
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Menjelang pekan ujian atau tenggat waktu tugas, pemandangan mahasiswa yang terjaga hingga dini hari di sudut-sudut kosan menjadi hal yang lumrah. Fresh Reader mungkin juga sering menjumpai atau bahkan mengalami sendiri situasi ini. Fenomena yang dikenal sebagai Sistem Kebut Semalam (SKS) ini bukan lagi sekadar metode belajar darurat, melainkan telah bergeser menjadi kebiasaan yang dinormalisasi di lingkungan akademik.
Perubahan ritme ini tidak terjadi begitu saja. Banyak mahasiswa merasa masih punya cukup waktu di awal, sehingga tugas kerap dikesampingkan demi kegiatan lain seperti organisasi, kerja part time, atau sekadar beristirahat. Namun ketika beberapa deadline datang bersamaan, kepanikan mulai muncul. Dalam situasi itulah SKS dianggap sebagai solusi cepat meski sering berujung pada begadang, kelelahan, dan hasil yang kurang optimal.
Dilansir dari Jurnal Manajemen, Akuntansi, dan Ekonomi, SKS adalah strategi jangka pendek yang sering dipilih mahasiswa untuk menghadapi tekanan akademik. Berdasarkan teori Lazarus dan Folkman, SKS termasuk emotion-focused coping, yaitu strategi yang berfokus pada pengelolaan emosi, bukan pada pengelolaan sumber masalah. Meskipun terasa efektif dalam waktu singkat, kebiasaan ini dapat berdampak negatif dalam jangka panjang, seperti kelelahan, penurunan kualitas belajar, serta berkaitan dengan kebiasaan menunda pekerjaan.
Wakil Dekan I Bidang Akademik Fakultas Psikologi UIN SGD Bandung, Irfan Fahmi, mengatakan kebiasaan menunda tugas sering kali berawal dari adaptasi sesaat yang kemudian dinormalisasi. “Awalnya mungkin hanya karena kewalahan, tapi ketika merasa bisa dan nyaman, itu diulang terus sampai akhirnya jadi kebiasaan,” ujarnya ketika ditemui Suaka, Jumat (27/2/2026).
Menurutnya, belajar dalam waktu sangat singkat membuat informasi hanya tersimpan dalam memori jangka pendek. “Kalau dipaksakan masuk banyak dalam satu waktu, biasanya cepat masuk tapi cepat keluar juga, tidak sampai ke pemahaman mendalam,” jelasnya. Ia menilai kondisi tersebut membuat mahasiswa cenderung mengejar nilai, bukan memahami materi secara mendalam.
Mahasiswa tingkat dua Jurusan Biologi Murni, Rahma Fadilah, mengaku telah menerapkan SKS sejak bangku sekolah menengah dan kebiasaan itu terbawa hingga bangku kuliah. “Kalau sudah mepet deadline tuh rasanya malah ngalir ngerjainnya, walau sebenarnya tidak maksimal,” ungkapnya pada suaka, Selasa (24/2/2026).
Namun, ia juga merasakan konsekuensi fisik dan mental akibat kebiasaan tersebut. “Pernah sampai tidak tidur semalaman karena dua tugas deadline-nya berdekatan, besoknya pusing dan tidak fokus,” tuturnya. Rahma menyadari kebiasaan ini berdampak pada penurunan nilai dan berharap dapat perlahan mengubah pola belajarnya.
Berbeda dengan Rahma, mahasiswa tingkat dua Jurusan Ilmu Komunikasi Jurnalistik, Ramdan Maulana, memilih tidak menerapkan sistem kebut semalam. “Belajar bertahap lebih efektif karena ada proses pengulangan, jadi informasi lebih menempel,” ujarnya saat diwawancarai secara daring, Selasa (24/2/2026).
Ramdan mengaku memanfaatkan waktu luang untuk mencicil tugas agar tidak menumpuk. Ia pernah tergoda menerapkan SKS saat masa awal kuliah, namun ia menyadari metode tersebut justru memberatkan diri sendiri. “Sedikit demi sedikit tapi rutin itu lebih aman daripada dipaksakan sekaligus,” tambahnya.
Irfan Fahmi juga menekankan bahwa fenomena SKS tidak sepenuhnya disebabkan oleh mahasiswa. Menurutnya, faktor sistem akademik seperti penumpukan tugas dan kurangnya koordinasi antar dosen bisa turut memengaruhi. Meski demikian, ia menilai kemampuan manajemen waktu tetap menjadi kunci utama. “Pada akhirnya, waktu kita sama 24 jam. Tinggal bagaimana mengaturnya,” katanya.
Secara psikologis, strategi manajemen waktu yang lebih sehat dapat dilakukan melalui self-regulated learning (SRL), yakni kemampuan mengatur diri dalam proses belajar. Mahasiswa perlu mengenali waktu terbaik untuk fokus atau yang sering disebut sebagai best time. Dengan memahami ritme biologis masing-masing, proses belajar bisa lebih efektif tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Fenomena SKS menunjukkan bahwa tekanan akademik bukan hanya soal banyaknya tugas, tetapi juga tentang cara mahasiswa meresponsnya. Jika terus dinormalisasi, kebiasaan ini berisiko membentuk pola prokrastinasi yang berkelanjutan. Irfan Fahmi menutup dengan mengingatkan pentingnya konsistensi dalam melatih pengaturan diri. “Mengatur waktu itu memang harus dilatih. Tidak ada perubahan kalau tidak dicoba,” tutupnya.
Fresh Crew: Halya Ramadani/Magang dan Siti Nur Azizah/Magang
Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

