Krisis Atensi Mahasiswa di Ruang Kelas 

- Advertisement -
Doc.net

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Fresh Reader mungkin sudah tidak asing melihat mahasiswa yang sibuk menatap layar ponsel saat proses pembelajaran berlangsung. Di tengah penjelasan dosen atau presentasi teman sekelas, tak sedikit mahasiswa justru lebih fokus melakukan scrolling media sosial dibanding menyimak materi. Pemandangan seperti ini kini menjadi hal yang lumrah ditemui di lingkungan kampus. 

Fenomena tersebut berkaitan dengan overstimulasi digital, yaitu kondisi ketika otak menerima terlalu banyak rangsangan dari media digital secara terus-menerus. Paparan konten singkat membuat otak terbiasa menerima informasi secara instan sehingga mahasiswa lebih mudah terdistraksi dan sulit mempertahankan fokus saat mengikuti perkuliahan. 

Menurut Dosen Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung, Putri Nabhani Nurany, penggunaan gadget saat pembelajaran telah menjadi kebiasaan yang umum di ruang kelas. Sebagaimana disampaikan oleh Putri, banyak mahasiswa hadir secara fisik, tetapi tidak sepenuhnya fokus terhadap proses belajar yang sedang berlangsung. “Ternyata memang mahasiswa itu enggak ingat dengan apa yang dibicarakan ketika mereka terlalu fokus bermain gadget saat pembelajaran berlangsung,” ujarnya saat diwawancarai suaka, Senin (4/5/2026).

Ia menjelaskan kebiasaan mengonsumsi konten video pendek membuat attention span mahasiswa semakin pendek. Otak menjadi terbiasa menerima informasi singkat sehingga sulit bertahan saat menerima penjelasan panjang di ruang kuliah. “Karena sudah terbiasa disuguhi informasi pendek, ketika ada informasi yang lebih panjang biasanya mereka menolak. Akhirnya fokus mahasiswa jadi pendek dan informasi yang didapat juga sedikit,” katanya.

Hal tersebut juga diakui oleh Mahasiswa Jurusan Psikologi, Naila Aurellia Putri.  Ia mengaku cukup sering membuka media sosial saat perkuliahan berlangsung, terutama ketika suasana kelas terasa membosankan atau presentasi dinilai kurang menarik. Menurutnya, penggunaan ponsel sering kali dilakukan untuk menghilangkan rasa jenuh agar tidak tertidur di kelas. “Kadang dosennya bikin ngantuk, jadi biar enggak tidur di kelas aku tetap buka HP sambil dengerin,” ungkapnya saat diwawancarai suaka, Senin (4/5/2026).

Meski begitu, Naila menyadari penggunaan gadget membuat fokusnya mudah buyar. Ia mengaku sering lupa materi setelah membuka media sosial meskipun sebelumnya sempat memahami penjelasan di kelas. “Pas megang HP dikit langsung buyar. Tadi padahal udah paham, terus buka HP bentar malah lupa lagi,” katanya. Kebiasaan scrolling juga membuatnya kerap menunda tugas hingga mendekati tenggat waktu.

Di sisi lain, Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, Moch. Satria Salim N.H. Ia memilih untuk tidak menggunakan gadget selama pembelajaran berlangsung. Baginya, fokus mendengarkan dosen maupun teman presentasi merupakan bentuk menghargai proses komunikasi di ruang kelas. “Saya selalu berpikir jangan sampai perjuangan kuliah jauh-jauh ke kampus cuma buat main HP. Kalau begitu mah di rumah juga bisa,” ujarnya saat diwawancarai suaka, Jumat (1/5/2026).

Satria menilai penggunaan gadget berlebihan membuat budaya kelas menjadi pasif. Ia mengaku pernah merasa culture shock melihat banyak mahasiswa lebih fokus pada layar ponsel dibanding diskusi di kelas. Menurutnya, kondisi tersebut bertentangan dengan prinsip komunikasi yang membutuhkan timbal balik antara komunikator dan komunikan. “Kadang teman presentasi seperti ngomong sendiri karena audiens lebih fokus ke gadget masing-masing,” ungkapnya.

Fenomena ini juga diperkuat dalam jurnal Benefit: Journal of Bussiness, Economics, and Finance yang menyebut penggunaan media sosial secara berlebihan dapat mengganggu konsentrasi, menurunkan efektivitas belajar, serta memicu kebiasaan multitasking yang berdampak pada rendahnya pemahaman materi akademik. Penelitian tersebut juga menjelaskan notifikasi media sosial dan kebiasaan scrolling menjadi distraksi utama mahasiswa dalam mempertahankan fokus belajar. 

Putri juga menyarankan mahasiswa mulai kembali membiasakan mencatat secara manual untuk melatih fokus dan proses kognitif saat belajar. “Mencatat itu terlihat sederhana, tapi sebenarnya membantu otak mengolah informasi lebih dalam,” tuturnya. Ia menjelaskan, proses menulis secara manual membuat otak mengolah kembali informasi yang diterima sehingga materi lebih mudah dipahami dan diingat.  

Di tengah derasnya arus digital, menjaga fokus di ruang kelas menjadi tantangan yang semakin nyata bagi mahasiswa. Gadget memang memberikan banyak kemudahan dalam proses belajar, tetapi penggunaannya perlu diimbangi dengan kemampuan mengendalikan distraksi. Dengan begitu, teknologi dapat menjadi penunjang pembelajaran, bukan justru mengurangi kualitas pemahaman terhadap materi yang dipelajari. 

Fresh Crew: Halya Ramadani /Magang

Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

Latest articles

Related articles