah mempercayai apa yang terlihat di media sosial. Saat melihat unggahan teman yang tampak tertawa atau menikmati liburan, kita cenderung menganggap ia benar-benar sedang bahagia. Padahal, bisa saja unggahan tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kondisi yang sebenarnya. 

Dalam kajian komunikasi, fenomena ini dikenal sebagai konstruksi identitas digital. Jadi, individu bisa membentuk citranya sendiri sesuai yang ingin ditampilkan, bukan selalu yang sebenarnya. Melansir dari jurnal yang dipublikasikan oleh Universitas Diponegoro, media sosial memberi ruang bagi individu untuk secara aktif “mengatur” bagaimana dirinya ingin dilihat oleh orang lain. 

Pandangan tersebut sejalan dengan konsep hiperrealitas yang dikemukakan oleh Jean Baudrillard, yaitu gagasan bahwa batas antara realitas dan simulasi menjadi kabur. Apa yang awalnya hanya representasi bisa terasa lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Dalam konteks media sosial, kehidupan yang “dibentuk” justru bisa lebih dipercaya dibanding kehidupan asli yang tidak terlihat. 

Masalahnya, kita hidup di era yang serba cepat, termasuk dalam mengonsumsi informasi. Banyak orang memilih langsung mempercayai informasi tanpa melakukan verifikasi. Melansir Survei DailySocial yang dikutip oleh Kompas.com, hanya sekitar 55 persen masyarakat yang melakukan verifikasi informasi, sementara sisanya cenderung langsung percaya. Hasil riset menunjukkan hoaks paling banyak ditemukan di Facebook sebesar 82,25%, WhatsApp sebesar 56,55%, dan Instagram sebesar 29,48%.

Di sinilah siklus tersebut terbentuk. Seseorang membangun citra, mempublikasikannya, memperoleh validasi, lalu citra tersebut diterima sebagai kenyataan. Sementara audiens terus mengonsumsi. Pada akhirnya, media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Yang menentukan bagaimana realitas dipahami tetaplah penggunanya. Karena itu, bukan hanya cara seseorang membangun citra yang perlu dikritisi, tetapi juga kemampuan kita untuk berpikir kritis sebelum mempercayai apa yang terlihat di layar. 

Fresh Crew: Amelia Sri Agistiani/Suaka 

Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles