
FRESH.SUAKAONLINE.COM – Fresh Reader pasti tidak asing lagi dengan sistem tugas kelompok di bangku kuliah. Hampir setiap semester, mahasiswa akan bertemu dengan model pembelajaran kerja kelompok, entah dalam bentuk presentasi, makalah, proyek kreatif, sampai diskusi kelas. Di lingkungan UIN SGD Bandung, metode ini juga masih jadi andalan dalam proses perkuliahan.
Tugas kelompok sebenarnya dirancang untuk melatih kerja sama, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis. Namun, di lapangan, praktiknya sering kali tidak berjalan ideal. Ada mahasiswa yang aktif dan bertanggung jawab, tapi ada juga yang sekadar “numpang nama”. Fenomena ini yang kemudian memunculkan pro dan kontra di kalangan mahasiswa sendiri.
Mahasiswa jurusan Jurnalistik, Irene Desliana, menilai efektivitas tugas kelompok sangat tergantung pada anggota di dalamnya. Menurutnya, ketika semua punya inisiatif dan mau bekerja sama, tugas kelompok bisa terasa ringan dan produktif. “Kalo misalnya anggota kelompoknya punya inisiatif tinggi, itu sangat efektif dari kita kerja sama bagus, terus kita ga kerja sendirian, jadi sama-sama belajar,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (5/3/2026).
Dalam praktiknya, pembagian kerja dalam tugas kelompok tidak selalu berjalan seimbang. Ada anggota yang mengerjakan porsi lebih besar karena anggota lain kurang aktif berkontribusi. Situasi seperti ini memunculkan pertanyaan mengenai efektivitas sistem kerja kelompok. Dibandingkan tugas mandiri, tanggung jawab dalam tugas kelompok lebih bergantung pada partisipasi seluruh anggota.
Hal serupa disampaikan Mahasiswa Ilmu Hadits UIN SGD Bandung, Risfa. Ia menilai efektivitas tugas kelompok berada di angka enam dari sepuluh. Menurutnya, kendala terbesar biasanya ada pada komunikasi dan perbedaan pemahaman. “Kadang dari lima orang, Cuma dua atau tiga yang benar-benar kerja, jadi pembelajaran kelompok itu tidak terlalu efektif karena ada beberapa orang yang beda isi pemikiran, segi pekerjaan, ada yang membebankan,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (26/2/2026)
Di sisi lain, kerja kelompok ternyata memiliki potensi positif dalam proses pembelajaran. Diskusi antar anggota memungkinkan pertukaran sudut pandang karena setiap mahasiswa memiliki latar belakang dan cara berpikir yang berbeda. Komposisi kelompok yang terdiri dari beragam tingkat kemampuan juga dapat mendukung proses saling belajar, terutama bagi mahasiswa yang masih membutuhkan pemahaman lebih terhadap materi.
Menanggapi hal ini, Dosen Psikologi UIN SGD Bandung, Mutiara Citra Mahmuda, menjelaskan bahwa efektivitas tugas kelompok sangat bergantung pada desain serta proporsi anggotanya apakah muncul potensi free rider atau tidak. “Misalnya dalam satu kelompok tugasnya cukup sederhana, seperti pembagian materi lalu membuat PowerPoint (PPT). Jika tekniknya seperti itu dan anggotanya terlalu banyak, kemungkinan munculnya free rider tentu akan ada,” ujarnya saat diwawancarai, Kamis (5/3/2026).
Menurut Mutiara, tugas kelompok bisa menurunkan pemahaman jika tidak dirancang dengan jelas. Ketika cenderung menggunakan Artificial Intelligence (AI), mahasiswa seringkali hanya fokus menyelesaikan tugas tanpa benar-benar memahami makna. “Pasti mahasiswa menggunakan AI. Akhirnya bukan berarti kita tidak boleh sama sekali terpakai AI, tapi kita memanfaatkan AI, dan tidak lupa juga supaya mahasiswa tetap melalui daya nalarnya,” ucapnya.
Ia juga menyarankan agar dosen memastikan pembagian peran yang transparan serta penilaian berbasis partisipasi individu, agar pemberian feedback setiap mahasiswa bisa terlihat dan dinilai secara adil. “Untuk meningkatkan kompetensi akademik, tentunya dosen perlu sumber belajar, itu biasanya kita sediakan dulu sumber belajar yang jelasnya, supaya mahasiswa tidak bingung bagaimana mereka mau belajar sumber apa, lalu diarahkan,” tutupnya.
Secara akademik, konsep pembelajaran kooperatif memang telah banyak diteliti. Dalam jurnal Active Learning in Higher Education, menjelaskan bahwa cooperative learning efektif meningkatkan pemahaman dan keterampilan sosial jika disertai akuntabilitas individu serta struktur interaksi yang jelas. Artinya, masalah bukan terletak pada kerja kelompoknya, melainkan pada sistem dan pengawasannya.
Melihat berbagai pandangan tersebut, tugas kelompok sebenarnya memiliki potensi besar sebagai sarana belajar kolaboratif. Melalui kerja sama, mahasiswa dapat saling bertukar ide, melatih komunikasi, serta membangun kemampuan menyelesaikan masalah secara bersama. Namun tanpa pengaturan yang jelas, transparansi kontribusi, serta evaluasi individu yang adil, metode ini berisiko berubah menjadi beban bagi sebagian mahasiswa.
Bagi Fresh Reader yang sedang menjalani perkuliahan, pengalaman ini mungkin terasa sangat dekat. Karena itu, kuncinya bukan sekadar memilih antara tugas kelompok atau tugas mandiri, melainkan bagaimana keduanya dapat berjalan seimbang. Dengan pembagian peran yang jelas dan rasa tanggung jawab bersama, proses belajar tidak hanya menjadi lebih adil, tetapi juga lebih bermakna bagi semua pihak.
Fresh Crew: Fitri Awaliyah/Magang & Sina Mardiyah/Magang
Editor Fresh: Nabila Rahma Hidayat/Suaka

