Project Hail Mary, Lebih dari Sekadar Film Fiksi Ilmiah

- Advertisement -
Doc.net

Judul Film: Project Hail Mary

Sutradara: Phil Lord, Christopher Miller

Produser: Phil Lord, Christopher Miller, Ryan Gosling, Rachel O’Connor, Amy Pascal, Aditya Sood, Andy Weir

Penulis Skenario: Drew Goddard

Sinematografer: Greig Fraser

Genre: Fiksi Ilmiah

Tahun Rilis: 2026

Durasi: 156 Menit

Perusahaan Produksi: Amazon MGM Studios

Pemeran: Ryan Gosling, James Ortiz, Sandra Hüller

FRESH.SUAKAONLINE.COM — Saat membuka aplikasi X, akun NASA membagikan foto bulan dan bumi yang dipotret dari ruang angkasa. Rupanya, empat astronot mereka baru saja menjalani Artemis II, misi terbang lintas bulan. Kepada Variety, para astronot mengungkapkan bahwa mereka menonton film Project Hail Mary beberapa saat sebelum roket mereka lepas landas.

Project Hail Mary adalah film yang diadaptasi dari novel terbitan 2021 berjudul sama karya Andy Weir. Di Indonesia, film ini tayang mulai 8 April 2026. Sementara itu, Artemis II memulai misinya pada 1 April 2026. Momentum tersebut menjadi kebetulan menarik yang ramai diperbincangkan warganet. Kembalinya manusia ke luar angkasa berbarengan dengan dirilisnya film fiksi ilmiah yang laris di pasaran. Lantas, bercerita tentang apakah Project Hail Mary itu?

Film non-linear ini dibuka dengan adegan seorang pria bernama Ryland Grace (Ryan Gosling) yang terbangun sendirian di sebuah pesawat luar angkasa tanpa mengingat identitas maupun alasan keberadaannya di sana. Grace tampak bingung, siapakah ia dan mengapa ia bisa ada di sini? Seiring berjalannya waktu, Grace mulai ingat bahwa ia adalah guru sains SMP yang ditugaskan untuk menjalani proyek Hail Mary. Hail Mary adalah proyek penyelamatan bumi dari astrophage, mikroba pemakan energi bintang yang diprediksi akan meredupkan cahaya matahari dalam 30 tahun ke depan.

Project Hail Mary tak hanya membawa penonton pada misi penyelamatan Bumi. Lebih jauh lagi, film ini mengangkat makna persahabatan melalui interaksi Grace dengan Rocky (disuarakan oleh James Ortiz), seekor alien cerdas yang bekerja sama dengannya untuk menghentikan penyebaran astrophage yang mengancam Matahari. Hubungan mereka menyadarkan penonton bahwa kepintaran saja tidak cukup, tetapi juga dibutuhkan empati dan kerja sama dalam menghadapi tantangan. Hubungan keduanya menjadi inti emosional film yang membedakan Project Hail Mary dari banyak film fiksi ilmiah lainnya. 

Salah satu kekuatan utama Project Hail Mary terletak pada kualitas audiovisualnya. Tata visual garapan Greig Fraser berhasil menghadirkan luasnya ruang angkasa dengan detail yang memanjakan mata, sementara tata suara dan musik karya Daniel Pemberton mampu membangun ketegangan sekaligus emosi di berbagai adegan. Pengalaman tersebut tentu terasa lebih maksimal ketika disaksikan melalui layar berformat besar seperti IMAX. 

Selain visual, penggunaan scoring juga menjadi salah satu kekuatan film ini. Musik karya Daniel Pemberton mampu mengikuti perubahan emosi cerita, mulai dari adegan penuh ketegangan hingga momen yang hangat bersama Rocky. Salah satu dialog yang paling membekas adalah ucapan “amaze, amaze, amaze!” yang memperkuat kedekatan hubungan kedua tokoh tersebut. 

Ryan Gosling tampil meyakinkan sebagai Ryland Grace. Ia berhasil menampilkan karakter ilmuwan yang cerdas, tetapi tetap dipenuhi keraguan dan sisi kemanusiaan. Pendekatan akting yang tenang membuat perkembangan karakter Grace terasa alami sepanjang film. 

Grace bukan sosok jenius yang serta-merta tahu segalanya, melainkan seorang pembelajar yang terus bergerak maju, meskipun ia menapaki jalan keraguan. Pendekatan inilah yang menjadikannya terasa manusiawi. Perjalanan karakter tersebut membuat konflik yang dihadapi Grace terasa lebih dekat dengan penonton. Project Hail Mary tak semata-mata mengisahkan misi penyelamatan dunia, juga berkisah tentang Grace yang menemukan harapan di tengah kemelutan.

Meski demikian, adaptasi film ini belum mampu memuat seluruh detail yang terdapat dalam novel aslinya. Beberapa penjelasan ilmiah yang cukup rinci dalam buku harus dipadatkan sehingga cerita terasa seperti versi ringkas dari novel setebal hampir 500 halaman tersebut. Akibatnya, penonton yang tidak terbiasa dengan konsep sains mungkin memerlukan perhatian lebih untuk mengikuti beberapa bagian cerita. 

Terlepas dari keterbatasan tersebut, Project Hail Mary tetap berhasil menghadirkan perpaduan cerita, visual, musik, dan akting yang seimbang. Film ini menawarkan pengalaman menonton yang emosional sekaligus menegangkan sehingga layak menjadi salah satu film fiksi ilmiah yang patut disaksikan tahun ini. Tidak mengherankan jika film ini diprediksi menjadi salah satu kandidat pada musim penghargaan mendatang. 

Fresh Crew: Hukma Shabiyya/Magang

Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles