
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Seringkali kampus dijadikan rumah kedua bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas, menunggu jam mata kuliah, atau hanya sekedar berdiskusi. Namun masih sering kita jumpai mahasiswa yang mengerjakan tugas di dalam masjid, kantin, bahkan di koridor gedung. Rapat di lapangan parkir pun sudah menjadi hal lumrah. Hal ini menimbulkan satu pertanyaan: apakah kampus kekurangan tempat untuk berkumpul, mengobrol santai, hingga nugas bareng?
Fasilitas untuk berdiskusi dan belajar sebenarnya telah disediakan oleh kampus, seperti perpustakaan serta meja dan kursi panjang di dalam gedung kuliah. Namun, fasilitas yang disediakan dalam waktu terbatas membuat mahasiswa cenderung tidak leluasa saat menggunakannya. Sementara itu, bukan hal mudah untuk menemukan tempat alternatif yang memadai, tersedia dalam waktu lama, dan masih berada di dalam area kampus.
Kegiatan mahasiswa pasti tak lepas dari berkumpul untuk rapat organisasi atau sekadar menunggu jam matkul berikutnya. Mahasiswa semester 5 Jurusan Biologi, Dini Nurawaliyawati, merasa bahwa tempat-tempat kosong di Kampus 1 UIN Bandung kerap menjadi lahan parkir dan taman-taman kecil. Akibatnya, mahasiswa tak punya pilihan lain selain berkumpul di lahan parkir yang kebetulan sedang kosong. Padahal, Dini pun merasa bahwa lapang parkir bukan tempat yang pas untuk mengadakan rapat organisasi yang cenderung privasi.
“Kadang apalagi organisasi gitu itu punya privasi, ada hal yang emang gak perlu orang lain tahu. Sedangkan kalo uin itu di kelas, kan, gak bisa karena dipake kelasnya dan juga kalo malem selalu ditutup, kan, gedung, jadi dampaknya kita harus malah ke kafe dan itu mengeluarkan biaya lagi,” tutur Dini. Sepengalamannya, mahasiswa biasanya kesulitan mencari tempat nongkrong atau rapat setelah sore hari, karena pada waktu ini biasanya kegiatan belajar di kelas telah usai sehingga baru ada waktu kosong untuk berkumpul.
Melihat mahasiswa “berserakan” rapat di lapang parkir membuat Dini mengeluhkan kurangnya fasilitas nongkrong di UIN Bandung. Mahasiswa kerap mengatasi keterbatasan ini dengan rapat di Masjid Ikomah karena tempatnya cenderung tertutup. Namun, Dini pun cukup menyayangkan digunakannya masjid sebagai tempat nongkrong atau rapat karena sejatinya, masjid adalah tempat ibadah.
“Karena, kan, itu masjid gitu untuk tempat ibadah, jadi kayak kadang menurut aku gak etis aja. Tapi kita gak punya pilihan, meski masjid karena ya tempatnya yang luas dan emang worth it, bersihlah diduduki ataupun terlindungi dari hujan,” jelas Dini. Ia berharap agar ke depannya terdapat spot khusus berdiskusi agar mahasiswa bisa langsung berkumpul setelah matkul tanpa mencari-cari tempat kosong atau kafe.
Mirip dengan keresahan Dini, Mahasiswa semester 1 Jurusan Pendidikan Matematika, Alif Naufal Algebra, merasa kesulitan mencari tempat mengerjakan tugas. Bahkan, untuk sekadar nugas di gazebo dan kantin Kampus 2 UIN Bandung pun masih dirasanya terlalu berebut. “Menurut saya untuk tempat nugas di kampus terbatas, tidak seperti pada sekolah saya sebelumnya, seperti tidak ada tempat duduk, stopkontak yang kurang, dan suasana yang terlalu terbuka. Membuat nugas menurut saya kurang nyaman,” tutur Alif.
Bagi Alif, idealnya, terdapat bangunan khusus tempat nugas dengan meja dan kursinya disertai sejumlah stopkontak. Ketika tidak mendapat tempat kosong untuk nugas di area kampus, Alif dan teman-temannya memilih nugas di kafe. Namun, jika dilakukan terlalu sering pun dirasa menguras uang jajan mahasiswa.
“Yang pertama mungkin mahasiswa akan merasa tekor, karena harus mengeluarkan uang terus menerus untuk nugas bareng-bareng (di kafe). Yang kedua mungkin terdapat beberapa mahasiswa yang malah males untuk nugas bareng dan memilih masing-masing di rumah atau kos,” ungkap Alif.
Berkebalikan dengan Alif dan Dini, mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Haneefa Azka, menceritakan banyaknya tempat di kampusnya untuk nugas, diskusi, dan nongkrong. “Biasanya setiap gedung punya co-working space-nya sendiri. Banyak jenisnya, beda-beda, balik lagi tergantung gedungnya, kaya kalo di sisi barat tuh lebih modern, (Gedung) FTMD (salah satu fakultas di ITB) lebih fungsional. Gedung gue lebih memungkinkan buat ngelaprak, tergantung kebutuhan masing-masing fakultas,” ungkapnya.
Co-working space di area kampus ITB memang kerap penuh, namun penggunaannya tidak dikenakan biaya maupun dibatas waktu. Oleh karena itu, bahkan ketika tempatnya harus berebut pun tidak menjadi masalah yang berarti bagi Haneefa. Ia merasa tempat nugas dan berdiskusi di ITB sudah ideal, pun tak pernah terdengar keluhan mengenai fasilitas tersebut dari teman-teman sekampusnya. “Udah cukup nyaman, sih, menurut gue, ada Wi-Fi se-ITB raya, ada casan, deket tempat jajan,” jelas Haneefa.
Dalam penelusuran awak Suaka, diperkirakan terdapat sekitar 15 spot nongkrong di Kampus 1 dan 6 spot di Kampus 2.
Kampus 1:
- Kantin Merah
- Kantin Hijau
- Bagian belakang Gedung Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)
- Tempat duduk-duduk di sebelah gedung lama Fakultas Ushuluddin
- Taman Psikologi
- Perpustakaan
- Gazebo di depan Fakultas Dakwah dan Komunikasi (Dakom)
- Tempat duduk-duduk di belakang Gedung Dakom
- Cuanki Prof di samping Di Bawah Pohon Rindang (DPR)
- Sekitar pohon dan tangga di sisi selatan gedung kuliah Fakultas Syariah dan Hukum (Syarkum)
Kampus 2:
- Kantin Kampus 2
- Kantin Ushuluddin/Djati Mart
- Gazebo Gedung B Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK)
- Gazebo Gedung C FTK
- Taman Agro
- Taman Cinta
Keterbatasan area nugas dan nongkrong bagi mahasiswa baiknya tidak menjadi hambatan bagi kita untuk tetap produktif. Mengoptimalkan fasilitas yang tersedia, seperti perpustakaan dan Gedung Student Center, serta berdiskusi di kos teman dapat menjadi solusi hemat dan dekat untuk nugas dan diskusi.
Namun, mahasiswa tentu akan sangat mendukung jika kampus dapat lebih mengupayakan area khusus nugas dan diskusi, seperti menyediakan co-working space dan memperbanyakan gazebo, yang bisa digunakan untuk menunggu jam matkul dan rapat organisasi, serta memaksimalkan sarana dan durasi penggunaan perpustakaan universitas maupun fakultas. Pada akhirnya, jangan sampai keterbatasan mematahkan keseruan masa kuliah kita ya, Fresh Reader!
Fresh Crew: Farah Farihah dan Nabila Rahma Hidayat/Suaka
Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

