Kenali Mindless Scrolling, Kebiasaan yang Diam-Diam Menguras Mental

- Advertisement -
doc.net

FRESH.SUAKAONLINE.COM – Meski sudah terkantuk-kantuk, entah mengapa, tanganku enggan berhenti menggulirkan layar ponsel di aplikasi video ini. Sejak putus sebulan yang lalu, kegiatan yang paling membuat aku setidaknya merasa kembali hidup ya scrolling di aplikasi video. Meskipun menonton video pendek dengan perasaan campur aduk, tapi video yang aku tonton mampu mencerminkan perasaanku.

Tanpa sengaja mataku menatap sisi kiri atas layar ponsel, sudah pukul 21.00, waktu yang tepat untuk tidur sepertinya. Tapi keinginanku untuk tidur seketika menghilang setelah video random dari dalam maupun luar negeri silih berganti di layar ponselku. Mataku masih menatap layar dengan sendu, sementara tanganku terus menggulirkan video. Di balik itu, pikiranku justru melayang pada momen-momen bersama mantan pacarku.

Perasaan sesak pun menggerogotiku, bertepatan dengan tayangan tentang perjuangan seorang ayah dalam mencari nafkah. Air mataku tumpah tak tertahankan. Sembari menangis, tanganku melanjutkan aktivitas scrolling kemudian disambut dengan berbagai video yang menyedihkan dan membuat aku kesulitan menghentikan tangisanku. Jariku terhenti pada sebuah video mengenai edukasi digital, tema dari video itu adalah mindless scrolling vs mindfulness scrolling. “Hmmm topik yang menarik,” gumamku, dan tidak sengaja terlelap ketika mendengarkan videonya.

Halo Fresh Reader! Pernah mengalami kejadian seperti tokoh “Aku” atau udah jadi hobi nih kebiasaan scrolling tanpa tujuan sampe ketiduran? Kebiasaan itu punya istilah kerennya loh yakni mindless scrolling, istilah ini muncul akibat dari maraknya fenomena Short Form Videos (SFV) atau format video yang umumnya memiliki durasi 5-90 detik.

Berdasarkan Jurnal Komunikasi Visual, mindless scrolling merupakan kondisi dimana pengguna media sosial terus-menerus melakukan scrolling untuk menonton SFV hampir tanpa kesadaran dan perhatian. Apabila dihubungkan dengan kecanduan media sosial, mindless scrolling muncul akibat adanya peran dopamin neurotransmiter, sang pembawa hormon bahagia, yang ikut terlibat dalam proses penghargaan dan motivasi dalam penggunaan media sosial.

Penelitian dalam Journal of Computer-Mediated Communication, menyebutkan bahwa mindless scrolling menggambarkan adanya pengalaman “disosiatif” yang membuat pelakunya akan tersadar bahwa mereka membuang waktu. Penelitian tersebut mencoba menggambarkan mindless scrolling sebagai sebuah pengalaman dibandingkan jenis perilaku. Hal ini dikarenakan akibat dari mindless scrolling biasanya memunculkan rasa bersalah pada pengguna media sosial yang menjadi pelakunya. Pertanyaannya, kok bisa ya manusia merasa bersalah ketika melakukan hal yang menurut dia menyenangkan?

Walaupun menyebabkan perasaan bersalah, mindless scrolling bisa dijadikan sebagai coping mechanism loh! Mahasiswa Jurusan Bimbingan Konseling Islam, Jihan Ierene bercerita kepada Suaka bahwa kebiasaan scrolling yang dilakukannya dijadikan sebagai coping dari perasaan yang tidak baik-baik saja. Hal ini disebabkan karena tidak adanya keberanian Jihan untuk menghadapi perasaan negatifnya. “Ketika aku lagi takut, stress, atau kecewa. Nah aku tuh cenderung mengalihkannya dengan scrolling. Karena aku tuh enggak berani untuk merasakan emosi itu. Enggak nyaman,” ujarnya, Senin (1/12/2025).

Apabila ditelaah melalui kacamata konseling, mindless scrolling merupakan kebiasaan manusia yang memang sudah menjadi bagian dari keseharian manusia. “Setiap manusia pasti pernah ngerasa iseng nih, gabut, pasti sering melakukan hal-hal yang enggak ada manfaatnya cuman iseng aja. Jalan-jalan ke Pasar Baru, cuman lihat-lihat aja tanpa belanja, itu termasuk mindless. Kalo dihubungkan dengan kebiasaan scrolling sih itu kaitannya sama penggunaan media digital. Apakah akan dimanfaatkan atau jadinya hanya spend our time,” ujar Dosen Bimbingan Konseling Islam (BKI) UIN Bandung, Devi Eryanti.

Konseling juga memandang mindless scrolling sebagai keadaan dimana seseorang tidak tahu apa yang diinginkan ketika berselancar di media sosial. Keadaan tersebut biasanya dialami ketika seseorang berada di kondisi stres atau kondisi you don’t know what to do. Untuk mengatasi permasalahan mindless scrolling ini harus diawali dengan memahami apa yang sebenarnya diinginkan, yakni sadar apa yang sedang dibutuhkan.

Fresh Reader pernah dengar istilah mindfulness? Tau enggak sih kalau mindless scrolling itu bisa diatasi dengan mindfulness scrolling loh. Penelitian dalam Journal of Technologies and Humanitarian Science, memaknai mindfulness scrolling sebagai sebuah kebiasaan yang mendorong seseorang berinteraksi dengan konten digital secara lebih sadar, terarah, dan penuh pertimbangan.

“Gimana tuh caranya? Misalkan kamu lagi stres atau galau tentang keuangan. Akhirnya kamu scrolling tentang gimana caranya dapet income. Jadi kuncinya kamu harus sadar kalo kamu lagi stres atau galau, kemudian kamu fokus ke hal-hal yang sekiranya bisa mengurangi atau menghilangkan stres atau galau kamu bukan ke penyebabnya,” jelas Devi pada Suaka, Selasa (14/11/2025).

Berdasarkan salah satu pendekatan konseling, mindless scrolling dapat diatasi menggunakan salah satu metode dalam pendekatan behavioral. Meskipun pada praktiknya, pendekatan psikologi maupun konseling tetap disesuaikan dengan individunya. “Dalam proses konseling menggunakan pendekatan behavioral, mindless scrolling dapat diatasi menggunakan metode reward and punishment, dengan tetap memusatkan proses konseling pada dirinya sendiri. Sebab kebiasaan mindless scrolling hanya bisa diatasi oleh pelakunya sendiri. Karena yang tau kegiatan kita ya diri sendiri,” jelas Devi.

Terdapat beragam tips untuk mengatasi mindless scrolling dengan mindfulness scrolling yang disampaikan Devi sebelum menutup perjumpaannya dengan Suaka. Tips yang pertama, mengontrol diri dalam menggunakan media digital. “Sebenarnya ini agak tricky, karena kalau kita ngomongin antara mindfulness sama mindless itu sering ketuker. Kayak misal udah niat mau mindfulness eh malah jadi mindless, jadi kamu harus bisa mengontrol diri kamu sendiri biar bisa fokus sama tujuan melakukan scrolling-nya.

”Kedua, memasang alarm untuk mengingatkan mengenai screen time sebagai bentuk memagari diri agar tidak terlalu over dalam menggunakan media sosial. Selain menentukan screen time, ada baiknya ketika hendak scrolling memahami tujuannya dulu, apakah hendak bersenang-senang saja atau mendapatkan ilmu baru. Ketiga, tidak selalu beraktivitas menggunakan media sosial dan mencoba menggapai kebahagiaan di dunia nyata apabila sedang stres atau galau.

“Orang itu banyak menemukan happiness di media sosial, tapi di kehidupan nyatanya kayak hampa atau kosong gitu. Jadi seakan-akan kebahagiaan yang didapatkannya itu kebahagiaan semu. Maka dari itu, kasih waktu ke diri kita dengan memperbanyak aktivitas di luar media sosial, kalaupun mau scrolling for fun and everthing, boleh aja, tapi you have to know your limit,” Devi menutup pertemuannya dengan Suaka.

Emang kenapa sih harus mengatasi kebiasaan mindless scrolling? Mengutip idntimes.com, mindless scrolling itu bisa membuat candu dan terlalu meningkatkan hormon dopamin. Sehingga apabila sudah mencapai ambang kepuasan, maka seseorang akan kesulitan untuk memenuhi kadar dopaminnya dan harus terus melakukan scrolling hingga terpenuhi kadarnya.

Kemudian, mindless scrolling pun dapat merusak kualitas tidur, melemahkan kemampuan untuk berkonsentrasi karena otak tidak memiliki cukup waktu untuk mencerna seluruh informasi dengan cepat. Selain itu mindless scrolling dapat mempengaruhi kesehatan mental maupun fisik pelakunya. Sehingga Fresh Reader, kalau masih melakukan kebiasaan seperti tokoh “Aku” segera perbaiki ya dengan mengikuti tips-tips yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Fresh Crew: Intan Nurfatimah/Suaka

Editor Fresh: Hanifah Flora Reine/Suaka

Latest articles

Related articles